Puisi Akhir Ramadan

0
217

Oleh Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd.

Guru Besar PKn Unnes

Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang

Beberapa group media sosial akhir-akhir ini banyak yang mengunggah puisi di sekitar akhir ramadlan. Mungkin para pembaca yang budiman pun juga memperoleh kiriman puisi tersebut, dengan rangkaian kata yang persis sama. Tidak hanya ramadlan tahun ini, seingat saya puisi itupun sudah viral di media sosial sejak beberapa tahun lalu, yang keluar di saat-saat akhir ramadlan dan menjelang perayaan Iedul Fitri. Kendatipun demikian, isi puisi ini memang sangat mennyentuh hati. Siapa pun kita akan merasa trenyuh membaca kalimat demi kalimat yang terangkai dengan indahnya. Puisi itu adalah sebagai berikut.

Aku lihat ramadhan dari kejauhan, lalu kusapa ia, “hendak ke mana..?”. Dengan lembut ia berkata, “aku harus pergi, mungkin jauh dan sangat lama. Tolong sampaikan pesanku untuk orang mukmin, aku akan pergi, syawwal akan tiba. Sampaikan salam dan terima kasihku untuknya karena telah menyambutku dengan suka cita,  dan melepas kepergianku dengan derai air mata. Kelak akan kusambut ia di surga dari pintu ar rayyan”.

Puisi itu cukup singkat, akan tetapi menggambarkan keagungan yang ada di dalamnya. Namanya merupakan merupakan salah satu yang disebutkan di dalam Al Qur’an, yang di dalamnya diwajibkan untuk melaksanakan puasa sebulan penuh sepanjang ramadlan. Di dalamnya juga ada lailatul qodar, yangnilai kualitasnya lebih baik dari seribu bulan, atau setara dengan usia manusia saat ini pada umumnya yaitu 83,3 tahun. Di dalamnya pun terdapat fasilitas dilipatgandakan pahala bagi orang-orang yang berbuat kebajikan.

Instrumen-instrumen itulah yang kemudian menjadikan bulan ramadlan dijadikan sebagai madrasah ruhaniah, untuk melatih dan memperbaiki potensi kemanusiaan kita dengan sebaik-baiknya, agar kembali menemukan jati diri kemanusiaannya yang sejati. Jati diri kemanusiaan yang sejati adalah berupa kedekatan dengan Tuhan, kedekatan dengan manusia, dan kedekatan dengan alam lingkungan. Itulah yang disebut di dalam Al Qur’an Al Kariim sebagai taqwa. “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa, seperti juga diwajib kepada ummat sebelum kamu, agar kamu menjadi orang bertaqwa” (QS, 2:183).

Waktu terus berjalan, mau tidak mau ramadlan pun akan berakhir. Demikian lah waktu, tidak ada yang tetap, terus berjalan menelusuri relung-relung kehidupan. Persis seperti usia manusia, lambat tetapi pasti terus berjalan menuju keberakhiran kehidupan.

Di akhir ramadlan ini, perlu pula direnungkan secara seksama kalimat terakhir dari ayat yang menerangkan tentang bulan ramadlan. “Walitukmilul ‘iddata walitukabbirullaha ‘ala ma hadakum wa la’allakum tasykurun” Jika diterjemahkan,  cuplikan ayat ini berarti “Dan hendaklah kamu sekalian menyempurnakan bilangan shiyam sebulan penuh, dan mengagungkan asma Allah sesuai dengan petunjukNya, mudah-mudahan kamu sekalian bersyukur” (QS, 2:184).

Oleh Allah kita diperintahkan untuk menggenapkan bilangan puasa sebulan penuh lamanya, tanpa ada satu pun yang tertinggal, untuk kemudian

bertakbir kepada Allah, mengagungkan namanya. Oleh karena itulah, ketika matahari ramadlan tenggelan di hari terakhir, disunnahkan untuk melafadzkan takbiran, sebagai ekspresi syukur setelah berpuasa sebulan lamanya dengan mengumandangkan “Allahu Akbar, Laa ilaaha Illallah Allahu Akbar, Walillahil khamdu”. Mengumandangkan takbir di malam Iedul Fitri ini disunnahkan, sejak mata hari terbenam di hari terakhir bulan ramadlan semalam suntuk sampai salat Ied Fitri akan segera dimulai. Saat itu seluruh angkasa kehidupan ini terisi dengan gemuruh kumandang takbir, tahlil, dan tahmid,  dari seluruh penjuru, dari pelosok pedesaan sampai di keramaian perkotaan. Di malam takbiran itulah banyak di antara kita yang melafalkannya sambil meneteskan air mata, teringat akan kebesaran Allah, teringat akan orang tua, teringat akan keluarga handai tolan, dan sahabat terbaiknya.

