Nyadran di Dusun Ngentak, Desa Klero, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang.

UNGARAN -Tradisi menjelang puasa yang sering dikenal dengan nyadran, sudah mulai dilakukan masyarakat. Termasuk ribuan masyarakat di RT 20 RW V, Dusun Ngentak, Desa Klero, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang.

Mereka makan bersama, berjejer atau berbaris rapi di jalan yang menuju Makam Batu. Makanan dibawa sendiri-sendiri dari rumah dan akan saling bertukar bekal ketika makan. Kumpul bersama, makan bersama, dan saling berkomunikasi merupakan wahana saling mengakrabkan satu sama lain, sembari melestarikan budaya.

Sunardi (43) Juru Kunci Makam Batu, RT 20 RW V, Dusun Ngentak, Desa Klero, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang mengatakan, nyadran ini telah berjalan berabad-abad lamanya.

“Sadran atau nyadran ini merupakan kegiatan tahunan yang diikuti 9 RT dengan tiap RT sebanyak kurang lebih 100 KK dari RW V, sehingga total warga yang terlibat kurang lebih 1000-an mulai dari anak-anak, perempuan, laki-laki muda hingga lanjut usia,” kata Sunardi.

Dalam bahasa Jawa, nyadran (berasal dari kata sadran) yang artiya ruwah syakban. Nyadran adalah suatu rangkaian budaya yang berupa pembersihan makam leluhur, tabur bunga, dan puncaknya berupa kenduri selamatan di makam leluhur. Uniknya, di dalam makam ini juga terdapat Candi yang dikenal dengan Candi Klero.

Jelang siang, nyadran pun berakhir dengan satu keluarga berkeliling di satu pusaran milik sanak saudara yang telah meninggalkan dengan mengirimkan doa. Nena

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here