Prof Bunyamin Minta Profesor Untag jangan Seperti Pohon Pisang

0
92
Dua guru besar Prof Retno Mawarini dan Prof Suparno berfoto bersama Bela Safira dan suami pada pengukuhan dua guru besar di kampus Untag Bendan, Sabtu (14/9). Foto:st

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Direktur Karier dan Kompetensi Kemenristekdikti Prof Dr Bunyamin Maftuh MA MPd mengingatkan, gelar profesor bagi seorang dosen bukan berarti sudah finish. Namun makna di balik itu, seorang profesor dituntut untuk mengembangkan ilmunya yang lebih bermanfaat.

”Jangan seperti profesor pohon pisang, berbuah sekali langsung habis dan sudah selesai. Tetapi harus menghasilkan karya ilmiah, menulis buku dan ilmu akademik lainnya,” tegas Prof Dr Bunyamin usai pengukuhan dua guru besar Untag, di Kampus Bendan, Sabtu (14/9).

Pihaknya mengapresiasi dan mengucapkan selamat kepada Untag Semarang yang telah melahirkan tiga profesor baru dalam satu tahun. Karena jarang sekali sebuah perguruan tinggi, khususnya swasta dalam waktu satu tahun melahirkan tiga guru besar. Ini patut diapresiasi.

Hal ini sebuah kerja keras Untag untuk mendorong dosen mencapai jabatan akademik tertinggi. ”Kami juga mendorong agar perguruan tinggi yang lain juga bisa menjadi profesor. Kami juga punya program percepatan profesor, bagaimana memberikan kemudahan usulan menjadi profesor. Meski dipercepat, bukan berarti dipermudah dan diturunkan kualitasnya,” katanya.

Untuk mencapai jabatan profesor, salah satunya harus memenuhi bukti menulis jurnal internasional bereputasi. Artinya bukan jurnal bereputasi predator atau abal-abal. ”Kami berharap semakin banyak dosen mencapai jabatan profesor ini,” katanya.

Dia menambahkan, regulasi sesuai Permenristekdikti No 20 tahun 2017 segera diterapkan pada tahun 2019 ini, sehingga bisa dilihat profesor-profesor yang pasif dan tidak produktif. ”Jika selama tiga tahun berturut-turut tidak produktif, maka akan dikurangi tunjangannya,” kata Prof Bunyamin.

Syarat ini tidak berat, karena berbeda kalau ingin menjadi profesor harus menulis jurnal internasional. Sedangkan bagi dosen yang sudah profesor bisa menjadi penulis kedua atau ketiga.

Menurut Prof Bunyamin, terhadap para profesor yang tidak produktif dalam menghasilkan publikasi jurnal internasional akan diberi warning dan akan dikurangi jumlah tunjangan.

“Untuk 2018 sampai dengan 2019 sekarang ini kami baru dalam proses evaluasi. Jadi, bagi profesor yang tidak produktif untuk saat ini masih dapat menerima tunjangan kehormatan. Muda-mudahan regulasi segera berjalan,” katanya.

Meski demikian, hingga saat ini Kemenristekdikti belum melakukan pendataan terhadap para profesor yang dianggap tidak produktif tersebut, sehingga belum dapat memberikan data pastinya.

Sedangkan mengenai kegiatan pembinaan dosen, Rektor Untag Semarang Prof Dr Drs H Suparno MSi menyampaikan harapan kepada jajarannya agar menjadi motivasi dalam peningkatan karier, khususnya terkait jabatan fungsional akademik.

Rektor Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang Suparno dan Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama Retno Mawarini Sukmariningsih meraih guru besar. Dua guru besar Untag ini dikukuhkan Sabtu (14/9). Prof Dr Suparno MSi menjadi guru besar bidang Ilmu Administrasi, sedangkan Prof Dr Retno Mawarini Sukmariningsih SH MHum menjadi guru besar bidang Ilmu Hukum. Sedangkan Prof Edy Lisdiyono, dikukuhkan sebagai guru besar tetap bidang Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang pada Sabtu 10 Agustus 2019 lalu.

Penyerahan SK guru besar dilakukan di kantor Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VI Jateng, Jl Pawiyatan Luhur I/1 Bendan Duwur Semarang, oleh Kepala LL Dikti Prof Dr DYP Sugiharto, Jumat (9/8) lalu. Pengangkatan Suparno sebagi guru besar tertuang dalam SK Menristek Dikti Nomor 26709/M/KP/2019 tanggal 23 Juli 2019. Adapun pengngkatan Retno Mawarini Sukmariningsih sebagi guru besar tertuang dalam SK Menristek Dikti Nomor 26710/M/KP/ 2019 tanggal 23 Juli 2019.

”Terima kasih. Alhamdulillah. Dengan menjadi guru besar ini semoga bisa meningkatkan kualitas dan pengembangan institusi dan keilmuan Untag Semarang pada masamasa mendatang,” kata Suparno dan Retno Mawarini, kemarin.

Prof Dr Suparno MSi adalah rektor ke-9 Untag. Dia diangkat menjadi rektor kali pertama pada 2016 s/d 2020. Dengan demikian, dia merupakan rektor pertama Untag yang berhasil menyandang profesor. Selain itu, dia merupakan alumnus Program Doktor Administrasi Publik Angkatan I Undip yang lulus pertama, sekaligus yang pertama menjadi profesor.

Sementara itu Kepala LL Dikti Wilayah VI Jateng Prof Dr DYP Sugiharto mengatakan, implikasi akademik bagi profesor antara lain berupa keharusan penerbitan karya ilmiah di jurnal bereputasi, minimal dalam kurun waktu tiga tahun. Perilaku akademik hendaknya juga benar-benar harus terjaga.

Tentu harapan lebih tinggi, berdampak positif bagi Untag Semarang. ”Saya sering menyebut, bukan untuk membangkitkan Untag, melainkan untuk menjayakan kembali Untag. Kata kembali menjadi penting, karena Untag dulu pernah jaya kala itu,” tandasnya. st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here