Kemiskinan Kota Semarang dan Karakteristiknya

1
265

Oleh : Retno Dian Ika Wati, S.ST, M.M

Salah satu bukti keberhasilan dalam pembangunan adalah pengendalian masalah kemiskinan. Namun sampai saat ini kemiskinan masih tetap menjadi permasalahan klasik multidimensi karena di dalam masalah kemiskinan terkandung permasalahan ekonomi, kualitas sumber daya manusia, kesehatan, pendidikan serta keterbatasan akses terhadap pemenuhan kebutuhan pokok sehingga upaya penanganannya juga harus bersifat multi dimensi. Banyak sekali faktor yang menyebabkan kemiskinan dimana faktor faktor tesebut bagaikan lingkaran setan yang terus berputar tanpa ada ujungnya.

Secara konseptual, kemiskinan terbagi menjadi dua macam berdasarkan standar penilaiannya. Pertama, Kemiskinan Relatif. Standar penilaian kemiskinan relatif merupakan standar kehidupan yang ditentukan dan ditetapkan secara subjektif oleh masyarakat setempat dan bersifat lokal, serta mereka yang berada di bawah standar penilaian tersebut dikategorikan miskin secara relatif.

Kemiskinan relatif merupakan kondisi miskin karena pengaruh kebijakan pembangunan yang belum mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat sehingga menyebabkan ketimpangan pada distribusi pendapatan. Standar minimum disusun berdasarkan kondisi hidup suatu negara pada waktu tertentu dan perhatian terfokus pada golongan penduduk “termiskin”, misalnya 20 persen atau 40 persen lapisan terendah dari total penduduk yang telah diurutkan menurut pendapatan/pengeluaran. Kelompok ini merupakan penduduk relatif miskin. Garis kemiskinan relatif tidak dapat dipakai untuk membandingkan tingkat kemiskinan antarnegara dan antarwaktu, karena tidak mencerminkan tingkat kesejahteraan yang sama.

Kedua, Kemiskinan Absolut. Standar penilaian kemiskinan secara absolut merupakan standar kehidupan minimum yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar yang diperlukan, baik makanan maupun non makanan. Standar kehidupan minimum untuk memenuhi kebutuhan dasar ini disebut sebagai garis kemiskinan.

Garis kemiskinan absolut nilainya tetap dalam hal standar hidup, sehingga garis kemiskinan absolut mampu membandingkan kemiskinan secara umum. Garis kemiskinan absolut sangat penting jika seseorang akan mencoba menilai efek dari kebijakan anti-kemiskinan antarwaktu, atau memperkirakan dampak dari suatu proyek terhadap kemiskinan (misalnya, pemberian kredit skala kecil, dll).

BPS menggunakan konsep kemiskinan absolut ini melalui pendekatan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran.

Badan Pusat Statistik Kota Semarang mencatat bahwa Garis Kemiskinan (GK) penduduk Indonesia pada Maret 2018 sebesar Rp 427.511/kapita/bulan. Artinya angka tersebut merupakan batas minimum pendapatan yang harus dipenuhi untuk memperoleh standar hidup, baik untuk kebutuhan makanan dan nonmakanan di suatu wilayah. Jika di bawah angka tersebut maka masuk kategori penduduk miskin.

Jika rata rata setiap satu rumah tangga miskin di kota semarang memiliki 5 anggota rumahtangga, maka pengeluaran rumahtangga untuk memenuhi standar hidup mencapai RP 2,13 juta/rumahtangga miskin/bulan. Jika kurang dari itu maka masuk kategori rumahtangga miskin.

Dengan garis kemiskinan sebesar itu, jumlah penduduk miskin di kota semarang tahun 2018 ada sebesar 73,65 ribu jiwa (4,14 persen) berkurang sebesar 7,22 ribu orang dibandingkan dengan kondisi Maret 2017 yaitu sebesar 80,86 ribu orang (4,62 persen). Secara kuantitas, jumlah penduduk miskin menunjukkan tren menurun dari tahun ke tahun, dimana ketika tahun 2014 jumlah penduduk miskin kota semarang mencapai 64,68 ribu jiwa (5,04 persen). Sehingga usaha pemerintah dalam mengurangi jumlah penduduk miskin di Kota Semarang patut diacungi jempol.

Namun, membicarakan masalah kemiskinan tidak bisa sekedar melihat jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan karena kebijakan pemerintah selain harus mampu memperkecil jumlah penduduk miskin, juga harus bisa mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan.

