Menyiapkan Generasi Emas 2045

0
64

Oleh Prof Dr. Masrukhi, M.Pd.

Guru Besar PKn Unnes

Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Cukup keren topik diskusi yang saya ikuti, yang diselenggarakan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan di akhir bulan oktober 2019 ini.  Dikusi ini diselenggarakan dalam penuntasan rumusan standar kompetensi lulusan di dunnia persekolahan. Kendatipun masih 25 tahun untuk menuju tahun itu, tapi saat itu lah umur kemerdekaan Indonesia yang mencapai 100 tahun. Kerapkali pula dikatakan bahwa henerasi 2045 adalah generasi emas, yang diharapkan dapat memainkan peran dalam membangun Indonesia yang adil makmur dan sejahtera.

Diskusi ini menurut saya bukan main-main, oleh karena berkenaan langsung dengann arahan kebijakan pendidikan. Dari aras kebijakan pendidikan inilah yang memang diharapkan dapat membentuk generasi muda yang diharapkan. Bukankah pembentukan manusia seutuhnya dilakukan melalui proses-proses pendidikan.

Generasi yang sekarang ini sedang memegang peran penting dalam kehidupan, adalah produk dari proses pendidikan yang terjadi 25  tahun yang lalu. Oleh karerna itu merupakan sebuah keniscayaan jika saat ini pun kita perlu merancang proses-proses pendidikan untuk menciptakan generasi tahun 2045.

Tahun 2045, pada saat kelak Indonesia berumur 100 tahun, memang memiliki tantangan yang lebih kompleks daripada kehidupan saat ini. Dua puluh lima tahun merupakan rentang waktu yang cukup panjang dalam sebagai area waktu terjadinya dinamika kehidupan yang baru. Dapat saja terjadi kejutan-kejutan kehidupan baru dengan ekses-ekses nya yang berperngaruh signifikan bagi masyarakat.

Pada saat ini orang gemar menyebut era revolusi industri ke 4 (RI 4.0), generasi milenial Z, atau era disruption. Ketiga istilah ini berasal dari hal sang sama, yaitu era kehidupan digital, dimana setiap masyarakat akan selalu terkoneksi dengan masyarakat lainnya sedunia, melalui jaringan internet, serta terciptanya big data di dunia maya. Pada saat ini saja terjadi perubahan yang besar dalam perilaku kehidupan masyarakat. Mulai dari life style, cara belajar, cara hidup bermasyarakat, sampai kepada cara bekerja pada profesi yang ditekuninya.

Indonesia emas berkenaan dengan usia 100 tahun kemerdekaan negara kita tercinta, dimana tonggak sejarah ini dijadikan dambaan dari masyarakat,tercapainya cita-cita luhur sebagai amanat konstitusi.  Usia 100 tahun diyakini sebagai usia dewasa, dengan pengalaman jatuh bangun di bidang politik, ekonomi, hukum, sosial budaya, untuk mencapai kehidupan kenegaraan yang mapan, dalam pengertian mampu menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran.

Sedangkan globalisasi, merupakan sebuah keniscayaan, yaitu kondisi yang terkoneksi secara efektif dengan masyarakat lain di seluruh dunia, sehingga hilanglah sekat-sekat geografis dan demografi. Dunia sudah menjadi borderless, the big village, the global community, dan sejenisnya. Dalam kondisi demikian, budaya antar bangsa di dunia akan saling melakukan ekspansi, yang kuat akan mengalahkan yang lemah.

Menghadapi kondisi tersebut diperlukan karakter yang antisipatif, proaktif, dan solutif dalam menjawab tantangan-tantangan baru. Beberapa literatur menyebut beberapa karakter yang dibutuhkan di abad 21 ini, kendatipun mereka menyebut dengan istilah “keterampilan”.

The Partnership for 21st Century Skillsmengidentifikasi beberapa karakter yang harus dimiliki para pembelajar di abad 21, agar kelak mereka dapat berprestasi dan bersaing di dunia global. Karakter ini akan menopang secara signifikan terhadap daya jual (marketability) mereka di lingkungannya sesuai dengan profesi yaang ditekuninya, kemampuan bekerja (employability) mereka yang mengarah pada profesionallistas, serta kesiapan menjadi warga negara yang baik (readiness for good citizenship).

Ketiga karakter tersebut kemudian dijabarkan dalam kemampuan berfikir kritis, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan untuk kreatif dan enterpreuneur, kemampuan berkomunikasi dan kolaborasi, kemampuan untuk mentransformasi pengetahuan dalam bentuk pelayanan, serta kemampuan untuk bertanggung jawab sebagai warga negara.

Dalam konteks keIslaman, merencanakan kehidupan di masa depan merupakan hal yang sangat penting. Pada sebuah ayat dalam Al Qur’an, ditegaskan“Yaa aiyuhal ladzina aamanut taqullaha wal tandzur nafsun maa qaddamat lighad, wattaqullaha, innalallaha khabiirun bimaa ta’maluun” Wahai orang orang yang beriman. Bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Q.S al Hasyr 18)

Ayat ini mengisyaratkan pentingnya kita untuk mempersiapkan kehidupan masa depan yang lebih baik, apalagi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Didalam Kitab Badai’ul Fawa’iddengan indah dilukiskan, “Semut selalu mempersiapkan bekal pada musim panas untuk musim hujan yang akan datang. Demikian juga seekor burung, jika telah mengetahui bahwa istrinya hamil maka dia segera  mencari dan mengumpulkan jerami untuk membangun sarang sebelum istrinya bertelur. 

Dalam menafsirkan ayat ini Ibnu Katsir menceriterakan, bahwa suatu pagi, dengan tiba-tiba datanglah kepada Rasulullah Saw. suatu kaum yang tidak beralas kaki dan tidak berbaju. Mereka hanya mengenakan jubah atau kain ‘abaya, masing-masing dari mereka menyandang pedang. Mereka sangat miskin dan mengenaskan.

Rosulullah mengumpulkan para sahabatnya kemudian berkhutbah, yang di dalamnyamembaca pula firman Allah Swt. dalam surat Al-Hasyr, yaitu: dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). (Al-Hasyr: 18).  Hendaklah seseorang bersedekah dengan uang dinarnya, dengan uang dirhamnya, dengan sa’ jewawutnya, dengan sa’ buah kurmanya. Hingga Nabi Saw. bersabda, bahwa sekalipun dengan separo biji kurma.

Maka datanglah seorang lelaki dari kalangan Ansar dengan membawa kantong yang telapak tangannya hampir tidak mampu menggenggamnya, bahkan memang tidak dapat menggenggamnya. Kemudian orang-orang lain mengikuti jejaknya hingga aku (perawi) melihat dua tumpukan makanan dan baju. Dan kulihat wajah Rasulullah Saw. berseri, seakan-akan berkilauan cemerlang, lalu beliau Saw, bersabda “barang siapa yang memprakarsai perbuatan yang baik, maka baginya pahala perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikuti jejaknya sesudahnya tanpa mengurangi sesuatu pun dari pahala mereka. Dan barang siapa yang memprakarsai perbuatan yang buruk, maka dia mendapat dosanya dan dosa orang-orang yang mengikuti jejaknya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka barang sedikitpun”.

Menyiapkan generasi masa depan, memang diperintahkan dalam ajaran Islam. Mempeloporinya untuk melakukan itu adalah sebuah amal saleh, apalagi jika diikuti oleh orang lain, maka akan bertambah pula nilai ama salehnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here