Puasa, Kejujuran, dan Kedisiplinan

0
234

Oleh H Ahmad Rofiq, Wakil Ketua MUI Jawa Tengah

       AlhamduliLlah wa sy-syukru liLlah. Puji dan syukur hanya milik Allah. Mari kita syukuri naugrah dan kasih sayang Allah yang telah kita terima. Pasti kita tidak mampu menghitungnya. Kita tidak meminta, tetapi Allah banyak memberi. Sebaliknya, banyak yang kadang kita inginkan, tetapi Allah belum memberinya. Karena Allah lah yang Maha Mengetahui akan kebutuhan kita.

       Shalawat dan salam mari terus kita lantunkan, mengiringi Allah san para Malaikat yang senantiasa bershalawat pada Baginda Rasulullah Muhammad saw. Semoga meluber untuk keluarga, sahabat, dan para pengikut yang senantiasa berusaha untuk meneladani beliau. Insyaa Allah semua urusan kita dimudahkan oleh Allah, dan kelak di akhirat kita akan mendapat syafaat beliau.

       Saudaraku, puasa secara bahasa al-imsak artinya menahan diri. Para Ulama mendefinisikan, puasa adalah menahan diri dari makan, minum, hubungan suami isteri, dan hal lain yang membatalkan puasa dari fajar shadiq hingga terbenam matahari. Kira-kira 14 jam untuk kaum Muslim di daerah tropis. Ada saudara kita yang puasanya sampai 19 jam. Namun karena ibadah puasa ini merupakan ibadah yang menguji kejujuran, maka rintangan, cobaan, dan godaan apapun, semua akan berlalu saja, dan tidak berpengaruh pada pelakunya.

      Kejujuran ini adalah inti dari keimanan seorang hamba kepada Allah. Dalam bahasa Rasulullah saw, “laa imaana li man laa amaanata lahu” artinya “tidaklah ada iman (bagi seseorang) yang tidak bisa dipercaya baginya”. Orang yang berpuasa ia akan selalu dalam kesadaran penuh untuk menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan puasanya. Sebagai pekerja kantor, apalagi pejabat, yang dalam ruangan ia sendirian, ber-AC, di kulkas tersedia teh, kopi, susu, dan makanan lainnya, tak ada CCTV, ia merasa nyaman dengan puasanya, tidak tergoda untuk mengambilnya. 

       Kata Fakhrur Rozi (2019), “ada orang yang gagah, pejabat, yang dengan “bangganya”, makan, minum, merokok, dan lain sebagainya”. Kala ditanya, “mengapa Anda tidak berpuasa, bahkan merokok, makan, dan minum”? Dengan enaknya ia menjawab : “Hati saya puasa, tetapi jasmani saya tidak mampu. Karena itu, saya merokok, makan dan minum”. Bahkan ia mengatakan, “fikiran Anda belum nyampai (nyandak)”. 

 Ketika ditanya dengan nada agak marah, bahkan “ditempeleng”balik bertanya, “kenapa Anda menempeleng saya”, dijawab: “Saya niatnya mengelus pipi Anda, berarti ilmu Anda belum sampai untuk memahami antara niat dan tindakan saya untuk mengingatkan Anda”. 

       Saudaraku, sejatinya puasa memang menguji kejujuran dan keikhlasan. Banyak orang yang pekerjaan sehari-harinya sangat berat, seperti tukang becak, pekerja kasar di jalanan dengan sengatan matahari, namun mereka tetap berpuasa. Sementara banyak orang yang bekerja di ruangan sejuk, ber-AC, namun gagal berpuasa. Rasulullah saw menyebut bahwa “puasa itu adalah benteng”. Artinya orang yang menjalankan ibadah puasa dengan dasar keimanan dan muhasabah (introspeksi diri), maka Allah mengampuni dosa-dosanya selama satu tahun yang lewat. (Riwayat al-Bukhari). 

       Puasa mendidik kita berdisiplin dalam segala hal. Disiplin untuk tidak menyentuh yang halal sekalipun, kala belum waktunya tiba. Semua makanan sudah tersedia, bahkan istri cantik, di saat-saat bulan madu misalnya, semua akan dibiarkan berlalu, karena memang belum waktunya. 

       Saudaraku, seandainya, kita semua, seluruh penduduk negeri ini, dapat menjalankan ibadah puasa dan mengimplementasikan makna dan pesan puasa, menjadi orang-orang yang menjunjung tinggi kejujuran dan kedisiplinan, boleh jadi negeri kita ini sudah menjadi negara yang hebat dan disegani dunia. Pasti tidak akan ada korupsi, tidak ada nepotisme, tidak ada operasi tangkap tangan (OTT), karena mereka akan bekerja on the track atau berada di jalan yang benar. 

       Puasa menyuratkan pesan yang sangat indah dan mulia. Yakni mendidik sifat, sikap, dan perilaku jujur dan disiplin pada seluruh rakyat, yang rasanya di negeri ini masih sangat kurang, untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali. Karena itu, kita semua berharap, agar melalui ibadah puasa  ini, yang di dalamnya terdapat malam lailatul qadar, yang lebih utama dari seribu bulan, kita mampu meningkatkan sifat, sikap, dan prilaku yang jujur dan disiplin dalam segala hal. 

       Semoga Allah memberkahi niat dan usaha kita bersama. Selain itu, mari kita ciptakan budaya jujur dan disiplin. Kebiasaan yang baik, karena diulang-ulang terus, maka akan menjadi habit, reflek, yang tidak lagi memerlukan kerja otak kita.  Allah a’lam bi sh-shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here