Wisma Perdamaian Pernah jadi Tempat Singgah Pangeran Diponegoro

0
134
Gedung Wisma Perdamaian di sekitar Lawang Sewu Tugu Muda menyimpan sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro. Foto: Ugl

SEMARANG (Jatengdaily.com)  – Gedung kuno, peninggalan sejarah kota Semarang Wisma Perdamaian di Jalan Imam Bonjol, ternyata menyimpan sejarah yang tidak banyak orang ketahui, khususnya masyarakat Kota Semarang sendiri.

Bangunan yang berdekatan dengan Tugu Muda, Museum Mandala Bhakti, dan Lawang Sewu tersebut ternyata pernah menjadi tempat singgah sementara Pangeran Diponegoro.

“Tidak banyak orang yang tahu jejak-jejak sejarah Pangeran Diponegoro dengan Wisma Perdamaian, karena bangunan itu telah banyak direnovasi. Jadi susunan bangunan asli sudah banyak yang hilang, seperti ruang-ruangnya, dan penambahan bangunan-bangunannya”, ujar pegiat sejarah, Tjahjono Rahardjo saat ditemui di Kota Lama, Minggu  (4/8/2019).

Tjahjono menceritakan, Pangeran Diponegoro datang ke Semarang sebagai tahanan rumah Kolonial Belanda. Di mana sebelumnya Pangeran Diponegoro ditangkap di Magelang karena tipu daya Belanda.

“Setelah di tangkap, Pangeran Diponegoro akan diasingkan ke Manado, tapi dalam perjalanannya singgah dulu di Semarang selama 8 hari, yakni dari tanggal 29 Maret 1830-5 April 1830. Setelah itu dibawa ke Batavia”, imbuhnya.

Pada saat menjadi tahanan rumah Belanda, Pangeran Diponegoro, lanjut Tjahjono, diperlakukan terhormat. Di mana sebelumnya akan dipenjara di penjara orang eropa yang terletak di Jalan Agus Salim.

“Walaupun dianggap pemberontak, Belanda masih menghormati dan menghargai Pangeran Diponegoro sebagai anak Sultan. Makanya Jendral Van den Bosch merekomendasikan agar Pangeran Diponegoro tidak ditahan di sana melainkan di Wisma Perdamaian yang pada saat itu menjadi tempat tinggal residen Belanda”, ucapnya.

Gedung Wisma Perdamaian di Bundaran Tugu Muda Semarang. Foto:Ugl

Satu hal lagi, Pangeran Diponegoro diperlakukan dengan layak oleh Belanda. Tjahjono menerangkan, menurut literatur yang ia baca dari peneliti Oxford University, Peter Carey yang meneliti Pangeran Diponegoro selama 40 tahun, menyebutkan, bahkan Pangeran diberi sarapan berupa roti yang baru dibuat selama tinggal di Wisma Perdamaian.

“Kapal yang akan mengantarkan Pangeran Diponegoro ke Manado dari Batavia pun bukan sembarang kapal. Tapi kapal uap yang pertama kali, saat itu masih kapal layar semua”, terangnya.

Tjahjono menceritakan lebih lanjut, Belanda menganggap Pangeran Diponegoro adalah tokoh utama dalam Perang Jawa 1825 sampai 1830. Perang tersebut membuat Belanda kewalahan dan Belanda hampir bangkrut.

“Perang lima tahun itu membuat perekonomian Belanda hampir bangkrut. Karena biaya perang yang tak sedikit. Sehingga untuk mengembalikan perekonomiannya, setelah Pangeran Diponegoro ditanggap, diberlakukan lah tanam paksa itu”, ceritanya.

Walaupun dirinya sedikit menyayangkan jejak jejak sejarah Pangeran Diponegoro yang tak tersisa di Wisma Perdamaian, dirinya berharap ada sebuah penanda atau catatan riwayat sejarah Wisma Perdamaian yang pernah disinggahi Pangeran Diponegoro di sana.

“Harapannya ada catatan yang menerangkan di sini pernah singgah Pangeran Diponegoro, agar banyak masyarakat yang tau”, tukasnya. Ugl—st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here