DEMAK (Jatengdaily.com) – Sebanyak 140 guru SD/MI mengikuti pelatihan pembina Palang Merah Remaja (PMR) yang diadakan PMI Demak. Selain mendapatkan pengetahuan tentang manajemen PMR dan Sekolah Siaga Bencana (SSB) serta perawatan keluarga, peserta juga berkesempatan praktek langsung cara pertolongan pertama.
Bupati HM Natsir selaku pembina PMI Demak dalam arahannya menyampaikan, tidak ada niat dan tujuan lain bagi personel PMI kecuali iktikad membantu. “PMI adalah kerja melayani. Kalau ingin jadi pelayan yang baik, hatus diniatkan ikhlas membantu. Insya’Allah surga tidak usah dicari. Tinggal ingin masuk melalui pintu yang mana,” kata bupati, Jumat (1/11/2019).
Namun untuk menuju ‘surga’ itu, tidak bisa sembarangan. Harus menguasai ilmu dan keterampilan ke-PMI-an. “Tidak bisa asal niat membantu tapi keliru caranya, bisa-bisa malah membahayakan yang ditolong,” imbuh bupati, didampingi Ketua PMI Demak dr H Singgih Setyono.
Disebutkan pula, saat proses belajar, pendidikan dan pelatihan, harus berani salah. Coba lagi dan coba lagi sampai benar. Seperti halnya ‘trial and error’. Ketika hal benar diperoleh, Insya’Allah bermanfaat bagi sesama. Seperti pernah dilakukan Thomas Alfa Edison, yang tak lelah melakukan percobaan-percobaan hingga diperoleh suatu kebenaran.
Menurut Bupati Natsir, pelatihan pembina PMR sangat dibutuhkan karena wilayah Kabupaten Demak berpotensi terjadi bencana. Banyak dilewati sungai besar, sementara sekolah-sekolah tersebar lokasinya sehingga rawan bencana dan rawan kecelakaan.
Maka itu penting guru punya ilmu dan keterampilan dalam mebantu bencana tidak hanya di sekolah tapi juga bagi masyarakat sekitar. Terlebih guru di desa atau pedalaman banyak dibutuhkan masyarakat.
PMI harus bergerak terus. PMR termasuk kadernya. Jika perlu PMR ada di setiap sekolah. Sehingga anggota PMI tidak kekurangan kader, karene regenerasi terus berlangsung dan sudah siap.
Di sisi lain, Ketua PMI Demak dr H Singgih Setyono yang juga Sekda Demak itu mengapresiasi jumlah peserta pelatihan pembina PMR yang berlimpah melebihi target. Itu pertanda tingginya kesadaran masyarakat akan kesiapsiagaan bencana.
“Silakan dimanfaatkan pelatihan ini seoptimal mungkin. Sebab selain tidak ada biaya dan tidak semua orang bisa menjadi peserta, dihadirkan para narasumber dan ahli di bidang kesiagaan bencana. Termasuk para personel terlatih tentang pertolongan dasar hidup dari RSUD Sunan Kalijaga yang telah mendapatkan akreditaai paripurna bintang lima,” tandas Singgih Setyono, didampingi Kepala Markas PMI Ade Heriyanto. rie-yds