Meskipun jumlah penduduk miskin  Kota Semarang Maret 2018 menurun, indeks kedalaman kemiskinan justru meningkat dari 0.54 di tahun 2017 menjadi 0.58 di tahun 2018. Peningkatan indeks kedalaman kemiskinan menggambarkan bahwa rata rata pengeluaran penduduk miskin semakin menjauh dari garis kemiskinan yang berarti bahwa diperlukan usaha yang lebih besar untuk mengangkat mereka dari kemiskinan.

Sementara itu, indeks keparahan kemiskinan Maret 2018 sebesar 0,12, dan relatif stabil dibandingkan Maret 2017. Indeks Keparahan Kemiskinan memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeks, semakin tinggi ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin dan berarti pula semakin parah tingkat kemiskinannya.

Manfaat yang bisa diperoleh dua indikator tersebut diketahui adalah bagi pembuat kebijakan, dalam hal ini pemerintah, akan sangat terbantu dalam alokasi dana dan program. Pemerintah bisa menyalurkan dana secara tepat guna serta menyusun program yang efektif dan pemerintah dalam usahanya mengentaskan kemiskinan harus melakukan pendekatan pertisipatif yaitu melibatkan masyarakat dalam pembuatan kebijakan berbasis pembangunan

Apabila dibandingkan karakteristik rumahtangga miskin dan tidak miskin dikota semarang, rumahtangga miskin disemarang rata rata terdiri dari 5 orang anggota rumahtangga sedangkan rumahtangga tidak miskin rata rata terdiri dari 3 anggota rumahtangga saja. Jumlah anggota rumah tangga adalah salah satu indikasi yang dominan dalam menentukan miskin atau ketidak-miskinan suatu rumah tangga. Bertambah besarnya jumlah anggota rumah tangga maka bertambah besar pula  kecenderungan menjadi miskin.

Dari seluruh rumahtangga miskin 2.76 persen diantaranya memiliki kepala rumahtangga perempuan sedikit lebih tinggi dibandingka rumahtangga tidak miskin yaitu sebanyak 19.72 persen. Beberapa fakta menunjukkan bahwa rumahtangga yang dikepalai perempuan lebih rentan terhadap kemiskinan dan perempuan single parent sangat dekat dengan kemiskinan. Hal tersebut diungkapkan dari beberapa penelitian di berbagai negara antara lain di India yaitu studi oleh Meenaksidan Ray (2002), Aliber (2001) dari Afrika Selatan, Muyanga (2008) di Kenya dan juga penelitian yang dilakukan Word Bank (2001) di Hungaria yang menyimpulkan bahwa rumahtangga yang dikepalai perempuan diasosiasikan dengan tingginya angka kemiskinan jangka panjang.

Kemudian jika dilihat dari segi pendidikan, 59,63 persen kepala rumahtangga miskin berpendidikan SD ke bawah. Salah satu tujuan MDGs pada adalah menargetkan pendidikan untuk semua (Education For ALL)dimana laki laki dan perempuan dapat menyelesaikan pendidikan dasar, sehingga dalam pengentasan kemiskinan harus mengarah pada aspek pendidikan atau Human Capability

Tidak dapat dipungkiri, telah banyak upaya dilakukan pemerintah dalam menanggulangi masalah kemiskinan ini, salah satunya adalah dengan pemberian bantuan sosial. Tahun 2018 tercatat rumahtangga miskin penerima progran Bantuan Pangan Non Tunai (BNPT) ada sekitar 25,07 persen, kemudian penerima Program Keluarga Harapan (PKH) ada sekitar 27,49 persen. Dan 99,49 persen sudah menerima Kartu Keluarga Sejahtera (KKS).

Namun yang masih harus mendapat perhatian adalah masih adanya rumahtangga tidak miskin yang mendapatkan bantuan sosial seperti Bantuan Pangan Non Tunai (BNPT) yaitu sekitar 7,59 persen, bantuan PKH sekitar 2,48 persen dan juga tingginya penerima KKS pada rumahtangga tidak miskin yaitu mencapai 98,15 persen.

Problem utama dari penyaluran bantuan sosial adalah ketepatan sasarannya baik dari sisi alokasi penerima maupun besaran manfaatnya. Langkah pemerintah dalam menentukan penerima manfaat yang berasal dari database bersama sudahlah tepat, mungkin yang perlu ditambahkan adalah adanya pemutahiran data dua arah antara database dan data penerima bantuan.

Penulis, pegawai Badan Pusat Statistik Kota Semarang

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here