Filosofi Jamas Pusaka Sunan Kalijaga dengan Mata Tertutup

0
159
Prajurit patang puluhan yang berjalan mengawal ritual jamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga. Foto: rie

DEMAK (Jatengdaily.com) – Tradisi Grebeg Besar Demak, menjadi agenda budaya yang ditunggu-tunggu masyarakat setempat tiap tahunnya. Prosesi tradisional ini mempunyai puncak kegiatan budaya jamasan pusaka Keris Kiai Cerubuk dan Kutang Anta Kusuma.

Tahun ini perhelatan tersebut digelar akhir pekan lalu. ribuan orang ikut serta memeriahkannya. Sebagian mereka berdiri di sepanjang rute iring-iringan prajurit patang puluhan yang berjalan mengawal minyak ritual jamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga. Sementara sisanya berkumpul di kawasan makam Sunan Kalijaga, menanti Sesepuh Kadilangu HM Cahyo Iman Santosa pasca jamasan pusaka.

Istimewanya, tradisi budaya yang dilaksanakan bersamaan perayaan Idul Adha 1440 H ini tak ada lagi dua kali prosesi jamasan seperti tahun-tahun sebelumnya. Ahli waris Sunan Kalijaga yang sempat pecah menjadi kelompok Kasepuhan dan Panembahan Kadilangu, kini guyub bersatu dipimpin Sesepuh HM Cahyo Iman Santosa.

Karenanya jamasan pusaka Keris Kiai Cerubuk dan Kutang Anta Kusuma hanya dilaksanakan sekali. Yakni oleh Keluarga Besar Ahli Waris Sunan Kalijaga, dipimpin langsung Sesepuh Kadilangu HM Cahyo Iman Santosa. Tentunya didampingi juru kunci makam Prayitno, serta para lajer seorang Wali Sanga yang semasa mudanya bernama Raden Said itu.

Prosesi jamasan pusaka Keris Kiai Cerubuk dan Kutang Anta Kusuma pun diawali dengan pembacaan doa dzikir tahlil. Dilanjutkan kemudian dengan memasuki cungkup agung makam Sunan Kalijaga, dan prosesi jamasan pusaka keseluruhan dilakukan dengan mata tertutup.

“Filosofi menjamas dengan mata tertutup adalah kita wajib percaya dan iman hanya kepada Allah SWT,” terang Sesepuh Kadilangu yang lajer ke-15 Sunan Kalijaga itu.

Sehubungan keterbatasan ruang dan juga demi kekhusukan serta kesakralan ritual jamas pusaka, hanya beberapa orang diizinkan memasuki cungkup agung Makam Sunan Kalijaga mendampingi Sesepuh Raden HM Cahyo Iman Santosa. Di antaranya keluarga inti Kasepuhan Kadilangu, Bupati HM Natsir dan Wabup Joko Sutanto, para pejabat Forkompinda Kabupaten Demak, juga Staf Khusus Kepresidenan RI Khosunan.

Usai ritual jamasan, sesepuh dikawal ketat menuju dalem Sasana Rengga untuk mengantisipasi massa yang berebut menyalami. Karena menjadi kepercayaan masyarakat, bagi yang berhasil menyentuh terlebih mencium tangan Sesepuh Kadilangu pascajamasan bakal berlimpah berkah.

Mengenai tradisi Grebeg Besar Demak, Sesepuh Cahyo Iman Santosa menjelaskan, tradisi jamasan pusaka Sunan Kalijaga harus tetap ada dan akan selalu ada. Maka itu anggota DPRD Lampung itu pun menginginkan Keluarga Besar Ahli Waris Sunan Kalijaga selalu guyub rukun. “Maka menjadi kewajiban ahli waris adalah melanjutkan dakwah Eyang Sunan Kalijaga,” tuturnya.

Mengenai kembali rukun dan guyubnya Keluarga Besar Ahli Waris Sunan Kalijaga sehingga prosesi jamasan pusaka berlangsung hikmat, Bupati HM Natsir berpendapat, peninggalan Sunan Kalijaga harus dilestarikan. Tujuannya tentu supaya generasi penerus paham bahwa budaya ini milik bersama dan harus diuri-uri dan tidak boleh ditinggalkan.

Setelah didoakan bersama, 500 porsi nasi ancakan Kadilangu diperebutkan masyarakat, yang sengaja datang mencari atau ngalap berkah Sunan Kalijaga. Foto: rie

Ancakan
Sehari sebelumnya sebagai rangkaian Grebeg Besar Demak ini, digelar tradisi ‘ancakan’oleh Keluarga Besar Kasepuhan Kadilangu. Dalam tradisi ini ratusan orang berebut nasi berkat yang disajikan dalam anyaman empat batang bambu beralas daun jati ala Keluarga Ahli Waris Sunan Kalijaga sebagai sarana ‘ngalap berkah’.

Tradisi digelar menjelang prosesi jamasan dua pusaka peninggalan Sunan Kalijaga, Keris Kiai Cerubuk dan Kutang Anta Kusuma. Tasyakuran selamatan ancakan dibuka dengan pembacaan takbir, tahlil dan tahmid. Setelah sambutan dari tuan rumah yang diwakili R Edi Nusalin, prosesi ancakan pun dilanjutkan dengan pembacaan doa.

Sebelum 500 ancakan berisi nasi, sayur urap dan sekadar lauk diperebutkan, Sesepuh Kadilangu HM Cahyo Iman Santosa menabuh kentongan. Tanda hidangan yang dikhususkan para tetamu juga zairin Makam Sunan Kalijaga boleh mulai dinikmati, atau tepatnya diperebutkan. Sebab seiring perkembangan jaman, hidangan ancakan diyakini mengandung berkah Sunan Kalijaga.

Edi Nursalin menjelaskan, tradisi ini merupakan ritual jamasan dua pusaka Sunan Kalijaga pada tradisi Grebeg Besar Demak. Dilestarikan sebagai wujud syukur atas berkah dan rejeki yang tercurah pada keluarga besar ahli waris Sunan Kalijaga di Kadilangu.

“Awalnya ancakan dulunya adalah suguhan bagi para tetamu dan peziarah yang rata-rata datang dari jauh mendoakan Sunan Kalijaga dan para ahli warisnya. Namun lambat laun sedekah berupa nasi berkat selamatan diyakini mengandung berkah. Sehingga dijadikan sarana mengais rezeki, tentunya atas nama Allah SWT,” urai Edi Nursalin.

Terpisah Ustadz Riyanto dari Blora mengaku, menghadiri tradisi ancakan di Kadilangu Demak sudah menjadi agendanya setiap menjelang Idul Adha. Selain berziarah, dimaksudkan juga ngalap berkah.

“Jujur saya ke Kadilabgu ngalap berlah Kanjeng Sunan Kalijaga. Nanti sesampainya di rumah nasi ancakan yang berhasil saya genggam akan dikeringkan untuk selanjutnya ditebarkan di sawah juga tambak. Sedangkan bilah bambu ditancapkan di pematang sawah dan tambak, Bissmillah agar hasilnya bagus berlimpah,” tutupnya. rie-yds

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here