Penghargaan Kejujuran Puasa

0
92

Oleh: H Multazam Ahmad

Sekretaris MUI Jawa Tengah

Ketua Takmir Masjid Raya Baiturrahman Jawa Tengah

          BULAN puasa kembali hadir menyeruak di tengah krisis kepercaan dan kelemahan daya saing bangsa di berbagi segi. Sejak awal melaksanakan puasa,  para dai tiada henti selalu menasihati kita agar selalu bersikap jujur.Tanpa terkecuali orang tua kita dulu juga menasihati kepada anak-anak ketika sedang berpuasa agar  selalu jujur.

Nasihat ini amat sangat penting,bukan saja karena kita sering melakukan tidak jujur dalam perkataan,tingkah laku, dan bekerja,tetapi karena kejujuran itu merupakan salah satu ajaran islam yang akan mengantarkan kita meraih kebaikan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Hal ini seperti yang disabdakan Rasulullah SAW,” sesungguhnya sifat sidiq ( jujur) itu membawa kepada kebaikan dan kebahagiaan.”  ( HR.Bukhari)

         Dalam Alquran dijelaskan bahwa orang-orang yang jujur akan memeroleh nikmat yang besar dan akan dijamu oleh Allah swt bersama –sama para nabi,syuhada, serta orang –orang saleh ”. Dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya”.( An-Nisa’ : 69).

Oleh karena itu, Allah SWT menyuruh kita agar selalu bersama orang-orang yang jujur”. Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”.(At-Taubah :119).

        Ada conntoh yang sangat hiroik dari sifat kejujuran  ini, sebagaimana yang dikisahkan dalam sebuah riwayah tentang seorang wanita Al- Ghamidiyah menghadap Rasulullah SAW, “ ya Rasulullah, bahwa saya telah melakukan berzina, karenanya aku  meminta agar segera dilaksanakan hukuman rajam dan siap menghadapi sangsi. Menanggapi kejujuran wanita tersebut, Rasulullah saw menyampaikan penghargaan yang sangat tinggi kepadanya dengan bersabda, “ Jika iman wanita ini ditimbang dengan iman seluruh penduduk Madinah,maka masih berat timbangan iman wanita tersebut.”   

        Penghargan Rasulullah SAW atas kejujuran wanita tersebut  merupakan gambaran kongkrit betapa mahalnya sebuah kejujuran dan tidak semua orang mampu untuk berbuat kejujuran. Bagaimana kejujuran dengan puasa kita? Ramadan hadir untuk melatih diri kita agar menjadi manusia yang muttaqin, manuia yang baik dan bertanggung jawab.

Inilah yang diharapkan oleh Allah SWT, ” Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” ( Al Baqarah : 183).

          Menurut Ibn al-Qayyim al-Jauziah,ada tiga aspek  kejujuran dalam diri kita. Pertama, perkataan (aqwal) yang benar. Dalam perkataan yang jujur atau benar ( as-sidq) berarti adanya penyesuaian perkataan dengan hati nurani dengan kenyataan atau realita. Hal ini membutukan latihan yang berkelanjutan. Di bulan puasa ini mengingtakan kita untuk dapat menjaga perkataan yang baik,bukan malah sebaliknya seperti ungkapan dalam bahasa jawa “esuk tahu sore tempe”, artinya tidak konsisten dalam ucapan.

Kedua, perbuatan ( af’al)  artinya, konsistensi antara perbuatan dan perintah Allah SWT serta Sunah Rasul. Dalam kehidupan kita diluar ramadan, sering menampakan perilaku yag tidak baik karena didominasi nafsu amarah yang sering menyetir keinginan manusia melakukan perbuatan yang tidak baik. Nafsu amarah selalu ada pada diri manusia sesuai dengan kapasitasnya. Tugasnya nafsu hanya satu yakni, mendorang agar manusia lupa pada Allah SWT. Manusia diperbudak oleh materialis yang pada giliranya akan merusak sendi-sendikehidupanseperti,melakukan korupsi,keidakadilan,ketidakpedulian, dan tidak ada kasih sayang sesama.

                Ketiga,sikap mental (ahwal) yaitu komitmen dan kesetiaan seseorang dalam bekerja dan beribadah kepada Allah SWT. Fitrah manusia yang ada pada dirinya adalah ingin selalu berbuat baik seperti, suka membantu orang lain , suka bersedekah, memberi makan , kasih sayang, seperti yang nampak di bulan suci ramadan ini merupakan kesetiaan kepada Allah SWT.

            Kesalehan rohani dan sosial tersebut, bermaksud untuk mendapatkan rahmat Allah SWT. Semua berlomba –lomba menebar kebaikan kepada sesama. Untuk mendapat rahmat  dibulan suci ini, selain melalui ibadah shaum, juga bisa dilakukan dengan bentuk yang lain,yaitu dengan menebar rahmat Allah SWT yang ada pada diri kita. Nabi Muhammad SAW bersabda,”Orang-orang yang komitmen dan penyayang pasti akan disayangi Allah. Oleh karena itu sayangilah penduduk bumi,niscaya engkau akan disayangi oleh penghuni langit”.( HR Abu Daud)

        Hadist diatas,jika kita semua menginginkan untuk mendapatkan rahmat Allah SWT, khususnya dibulan suci ini ,hendaklah kita menebar rahmat Allah yang ada pada diri kita kepada makhluk yang ada dimuka bumi ini. Ketika kita memberi makan kepada orang yang kelaparan dan memuliakan anak-anak yatim serta di barengi dengan membantu orang miskin,itulah hakikatnya kita meraih rahmat Allah SWT.

         Setiap orang pasti ingin mendapatkan penghargaan ( reward) setiap apa yang dilakukan. Allah SWT menjajikan pahala kepada hambanya  bagi setiap orang untuk beramal saleh.Lantas, apa penghargaan bagi seorang hamba yang melakukan puasa yang disertai dengan kejujuran?

       Allah SWT memberi penghargaan yaitu berupa ampunan yang diabadikan dalam al-Quran. “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”.(at-Taubah :119)

Derajat ampunan tanpa syarat (maghfirah) merupakan pemberian Allah SWT yang paling tinggi setelah pengampunan bersyarat (a’fwan). Tentunya pengampunan Allah diberikan bagi hamba yang didahului dengan pertobatan dengan penuh kejujuran. Puasa ramadan merupakan momentum untuk meraih ampunan Allah SWT.  

         Ini semua memberi gambaran kepada kita semua bahawa puasa dengan penuh kejujuran, ada korelasi positif antara komitmen yang benar dan perilaku yang benar dengan kesuksesan dan kebahagiaan seorang hamba.  Nabi Muhammad SAW dalam hadist shahih ( Bukhari Muslim) bersabda,”Kejujuran yang benar akan membawa manusia kepada kebajikan,sedangkan kebajikan akan mengantarkan serta menuntunya ke surga”. Semoga ada manfaat.Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here