Sampai Jumpa Lagi di SPN 2020

0
237

Oleh Gunoto Saparie

Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT)

Setelah hiruk pikuk Silaturahmi Penyair Negeri (SPN) 2019 di Wisma Perdamaian, Semarang, 6-8 September 2019, lalu apa? Para peserta kini kembali ke dunia penciptaan yang sunyi dan diharapkan mereka dapat menghasilkan karya puisi mengenai Kota Semarang. Banyak hal  menarik tentang Kota Semarang bisa ditulis sebagai puisi, antara lain problematika, keindahan, eksotika, sejarah, kuliner, budaya, perkembangan, dan perubahannya. Puisi-puisi mereka direncanakan akan diterbitkan dalam sebuah buku sesuai rekomendasi yang telah dirumuskan.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Wakil Gubernur Taj Yasin menyatakan apresiasinya terhadap kegiatan Silaturahmi Penyair Negeri 2019. Mereka tidak hadir, karena–meskipun sebelumnya telah terjadwal–harus melakukan kegiatan lain yang lebih menjadi prioritas. Ganjar mewakilkan kepada Agung Krisdiyanto dan Taj mendelegasikan kepada Budi Santosa. Agung dan Budi adalah dua pejabat penting di Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Dalam sambutan yang dibacakan Agung dan Budi pada prinsipnya Ganjar dan Taj menyatakan dukungan dan berharap agar para penyair menghasilkan puisi-puisi yang bermanfaat bagi upaya pembangunan karakter bangsa. Ganjar dan Taj masing-masing mengirimkan puisinya untuk dinikmati para peserta.

Ganjar memberikan tanggapan secara khusus terhadap antologi puisi Pesisiran dan Perempuan Bahari. Ganjar mengagumi bagaimana para penyair dapat menggambarkan nuansa kahananpesisiran dengan segala pernak-perniknya, termasuk keindahan dan sumber daya alam laut. Hal itu berpotensi memberikan peningkatan ekonomi masyarakat.

Demikian pula, lanjut Ganjar, kaum perempuannya yang keukeuhmembangun, memanfaatkan, dan mengeksplorasi potensi kekayaan sumber daya alam laut dan kawasan pesisir serta pulau-pulau kecil untuk kesejahteraan masyarakat. Semua itu dikemas dalam bahasa puisi.

Marilah kita baca puisi karya Ganjar:

Negeriku, Indonesiaku

Sepintas kumemandangmu

Hanya tampak pasir melingkup pantaimu

Dari ujung barat hingga ujung timur

Namun tatkala kutelusuri kedalaman

Menyeruak pemahaman membanggakan

Akan kontribusi pembangunan

Dari pantaimu yang membentang

Pasirmu yang indah dipandang

Dan nyaman untuk bercengkerama

Terumbu karang dan mangrovemu rimbun

Tempat beranak pinak ikan-ikan

Menjadikan perempuan di sekitarmu

Gigih, keukeuh, dan kukuh berumah denganmu

Hingga saat fajar mulai menyapa

Tangan-tangan perempuanku menyapamu

Memetik mangrovemu untuk olahan makananku

Menebar jaring menangkap belanak, rajungan, dan

Ikan-ikan kecil untuk olahan pangan anak-anakku

Maka lihatlah tumbuh kembang generasi kita

Yang tampak menjulang daya nalar, rasa, dan fisiknya

Meski di sisi lain kau pun menangis lara

Tatkala kapal-kapal besar negeri tetangga

Mengeruk kekayaan lautmu yang terdalam

Hari-hari ini, harus diakui, perpuisian di Indonesia mengalami perkembangan cukup pesat, baik secara kualitas maupun kuantitas. Apalagi kini ada media sosial yang banyak membantu para penyair membangun jaringan, bertukar informasi, menampilkan karya secara lebih cepat, dan memberikan kemudahan untuk melakukan studi pustaka dan data secara daring. Semoga di kemudian hari lebih banyak sastrawan dikenal, diakui oleh dunia internasional, serta aktif dalam dunia penciptaan dan pengembangan sastra, terutama puisi.

Syukur alhamdulillah, kegiatan berjalan lancar. Kegiatan peluncuran buku antologi puisi Pesisiran dan dan Negeri Bahari telah dilakukan oleh pejabat yang mewakili gubernur.Kapolsek Semarang Tengah AKP Eni Tri Yuliani dan penyair Genthong Hariono tampil membacakan puisi seusai peluncuran antologi puisi. Malamnya panggung baca puisi diramaikan oleh para penyair seperti Fahmi Wahid dari Balangan Kalimantan Selatan, Sam Mukhtar Chaniago dan Tuti Tarwiyah Adi dari Jakarta, dan tamu undangan seperti Budi Santosa mewakili wagub serta Muhammad Agung Ridlo dari ICMI Orwil Jateng. Kegiatan diakhiri dengan menyanyikan lagu “Kemesraan” yang menciptakan suasana mengharu biru. Para penyair bersepakat bahwa kegiatan Silaturahmi Penyair Negeri diselenggarakan tiap tahun sekali dan ini menjadi salah satu rekomendasi di akhir pertemuan.

Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta, dan dr. Handrawan Nadesul yang juga penyair, memukau ratusan peserta di gedung peninggalan zaman kolonial Belanda itu. Suminto berbicara tentang manfaat sastra bagi kesehatan jiwa dan badan. Dengan menulis dan membaca karya sastra kita mendapatkan kekayaan rohani sekaligus berimplikasi terhadap kesehatan tubuh. Sedangkan Handrawan mengingkatkan agar para penyair menjaga kesehatan agar menghasilkan karya-karya yang lebih berkualitas. Karena kelemahan para penyair adalah mengabaikan kesehatan, misalnya banyak begadang, kurang gerak, dan hidup tak teratur.

Sayang kegiatan city tourtidak bisa terlaksana karena bus yang akan dipakai ternyata digunakan untuk keperluan kedinasan. Mencari pengganti kendaraan di saat  acara akan berlangsung dan pada akhir pekan ternyata tidak semudah membalik telapak tangan. Akhirnya para peserta secara mandiri melakukan keliling Kota Semarang, ke beberapa tempat wisata, terutama Kota Lama, untuk mendapatkan bahan dan sumber pengungkapan artistik bagi puisi-puisi mereka. Tak ada rotan akar pun jadi.

Dewan Kesenian Jawa Tengah tidak bekerja sendirian dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Lembaga kesenian yang menjadi mitra Pemerintah Provinsi Jawa Tengah ini bekerja sama dengan Yayasan Cinta Sastra Jakarta, Komunitas Negeri Poci Jakarta, dan Bengkel Sastra Taman Maluku Semarang. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kota Semarang, dan Tim Penggerak PKK Kota Semarang telah mendukung kegiatan ini. Beberapa pemangku kepentingan juga memberikan kontribusi dan partisipasinya, seperti Komunitas Puisi Esai Indonesia dan Laboratorium Klinik Imam Bonjol IBL. Sampai jumpa lagi di Silaturahmi Penyair Negeri 2020! (Jatengdaily.com—st)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here