Pacaran Setelah Menikah, Kenapa Tidak?

0
70
Ketua TP PKK Provinsi Jateng Atikoh Ganjar Pranowo, saat membuka Pencanangan Kesatuan Gerak PKK KKBPK Kesehatan Tingkat Provinsi Jawa Tengah, di Aula Dispermasdesdukcapil Jateng, Jumat (20/9/2019).Foto:hms

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Pacaran setelah menikah, mengapa tidak? Tapi, lakukan dengan suami atau istri sendiri. Meski hanya satu atau dua jam, kebersamaan tersebut bisa mengurai kebuntuan, sekaligus mencegah perceraian. Jangan lupa, ciptakan ruang-ruang bahagia agar keluarga semakin utuh.

Pesan itu disampaikan Ketua TP PKK Provinsi Jateng Atikoh Ganjar Pranowo, saat membuka Pencanangan Kesatuan Gerak PKK KKBPK Kesehatan Tingkat Provinsi Jawa Tengah, di Aula Dispermasdesdukcapil Jateng, Jumat (20/9/2019). Diakui, perceraian seringkali menjadi pilihan saat pasangan berkonflik. Ironisnya, perceraian seringkali terjadi pada kaum middle up, dengan kondisi ekonomi menengah ke atas, yang notabene berpendidikan tinggi.

Karenanya, Atikoh berpesan agar pasangan mengerti apa yang harus dilakukan untuk menjaga keharmonisan keluarga. Jangan terlena dengan kondisi saat ini, teruslah introspeksi diri. Jika menemui masalah, hindari berkonsultasi dengan orang yang mendukung, tapi dengan orang yang netral atau pro ke pasangan.

“Awal menikah, pasti ada friksi, karena dididik berbeda, pola asuh berbeda, dengan keluarga yang berbeda. Perbedaan harus dijembatani dengan bijaksana. Kalau terjadi friksi, jangan konsultasi ke orang yang pro dengan kita karena akan menanggapi dengan positif. Konsultasikan dengan pihak yang netral atau pro dengan suami kita, seperti saya, curhatnya ke kakaknya Mas Ganjar,” ungkapnya, didampingi Wakil Ketua IV TP PKK Jateng Tjondrorini.

Istri Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo itu pun memberikan sejumlah tips agar keluarga langgeng. Ciptakan ruang-ruang bahagia, beri kesempatan pasangan untuk menjalani “me time” dengan melakukan hal yang disukai. Duduk bersama, pacaran dengan pasangan meski satu atau dua jam saja, akan dapat mengurai kebuntuan yang dihadapi. Tentu, kebersamaan dengan seluruh anggota keluarga juga mesti dijaga.

“Jika tanggung jawab ekonomi milik berdua, tentu tanggung jawab domestik juga urusan bersama. Sebab, yang sering dikeluhkan, ketika perempuan bekerja, memikirkan sosial dan ekonomi rumah, melekat tanggung jawab domestik juga. Mengasuh anak, mencuci, menjadi tanggung jawab ibu juga. Jadi, di kantor capek, di rumah juga, apalagi kalau anak sakit, komunikasi dengan pasangan kurang lancar,” terang ibu satu anak ini.

Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Tengah Wagino, berharap Tim Penggerak PKK hingga level bawah, membantu pembangunan keluarga, khususnya di Jawa Tengah. Sehingga, angka perceraian bisa diminimalisasi.

Menurutnya, PKK menjadi agen pembangunan dan agen perubahan terdepan terutama dalam peningkatan kesejahteraan keluarga. Kiprah PKK di lingkungan masyarakat juga merupakan salah satu ikon bergeraknya civil society dalam peningkatan kesejahteraan keluarga dan menjadi lebih terasakan efektifitasnya dengan adanya kader-kader yang menjangkau sampai di tingkat desa / kelurahan.

“Jadi, kami berharap, seluruh TP PKK di lapangan bisa bergerak. Termasuk, menggerakkan program keluarga berencana, agar tercipta generasi yang kompetitif, produktif, dan berkualitas. Kalau di Jateng program KB-nya tidak berhasil, tingkat kemiskinan tidak menurun,” tandasnya. st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here