Lukisan dari limbah plastik karya Akhmad Umar. Foto: wing

TEGAL (Jatengdaily.com)- Kepedulianya terhadap lingkungan terutama sampah, patut diacungi jempol,hal ini dilakukan Akhmad Umar 23 tahun Berawal dari keprihatinanya melihat tumpukan sampah plastik lantas berniat mengolahnya menjadi limbah yang bermanfaat dan mempunyai nilai jual tinggi.

Bertempat ‎dii rumahnya di RT 17 RW 5, Desa Kajen, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, terpampang sejumlah lukisan sketsa wajah tokoh nasional, tokoh dunia, dan selebritis dalam bingkai kayu berbagai dengan ukuran.

Jika dilihat sepintas, kita takkan menyangka kalau lukisan-lukisan itu dibuat dengan memanfaatkan berbagai jenis sampah plastik bekas mulai dari bungkus mi instan, kopi kemasan, makanan ringan, hingga kantong kresek.

‎”Semua dibuat menggunakan sampah plastik. Sampahnya saya dapat di sekitar rumah, tempat sampah atau dari pemulung,” kata Umar.

‎Ya. Karena dibuat menggunakan plastik, Umar menyebut karya-karyanya sebagai lukisan plastik. Pembuatannya pun tak menggunakan peralatan modern. Pemuda lulusan SMP ini hanya berbekal gunting, lem, dan kertas.

“Pembuatan satu lukisan diperlukan waktu tiga sampai empat hari tergantung ukuran dan tingkat kesulitan gambarnya,” ujar Umar.

Dia menyebut, satu lukisan plastik dengan ukuran A3 membutuhkan 10 hingga 15 bungkus plastik. Jika ukurannya lebih besar, plastik yang dibutuhkan juga lebih banyak.

“Berat sampah plastiknya untuk satu lukisan 20 sampai 250 gram tergantung ukuran dan pembuatannya ditempel atau digulung. Sebelum dibuat juga dipilah-pilah dulu. Dicari coraknya yang pas,” jelasnya.

Proses pembuatannya sendiri tak mudah dan membutuhkan ketelitian. Pertama, objek gambar atau foto yang akan dilukis terlebih dahulu dibuat garis mengikuti gradasi warna dan pencahayaannya. Ini dilakukan untuk membuat karakter lukisan mirip dengan aslinya.

Harapannya orang lain juga memiliki kepedulian dan ikut mengurangi pencemaran lingkungan karena sampah plastik

‎Setelah itu, pola garis tersebut diduplikatkan ke kertas gambar. Kemudian duplikat itu digunting dengan mengikuti pola garis. Hasil guntingan pola itu lalu digunakan untuk mencetak plastik yang akan ditempelkan hingga membentuk sketsa yang diinginkan.

‎”Belajar membuatnya otodidak. Awalnya karena prihatin melihat tumpukan sampah plastik di belakang rumah yang sering menyebabkan banjir. Daripada dibuang, kenapa tidak dimanfaatkan,” tuturnya.

‎Berangkat dari keprihatinan itu, apa yang dikerjakan Umar kemudian tak hanya ikut mengurangi pencemaran lingkungan yang disebabkan sampah plastik, tapi juga bisa menghasilkan uang. Sebab, lukisan yang dibuatnya mampu memikat pemesan dari berbagai daerah.

Dengan harga satu lukisan berkisar Rp 300 ribu-Rp 400‎ ribu, Umar rata-rata bisa membuat tujuh pesanan lukisan per bulan. Pesanan paling banyak adalah lukisan foto pribadi.

“Selain lokal (Tegal dan sekitarnya), pesanan ada yang dari Jakarta. Pernah juga dari Kalimantan,” ungkapnya.

‎Umar mengaku sudah menggeluti keahlian langkanya itu sejak 2016, namun baru mulai fokus pada pertengahan 2018. Hingga tahun ini, ia sudah menjual sekitar 100 lukisan plastik. “Promosinya melalui media sosial dan ikut pameran-pameran,” ujar pemilik akun Instagram @wasteplastic_art ini.

Di sela-sela membuat lukisan pesanan, anak keenam dari delapan bersaudara itu juga berupaya mengajak lingkungannya untuk peduli pada pengurangan sampah, khususnya sampah plastik. Di antaranya dengan memberikan workshop pembuatan lukisan plastik ke anak-anak. wing-she

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here