Jimly Asshiddiqie Bicara Membangun Negara Hukum di USM

0
90
Jimly Asshiddiqie saat menjadi nara sumber di kampus USM. Foto: adri

SEMARANG (Jatengdaily.com)- Program Studi Magister Hukum (MH) Universitas Semarang (USM) adakan kuliah umum dengan Tema Membangun Negara Hukum di Era Post-Truth yang diselenggarakan di Aula Gedung V Lantai 6 USM, Senin (9/9/2019).

Kegiatan yang diikuti 90 peserta yang berasal dari mahasiswa S1,S2 dan alumni Hukum USM serta universitas lain dan peminat magister hukum.

Dr Drs Djoko Santoso MSi selaku Direktur Pascasarjana mengaku bahwa negara kita adalah negara hukum yang menjadi panglima dan mempunyai ciri kekuasaan yaitu dijalankan sesuai hukum, kegiatan negara di bawah kontrol kekuasaan hukum, Undang-undang yang menjamin Hak Asasi Manusia (HAM), dan pembagian kekuasaan.

Sementara nara sumber kuliah umum pada kali ini adalah Prof Dr Jimly Asshiddiqie SH (Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia 2003-2008 dan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan dimoderatori oleh Dr M Junaidi SHI MH (Kaprodi Magister Hukum USM).

Jimly mengungkap bahwa bagaimana membangun negara hukum, disamping itu post-truth juga disinggung yang dilihat dari prespektif yang ada yaitu apa yang ada di media lebih otentik dari pada fakta contohnya dengan memenangkan pemilu , dan selain itu juga hoaks yang beredar.

‘’Dengan perkembangan teknologi masa kini yang dengan kecepatan jutaaan kali lipat, maka bagaimana kita hidup memahami dan membangun negara hukum dalam keadaan masalah yang serius sehingga harus dipelajari, salah satunya dengan buku,’’ jelasnya.

Buku adalah tafsir penulis yang terhadap realitas di masa lalu, sehingga semua buku sudah ketinggalan jaman, jadi kita harus akrab dengan buku teks tetapi pada saat yang sama tafsir penulis yang terhadap realitas di masa lalu yang jangan sampai ketinggalan jaman.

Jimly juga telah menulis 65 buku, kita harus membaca buku tapi disaat yang sama juga harus membaca kehidupan, karna kehidupan itu nyata, dinamis, berubah, bergerak cepat sekali. Jika kita tidak akrab dengan keduanya akan sulit, kalau kita hanya bergelut dengan buku kehidupan saja susah memahami gejala yang terjadi tanpa refleksi contoh-contoh dari kejadian sebelumnya dari tulisan yang telah ditafsirkan penulis dalam bentuk buku dan kita juga harus bergaul dengan buku teks. Kuncinya harus dekat dengan keduanya sehingga dapat mendapatkan jawaban dari semua persoalan.

Dalam membangun negara hukum jimly mengungkap bahwa ada prinsip tetapi ada versi yang lain dan menceritakan tentang asal mula Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung, Peradilan Konstitusi,  Peradilan Tata Usaha Negara (TUN).

Selain itu Jimly juga mengatakan bahwa dalam merubah kesimpulan dapat berabad-abad, sedangkan pada zaman ini setiap hari dapat merubah kesimpulan. Berfikirnya selalu relatif jangan memutlakkan pikiran kita sendiri dan menjadi orang membuka pikiran serta jangan cepat mengambil kesimpulan jangan cepat membenci orang jangan cepat mencintai orang.

Media berkembng dengan pesat peranannya, sehingga sudah  banyak yang membedakan antara the real reality and media reality. Realitas media itu sentuhan sedangkan real reality adalah realitas yang sesungguhnya hal yang berbeda.

Definisi yang baik dimasa lalu kita sesuaikan dengan tempatnya itu baik tapi sekarang jadi jelek karna kesimpulannya itu berbohong cara penyampaian satu orang dengan yang lain berbeda itu namanya bohong atau munafik maka definisi munafik dan bohong itu berubah definisi kebaikan dan keburukan post truth tidak ada yang benar salah semua, bahwa sebenarnya makna simbolik. Adri-she

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here