BPOM Periksa Coklat yang Sebabkan Anak Meninggal-Polisi Tarik Peredarannya

0
74

SEMARANG (Jatengdaily.com) -Sampai hari ini, Jumat (26/4/2019) BPOM masih memeriksa sampel, permen coklat yang menyebabkan keracunan dua bocah. Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Semarang, Safriansyah menyatakan sudah menerima sampel permen yang diduga menyebabkan dua orang keracunan, satu diantaranya meninggal dunia usai mengkonsumsi permen coklat jenis Mermaid dan Meises.

“Kita sudah menerima sampel permen coklat tersebut untuk segera dilakukan uji laboratorium. Tentunya ini butuh waktu,” kata Safriansyah. Dia menyebut sampel tersebut yang diambil yaitu yang dikonsumsi oleh dua anak yang diduga keracunan dan yang dijual dari hasil penyitaan dari pedagang. “Kita akan cek, kita belum tahu hasilnya dengan berkoordinasi Dinkes Pekalongan,” ujarnya.

Kapolres Pekalongan Kota AKBP Ferry Sandi Sitepu mengatakan meminta sejumlah petugas untuk segera mencari barang permen coklat tersebut untuk segera dilakukan penyitaan. “Kami minta petugas cari barang tersebut di setiap lini Pekalongan untuk ditarik. Ini untuk mengantisipasi korban berjatuhan,”jelas Ferry Sandi Sitepu

Seperti diketahui, gara-gara jajan sembarangan, satu anak meninggal dunia dan dirawat di rumah sakit. Mereka diduga keracunan akibat mengonsumsi permen coklat, satu anak bernama Jesika Putri (5) warga Panjang Wetang, Gang 1 Kecamatan Pekalongan Utara meninggal dunia setelah menjalani perawatan di RSUD Bendan. Sedangkan, Nur Syria Rahma (5) warga Panjang Wetan Gg 1 B Pekalongan Utara masih menjalani perawatan intensif di RSU Budi Rahayu.

Kapolres Pekalongan Kota, AKBP Ferry Sandi Sitepu mengatakan pihaknya langsung melakukan penyelidikan dengan memeriksa pedagang, Mardjiana. “Kita periksa saksi pedagang permen coklat. Dalam keterangannya memang benar menjual permen tersebut di warungnya,” kata Ferry Sandi Sitepu.

Dari hasil pemeriksaan pedagang bahwa ada beberapa anak yang membeli permen coklat di warungnya pada Rabu (24/4) pukul 17.00 WIB. Setiap hari, Mardjiana memang menjual permen dengan konsumen dari anak-anak.

“Satu permen coklat harganya Rp500. Tujuh anak beli permen itu, tapi hanya dua orang yang keracunan,” ujarnya.

Usai membeli, oleh anak tersebut dimakan bersama-sama. Namun tidak lama kemudian, beberapa anak langsung muntah-muntah diduga mengalami keracunan setelah memakan permen coklat dan dilarikan rumah sakit.

“Total dua orang anak yang mendapatkan perawatan di rumah sakit. Satu orang meninggal pada Kamis (25/4) pagi, satu anak selamat namun masih kondisi lemas,” jelasnya. adri-she

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here