Luar Biasa, dalam Waktu Dua Bulan Untag Lahirkan Tiga Guru Besar

0
40
Prof Edy Lisdiyono mendapat ucapan dari Rektor dan para tamu undangan usai pengukuhan guru besar di gedung Grhaha Kebangsaan, Kampus Untag, Sabtu (10/8). Foto:dok

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Rektor Untag Semarang, Prof Dr Suparno mengaku bersyukur dengan dikukuhkannya Prof Edy Lisdiyono sebagai guru besar baru di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang. Hingga kini Untag memiliki delapan guru besar, dan 58 orang doktor.

“Ini satu-satunya PTS dalam waktu yang hampir bersamaan mampu melahirkan tiga profesor. Setelah Prof Edy, akan menyusul bulan depan dua guru besar insyaallah dikukuhkan. Kalau di PTN mungkin biasa, tapi bagi PTS ini hal yang luar biasa,” papar Suparno.

Dengan pengukuhan guru besar baru, Prof Suparno mendorong 58 doktor yang belum menjadi guru besar agar segera menambah publikasi jurnal internasional, maupun penelitiannya agar bisa segera menyusul menjadi guru besar.

”Memang syarat tersebut tidak gampang. Namun kuncinya harus bisa dan bisa. Kami selaku pimpinan Untag terus berupaya mendorongnya, dengan beragam cara. Kami fasilitasi, misalnya mendatangkan pakar untuk memberi pelatihan penulisan jurnal. Karena itu salah satu syarat menjadi profesor yang memang tidak gampang,” papar dia.

Sementara itu Prof Dr Edy Lisdiyono pada pidato pengukuhannya sebagai guru besar  tetap bidang Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus (Untag) menyatakan, Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman sumber daya alam di dalamnya. Tetapi, pengelolaan sumber daya alam itu hanya sedikit yang dilakukan oleh masyarakat lokal. Sebagian besar, malah dikuasai oleh investor asing. Padahal, peran negara seharusnya adalah menyejahterakan masyarakatnya.

Upacara pengukuhan dilakukan di kampus Untag, Bendan Duwur, Gajahmungkur, Semarang, Sabtu (10/8/2019). “Penambangan yang mencapai ribuan hektar sebagian besar dikuasai investor asing dengan mudah melakukan eksplorasi sumber daya alam,” paparnya.

Menurutnya, dengan sumber daya yang melimpah, seharusnya dapat meningkatkan kehidupan dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Tetapi ternyata praktik di lapangan, pengelolaan sumber daya alam tak dilakukan secara mandiri oleh negara, sehingga masyarakat terpinggirkan.

“Hal itu membuat adanya konflik horizontal-vertikal, bencana alam, kerusakan lingkungan, bahkan kemiskinan,” terangnya.

Pidato pengukuhan Prof. Edy Lisdiyono berjudul ‘Tanggung Jawab Negara dalam Tata Kelola Sumber Daya Alam Terhadap Kerusakan Lingkungan Hidup’. Dalam pidato tersebut, ia mendorong pemerintah agar dalam pemanfaatan sumber daya alam lebih melibatkan masyarakat lokal, dan mengurangi pengaruh investor asing. Sehingga, alam di Indonesia tidak rusak.

Dekan Fakultas Hukum Untag ini telah menyelesaikan sekolah doktoralnya di program Doktor Ilmu Hukum Undip tahun 2008 lalu. Pria 56 tahun asal Grobogan itu memiliki seorang istri dan empat anak. Sejumlah penelitian, karya ilmiah dan publikasi jurnal internasional juga telah dibuatnya. st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here