Takbir berarti membesarkan Allah, dan pada saat yang sama mengecilkan diri kita, mengecilkan ego kita, kepentingan kita, dan urusan kita. Orang yang tidak mau bertakbir kepada Allah berarti dia menyandang predikat sebagai takabbur, yang berarti sombong. Menurut Imam Ja’far, kemahabesaran Allah tidak bisa diukur dengan suatu hal apapun. Merasakan kebesaran Allah adalah dengan cara meresapinya lewat akhlak dan akidah kita. Jika kita meresapi hal itu, kalimat takbir yang sering kita ucapkan akan  secara langsung membuat diri kita merasa kecil dan tiada daya di hadapan Allah Tuhan semesta alam.

Membesarkan Allah berarti menjunjung tinggi syariat Allah untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Kita memahami bersama akan komprehensivitas syariat Allah seperti yang tertuang dalam Al Qur’an dan sunnah rosulullah saw,  sebagai pedoman dalam segala aspek kehidupan sehari-hari. Secara sederhana dapat diklasifikasikan ada ibadah ritual ada ibadah sosial. Ibadah ritual adalah ibadah makhdhoh, yang berhubungan dengan Allah swt. Kita melaksanakan salat, puasa, dzikir, berwudlu, mandi janabat, mengurus jenazah, haji,  merupakan ibadah makhdhoh yang kita hanya secara tunduk melaksanakannya sebagai berintah Allah semata. Dalam kitabnya Ibnu Taimiyyah menjelaskan pengertian ibadah mahdhah, adalah segala yang diperintahkan oleh pembuat syari’at (yaitu:  Allah Subhanahu wa ta’ala), baik berupa perbuatan atau perkataan hamba yang dikhususkan kepada keagungan dan kebesaran Allah Azza wa Jalla.

Sedangkan ibadah sosial (ibadah ghoiru makhdhah) merupakan perilaku ibadah yang berkaitan dengan  kehidupan sesama manusia dan lingkungan alam sekitar. Oleh karena itu kerapkali dikatakan ibadah ini asalnya mubah, akan tetapi ketika dilaksanakan dengan niat yang baik maka menjadilah ibadah. Dengan demikian ibadah sosial ini cakupannya sangat luas. Ibnu Taimiyyah memberikan 3 rambu bagi ibadah sosial ini. Pertama, melaksana- kan waajibaat (perkara-perkara yang diwajibkan) dan manduubaat (perkara-perkara yang dianjurkan) yang asalnya tidak masuk ibadah, dengan niat mencari ridlo Allah.  Kedua, meninggalkan muharramat (perkara-perkara yang diharamkan) untuk mencari ridlo Allah Azza wa Jalla. Kemudian ketiga, melakukan mubaahaat (perkara-perkara yang dibolehkan) untuk mencari ridlo Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dengan demikian dalam konteks ajaran Islam, terdapat terminologi kesalehan ritual dan kesalehan sosial, yang keduanya haruslah terbangun secara paralel. Bulan ramadlan telah melatih kita untuk berkembangnya kesalehan ritual dan kesalehan sosial secara paralel. Hal ini pula yang ditegaskan oleh Al Qur’an sebagai taqwa (la’allakum tattaquun). Kita masih punya siswa waktu beberapa hari lagi unntuk bercengkerama denngan ramadlan, dengan ibadah dan amalan kebajikan. Kita masih punya kesempatan untuk menyempurnakan amalan ibadah ramadlan, sebelum ramadlan benar-benar meninggalkan kita, untuk sebelas bulan yang akan datang. st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here