Pengelola Kota Lama Terus Berinovasi

0
82
Keroncong dengan lagu-lagu legendaris, Kamis malam mewarnai di lorong Kota Lama. Foto: Ugl

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Kendati kawasan Kota Lama sudah moncer dan tak pernah sepi pengunjung, Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L), Hevearita G. Rahayu tak mau berhenti untuk berkreasi dan berinovasi agar Kota Lama tetap terus memiliki daya tarik yang luar biasa.

Mbak Ita, sapaan akrab Hevearita G Rahayu terus melakukan inovasi-inovasi aktual agar kawasan Kota Lama, kian terus memiliki daya pikat pengunjung.

Mbak Ita mendorong agar kelompok hiburan yang didata di Kota Lama bisa diberikan tempat pada beberapa titik. Terutama area Kota Lama yang saat ini, dinilai masih sepi.

“Sekarang keramaian di Kota Lama terpusat di Jalan Letjen Suprapto. Saya harapkan nanti usai pendataan kelompok hiburan dan kesenian bisa ditempatkan pada titik di Kota Lama yang masih sepi misalnya di Jalan Kepodang dan Sendowo,” ucapnya.

Jadi, kawasan Kota Lama yang senantiasa dari pagi, siang hingga sore serta malam hari selalu keramaian mewarnai Kota Lama itu, mbak Ita berharap keramaian bisa tersebar di kawasan Kota Lama, tidak hanya berpusat di satu area,” ujarnya, Kamis (3/10/2019).

Dia memberikan batasan untuk kelompok hiburan, mereka harus memberikan atau menyajikan musik yang sesuau tema heritage. Seperti hiburan musik bergenre keroncong dan jazz.

Ita sapaan akrab Hevearita G Rahayu mendorong Dinas Perhubungan melakukan persiapan kantong-kantong parkir untuk mengatasi persoalan parkir di Kota Lama. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemilik lahan yang disiapkan untuk parkir.

“Agar mereka pemilik lahan yang menyediakan parkir di Kota Lama diberikan keringanan pembayaran PBB atau perizinannya dipermudah,” imbuhnya.

Pihaknya membatasi agar para seniman maupun pedagang bisa berjualan di lokasi yang telah disediakan. Dia tidak sependapat jika semua pedagang dan PKL masuk di Kota Lama.

“Prinsipnya kita menata kawasan Kota Lama agar lebih rapi dan tertib. Apalagi saat ini, banyak dikunjungi masyarakat maupun wisatawan. Jadi harus dibatasi dan di data untuk pelaku seni dan usaha serta ditata. Tidak boleh masuk semua,” katanya.

Ita menambahkan, kementrian koperasi dan UKM akan memberikan bantuan berupa lapak-lapak dengan disesuaikan dengan kondisi heritage termasuk barang yang dijual. Misalnya, handycraft dan baju khas Kota Semarang.

“Ya itu akan ditempatkan di Jalan Kedasih. Saya minta pelaku usaha sabar, karena revitalisasi Kota Lama juga belum selesai,” tandasnya.Ugl–st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here