Sejumlah pembicara yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam, Fakuktas Agama Islam (FAI) Unissula bertemakan Jejaring ulama. Foto: she

SEMARANG (Jatengdaily.com)-Para ulama, santri dan pesantren dari masa lalu, mewarnai sejarah pergerakan nasional. Mereka tidak pernah berkolaborasi dengan Belanda.

Termasuk pada era Pangeran Diponegoro, Walisongo dan Sultan Agung. Mereka melakukan perjuangan.

“Bahkan pada akhir abad 19, Diponegoro dan para ulama membangun kekuatan yang besar sekali,” kata Zainul Milal Bizawie, pengarang buku Jejaring ulama Diponegoro: kolaborasi santri dan ksatria membangun Islam kebangsaan awal abad ke 19, saat menjadi pembicara yang berlangsung di Perpustakaan Unissula, Sabtu (7/9/2019).

Gelaran diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam, Fakuktas Agama Islam (FAI) bertemakan Jejaring ulama. Diponegoro menurutnya bisa menyatukan pesantren dan santri melakukan penyerangan ke Belanda di Tanah Jawa. Kondisi ini membuat Belanda rugi besar.

Maka muncul tanam paksa untuk menperkaya Belanda lagi. Hadir juga sebagai pembicara Dr Mahrus El-Mawa, Kasi Penelitian dan HKI Kemenag RI dan dosen FAI Susiyanto MAg. Hadir juga Kepala Perpustakaan Unissula Dr Jafar Sodiq dan Wakil Rektor III Muhammad Qomaruddin ST MSc PhD.

Susiyanto menambahkan Diponegoro mempunyai kekuatan besar yang bisa menyatukan pesantren dan santri. Hal ini juga dipengaruhi oleh kekuatan yang Diponegoro lihat dari Sultan Agung.

Diponegoro juga membuat kajian tentang sejarah Tanah Jawa. Termasuk bicara tentang Sultan Agung dalam Babad Diponegoro jilid 1. Kekuatan pesantren dan santri, juga diperkuat bagaimana cara pandang masyarakat Jawa abad 19, yakni ‘aku orang Jawa maka aku Islam.’

Apa yang bisa diambil dari Diponegoro, adalah bagaimana berdakwah pakai ahlak bukan hanya ilmu. “Oleh karenanya, kita harus belajar peradaban Islam di Nusantara. Sebab Islam dan perjuangan memiliki jejaring,” jelasnya. she

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here