Pemprov Gencarkan Budaya Pilah Sampah di Rumah

0
44
Wagub Taj Yasin mengamati stan Forum Sungai Klampok pada kongres Sampah di Tuntang, Sabtu (12/10). Foto:hms

TUNTANG (Jatengdaily.com) – Perilaku masyarakat Jawa Tengah memilah sampah sesuai jenisnya, masih rendah. Padahal memilah sampah organik dan nonorganik dari rumah tangga sebelum dibuang ke tempat sampah sangat penting, supaya dapat menjadi barang yang bermanfaat dan bernilai ekonomi.

Pernyataan itu disampaikan Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen di sela Kongres Sampah 2019 yang digelar di Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Sabtu (12/10/2019).

Kegiatan yang diinisiasi Pemprov Jateng itu, dihadiri lebih dari 1.000 peserta, termasuk sejumlah gubernur dari berbagai provinsi di Indonesia, bupati dan wali kota, serta Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Rosa Vivie  Ratnawati dan pejabat terkait lainnya.

“Selama ini kita selalu memikirkan dan membangun TPA dan TPA (tempat pembuangan sampah akhir), ternyata itu kurang efektif. Karena sebenarnya yang penting adalah adanya budaya memilah sampah mulai dari rumah tangga. Setelah dipilah sampah organik dan nonorganik itu dapat disetorkan ke industri-industri atau sentra-sentra pengolahan sampah, sehingga sampah menjadi barang bernilai guna,” kata Taj Yasin.

Menurutya, saat ini permasalahan sampah di Indonesia sudah sangat serius. Apalagi Indonesia menjadi negara penyumbang sampah terbesar setelah Cina. Melalui Kongres Sampah 2019 yang diinisiasi Pemprov Jateng ini, diharapkan bisa menghasilkan solusi penanganan masalah sampah di Jateng, cara atau konsep bagaimana mengelola sampah dengan baik, meningkatkan SDM terkait pengelolaan sampah, dan aktivitas bank sampah.

“Ini sesuai permintaan Presiden RI Joko Widodo, bahwa pada tahun 2025 Indonesia harus bisa mengurangi 35 persen sampah. Sehingga beragam sampah yang dihasilkan warga ataupun industri tidak terbuang sia-sia,” katanya.

Tidak kalah penting menurut Taj Yasin adalah mendorong masyarakat untuk membuat, memasarkan, dan menggunakan produk-produk berbahan sampah. Sebab tidak sedikit warga yang telah mengolah sampah menjadi barang berharga tetapi tidak ada yang membeli atau memanfaatkan produk berbahan sampah.

“Kongres Sampah ini yang pertama dan diharapkan tidak hanya berhenti di Kabupaten Semarang, tetapi berlanjut ke 35 kabupaten dan kota di Jateng dan seluruh daerah di Indonesia. Para peserta yang hadir ini diharapkan menjadi virus dan menyebarkan kemana-mana, nah itu tujuan kita adakan kegiatan ini,” harapnya.

Kegiatan Kongres Sampah juga diharapkan tidak sekadar seremonial, melainkan harus ditularkan kepada keluarga, tetangga, teman dan semua orang supaya membudayakan diri untuk membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah mulai dari rumah, kemudian mengolah sampah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi atau bermanfaat bagi lingkungan.

Dalam upaya pengurangan sampah, lanjut dia, beragam program terus digiatkan Pemprov Jateng. Salah satunya gerakan membawa air minum sendiri dalam botol, penggunaan tempat minum nonplastik, tidak menggunakan tempat minum kemasan plastik di lingkungan kantor dan acara-acara lain yang terkait dengan kedinasan, gerakan tempatkan sampah pada tempatnya, serta resik-resik sampah di lingkungan tempat kerja.

Senada disampaikan Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Rosa Vivie  Ratnawati. Tema kegiatan “Sampah Membawa Berkah”, artinya sampah tidak hanya dibuang, melainkan diolah atau didaur ulang menjadi suatu produk yang bermanfaat bagi masyarakat dan bernilai jual. Sehingga gerakan memilah sampah dari rumah menjadi kunci dalam penanganan sampah di Indonesia.

“Ayo kita gencarkan bank sampah, kita sukseskan sampah membawa berkah, sehingga sampah tidak lagi dibuang ke TPA tetapi residunya yang dibawa ke TPA. Selain itu, dalam rangka pengurangan sampah plastik, biasakan membawa tas sendiri saat belanja di pasar, tidak memakai plastik atau styrofoam untuk membungkus makanan,” pintanya.

Menurutnya, pemilahan sampah sejak di rumah tangga merupakan kunci kesuksesan pengelolaan sampah. Selain itu, semua masyarakat juga wajib mengurangi sampah yang dimulai dari diri sendiri. Di antaranya membiasakan tidak pakai sedotan plastik, tidak menggunakan plastik untuk membungkus makanan.

Ia berharap, apabila tahun depan  Kongres Sampah digelar kembali, Jawa Tengah harus lebih baik dari sekarang dalam penanganan sampah. Apalagi sekarang dalam penilaian Adipura yang terpenting adalah bagaimana pengurangan dan penanganan sampah.

Salah satu peserta Kongres Sampah, Rois mengatakan, tidak perlu menjadi superhero untuk menyelamatkan bumi dari sampah, tetapi cukup membuang sampah pada tempatnya dan mengurangi penggunaan plastik maka akan memberikan dampak positif bagi lingkungan. Membuang sampah pada tempatnya akan menjadikan lingkungan bersih dan sehat sekaligus menginspirasi terhadap sesama.

Anggota pegiat sampah World Cleanup Day Jateng, kostum yang terbuat dari ratusan lembar kantong plastik aneka warna yang menempel ditubuhnya itu sebagai simbol bahwa jika kebiasaan membuang sampah sembarangan maka akan berakibat buruk terhadap lingkungan, sampah plastik akan menggunung dan butuh puluhan bahkan ratusan tahun untuk terurai.

“Kalau tidak dimulai dari diri sendiri terus siapa, kalau bukan dari sekarang lalu kapan kita akan membiasakan membuang sampah pada tempatnya. Acara ini akan menjadi pemantik bagi kita semua untuk mengurangi sampah plastik dan mencintai lingkungan,” tandasnya. st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here