Teater Lingkar Sukses Tampilkan ‘Orang Kasar’

0
102
Teater Lingkar saat menampilkan drama Orang Kasar yang tak ada.komediannya. Foto: Ugl

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Lingkungan memiliki pengaruh kuat terhadap perangai orang, dan lingkungan keras dapat bermuara pada orang bisa berbuat kasar.

Itulah mengapa Teater Lingkar sukses mementaskan drama dengan tema ‘Orang Kasar’ karya Anton Chekov di Gedung Serbaguna Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Sabtu (23/11/2019), malam.

Teater Lingkar mengangkat drama ‘Orang Kasar’ lantaran lingkungan keras begitu sangat berpengaruh terhadap karakter orang menjadi kasar.

Para pemain yang semuanya merupakan kru Teater Lingkar mengemas dalam drama Orang Kasar dengan apik, cantik dan menarik untuk diikuti alur ceritanya.

Tiga awak Teater Lingkar, Sindhunata Gesit Widiharto (Bilal), Nanik (Nyonya Martopo), Tegsa Teguh Satriyo (Mandor Darmo) bermain dua kali, sore dan malam yang masing-masing tiap penampilan disaksikan oleh pelajar, mahasiswa dan umum.

Drama ini berkisah dari seorang janda Nyonya Martopo yang ditinggal mati suami tercinta dengan meniggalkan banyak utang.

Hidup Nyonya Martopo terusik ketika datang sang penagih hutang yang mengaku bernama Bilal untuk menagih utang suaminya. Si janda yang diperankan dengan baik oleh Nanik, enggan melunasi karena merasa tak meminjam dan memakai uang itu.

Perseteruan pun terjadi antara si janda dengan lelaki penagih utang itu. Nyonya Martopo berusaha keras untuk mengusir Bilal, bahkan sempat ingin menembaknya dengan senapan. Namun, Nyonya Martopo tak bisa menggunakan senjatanya itu.

Karena merasa aneh, Bilal, si penagih hutang malah mengajari Nyonya Martopo, bagaimana cara menggunakan senjata yang benar.

Tak sengaja terjadi pandangan mata, saling beradu pandang dan muncul perasaan yang disebut jatuh cinta.

Ya, si penagih utang itu, malah akhirnya jatuh cinta dengan si janda Martopo. Gejolak batin hadir dalam pertunjukan ini.

Suhartono Padmo Sumarto yang melekat dengan nama Mas Ton sebagai sutradara piawai dalam menggarap naskah realis ini, dengan settingan tahun 1980-an.

Yang menarik dari pementasan tersebut, tak banyak adegan komedial yang selama ini menjadi ciri khas pertunjukan Teater Lingkar. Kesan keras dan tegang dibalut dengan cinta kasih akhirnya adegan tersebut menjadi kasih sayang.

Mas Ton mengatakan, sebagai seorang teaterawan tidaklah menjadi poin utama mempersulit diri untuk jauh-jauh membedah kesejarahan suatu naskah sehingga menimbulkan ketakutan untuk berkarya.

Potensi bentuk yang berbeda-beda antara penggarapan suatu naskah realis yang dipentaskan satu kelompok dengan kelompok lain, justru membuat warna dalam dunia kreatif teater. Ugl–st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here