Taman Srigunting Kota Lama, Dulu Lapangan Parade Militer Belanda

0
168
Seorang wisatawan menikmati indahnya Kota Lama. Taman yang berada di samping gereja blenduk tersbut kini menjadi jujugan para remaja untuk melepas penat. Foto:Ugl

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Taman Srigunting, yang berada di kawasan Kota Lama tepatnya di sebelah timur Gereja Blenduk memberikan kesan sejuk dan nyaman bagi pengunjung.

Ternyata, taman yang dilengkapi empat pohon rindang dan kerap menjadi tempat spot hunting foto berlatar belakang bangunan-bangunan kuno sebelumnya merupakan Lapangan Parade Militer.

Lapangan Parade dalam bahasa Belanda yakni Paradeplein, dahulu merupakan tempat bagi para tentara-tentara Belanda untuk berkegiatan militer. Seperti latihan baris-berbaris, melaksanakan upacara, dan latihan militer lainnya.

Luasannya pun mencakup taman Srigunting dan bangunan Gedung Kerta Niaga yang berada di sisi timur taman yang melekat dengan bangunan tempo dulu.

Praktisi Sejarah Semarang, Rukardi Achmadi, mengatakan Lapangan Parade tersebut mulai dibangun saat VOC melakukan perluasan benteng. Perluasan dilakukan karena bertambahnya aktivitas dan perkembangan yang terjadi.

“Sejarahnya dulu, Kota Lama adalah benteng pertahanan VOC. Dan bentuknya segilama, kecil, bukan seluas sekarang. Jadi awalnya sekitar tahun 1690-an Belanda memindahkan pusat pertahanannya dari Jepara ke Semarang. Jadi dibangunlah benteng di dekat jembatan Berok. Benteng VOC itu sering disebut benteng lima sudut,” ujarnya, Jumat (12/7/2019)

Dikatakan, karena bertambahnya kebutuhan VOC saat itu, maka dilakukanlah perluasan untuk mengakomodir kegiatan VOC di pantai utara dan timur Jawa yang beribukota di Semarang. Perluasan tersebut dilakukan di sekitar tahun 1715-an. Di dalam rancangan perluasan Benteng VOC tersebut, Lapangan Parade sudah ada.

“Tahun 1715, tapak-tapak pelebaran benteng itu sudah terlihat. Bentuknya hampir sama dengan benteng sebelumnya, yakni segilima. Namun tidak beraturan, kalau yang benteng pertama itu kecil tidak begitu luas, tapi beraturan bangunannya,” imbuhnya.

Di dalam Lapangan Parade tersebut juga terdapat fasilitas yang bisa diakses masyarakat Belanda kala itu, seperti sumur artetis yang bisa digunakan masyarakat, tugu reklame, dan Gazebo untuk bermain musik.

“Sumur itu digunakan masyarakat setiap hari. Kalau Tugu Reklame itu untuk melihat informasi, biasanya dibangun di tempat strategis. Kalau di Lapangan Parade dulu ada di dekat Gereja Blenduk. Lalu ada gazebo beratap tapi terbuka, tak ada temboknya, di situ untuk bermain musik,” tambahnya.

Taman Srigunting, lanjutnya, mulai dibangun akhir tahun 1970 dan awal 1980. Namun, taman belum terbuka untuk umum dan belum bisa dijamah oleh masyarakat.

“Awalnya itu taman statis. Artinya tidak bisa diakses masuk. Hanya sebagai paru-paru kota. Sebetulnya banyak taman pada orde baru, tapi saat itu memang belum bisa diakses. Dulu Tugu Muda juga sama, nggak terbuka untuk umum,” katanya.

Mulai tahun 2004, dibangunlah Jalan setapak yang berada di empat penjuru taman. Hal tersebut dibangun agar masyarakat bisa menikmati berada di tengah taman Srigunting.

“Beberapa kali taman dilakukan renovasi. Dahulu taman yang rata dengan Jalan Letjen Soeprapto, sekarang dinaikkan hampir setengah meter,” tukasnya.

Ia mengaku setuju jika saat ini Lapangan Parade yang dulu merupakan tempat kegiatan militer Belanda berubah menjadi taman kota yang sekarang bisa diakses siapapun, baik masyarakat Kota Semarang maupun luar Semarang.

“Saya kira taman itu sudah tepat. Artinya sebagai sentrum Kota Lama yang memang membutuhkan landscape hijau. Kalau tidak ada itu pastinya di situ gersang seperti zaman kolonial dulu,” ucapnya. Ugl–st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here