Menara Masjid Agung Demak, Berkonstruksi Baja agar Tak Menutupi Bleger Masjid

0
202
Menara Masjid Agung Demak menjadi unik karena konstruksi bajanya yang berbeda jauh dari konstruksi dasar masjid peninggalan Sultan Fatah dan Walisanga yang didominasi kayu. Foto: rie

DEMAK (Jatengdaily.com) – Menilik Masjid Agung Demak, pastinya pandangan kita tak akan luput pada satu bangunan unik yang terletak di sisi paling depan bagian selatan. Ya. Menara adzan. Berbeda dengan bangunan-bangunan masjid seusianya yang terbuat dari konstruksi batu bata atau tembok, menara adzan pada Masjid Agung Demak terbuat dari material besi baja.

Dengan ukuran 4 x 4 meter pada bagian kaki serta tinggi 22 meter, menara yang dibangun pada 2 Agustus 1932 pada masa pemerintahan Bupati R AA Sosrohadiwidjojo itu memang terlihat menjulang. Cukup kontras dengan arsitektur lokal masjid yang dominan Jawa kuna dengan atap limasan serta tiang penyangganya atau saka guru yang terbuat dari kayu jati.

Menurut keterangan pengurus Takmir Masjid Agung Demak Bidang Idaroh, Suwagiyo, menara adzan dibangun dengan konstruksi baja bukan tanpa alasan. Begitu pun pemilihan material dan sejumlah aksesorisnya oleh sang arsitek yakni N.V Lyndetives Semarang, yang cenderung bernuansa modern.

“Menara adzan sengaja dibuat tidak menggunakan batu bata agar konstruksinya tidak menutupi bleger atau wibawa Masjid Agung Demak. Sedangkan besi baja dipilih sebagai material utamanya, karena pada masa itu bahkan hingga masa sekarang pun besi baja terkenal kuat dan tahan keropos. Sekaligus menjawab tuntutan modernisasi abad XX,” ujarnya.

Menara adzan Masjid Agung Demak dibangun pada masa pemerintahan Belanda. Penggagasnya adalah penghulu atau istilah sekarang adalah Ketua Takmir Masjid Agung Demak saat itu yakni KH Moh Abdoerrochman. Dalam pengerjaan bangunan berbiaya 10.000 Gulden itu, KH Moh Abdoerrochman dibantu satu tim khusus yang keanggotannya terdiri dari R Danoe Wijoto, H Moh Taslim, H Aboe Bakar, dan H Moehsin.

22 Meter
Tujuan mendirikan menara adalah sebagai sarana muadzin mengumandangkan adzan. Maka itu tingginya disepakati 22 meter agar suara adzan yang dikumandangkan terdengar jauh dan luas, sehingga warga sekitar masjid utamanya umat muslim serta para zairin segera menunaikan ibadah salat di Masjid Agung Demak. Oleh karena pada masa itu di Kabupaten Demak Bintoro belum ada listrik ataupun loudspeaker, maka muadzin menggunakan corong terbuat dari bahan semacam seng sebagai pengeras agar suara bisa lebih lantang.

Setelah dirapatkan oleh tim, secara teknis disetujui oleh Dir RW atau Kepala DPUK saat itu yakni W Coenraad serta Bupati Demak R AA Sosrohadiwidjojo. Maka dimulailah pembangunan menara adzan tersebut dengan biaya sekitar 10.000 Gulden. Oleh N.V Lyndetives, sang arsitek, pada atap menara dibuat bentuk kubah dengan hiasan bulan sabit. Sedangkan pada bagian atas menara tepatnya di bawah kubah terdapat ruangan berbentuk segi delapan dengan dinding kayu berhias lengkung dan atap sirap.

“Bentuk kubah pada bangunan menara adzan di bagian depan Masjid Agung Demak ini diperkirakan mencontoh bangunan masjid-masjid di Makatul Mukaromah dan Madinatul Mukaromah,” ujar Suwagiyo.

Disebutkan pula, menara adzan dilengkapi jam kloneng sebagai penanda waktu, dengan puncak atau blendukan berbentuk kubah terbuat dari monel. Untuk mencapai ruangan atas ini terdapat tangga naik tujuh trap serta papan-papan kayu sebagai pijakannya.

Namun seiring perkembangan teknologi, menara adzan ini tak lagi difungsikan. Karena kini muadzin mengumandangkan adzan dari dalam masjid, tentunya bantuan perangkat elektronik. Berdasarkan UU Nomor 5/1992 tentang penetapan Masjid Agung Demak sebagai cagar budaya nasional dengan juklak PP Nomor 10/13 menara adzan masuk sebagai bagian dari monumen atau ikon Kabupaten Demak. rie-yds

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here