PATI (Jatengdaily.com) – Layu-layu,
umiring sang kinkin,
sajroning patunggon, sung sasanti,
sang dyah kamuksane,
Nedya anut mring sang guru laki iiii…..
Kang gugur madyaning palugon……..
Gending Sendon Tlutur Ayak Ayak Mijil Layu Layu tersebut mengiringi adegan Arjuna Mati dan dipanggul Punokawan untuk dibawa pulang ke Amarta. Kematian Arjuna bermula ketika ia yang ingin mendapatkan Wahyu Purboningrat bertapa atas kemampuan sendiri mengambang di atas samudra, ditemani para Punokawan yang bisa berenang karena diberi jimat oleh Semar.
Dewa Srani mengetahui Arjuna menjadi pesaing maka berusaha menggagalkannya namun tidak berani menyerang karena takut akan gugur persyaratannya. Setelah memutar otak maka ketemu ide yaitu hendak membunuh Punokawan dengan maksud membuat sedih Arjuna sehingga Arjuna akan batal bertapanya karena harus keluar dari samudra, untuk memakamkan Punokawan sebagai kewajiban gusti terhadap kawula.
Arjuna mengetahui arah panah yang menuju Punokawan justru menghadang panah tersebut demi menyelamatkan Punokawan. Sehingga panah mengenai dada Arjuna hingga mati. Arjuna yang mati dipanah Dewa Srani kemudian dihidupkan oleh Prabu Kresna dengan bunga Cangkok Wijayakusuma dan Arjuna hidup kembali diiring lagu Indonesia Raya.
Dewa Srani karena curang telah membunuh Arjuna dan dalam hatinya hanya akan mementingkan kelompok dan golongannya yaitu Partai Demit, demi menaklukkan manusia maka tidak berhak mendapat Wahyu Purboningrat.
Atas ketulusan bertapanya dan ikhlas mati demi membela Punokawan , akhirnya Arjuna mendapat Wahyu Purboningrat sebagai lelananging dan lancur jagad, menjadi berani, jujur dan bersih sehingga akhirnya dilantik jadi Jaksa Agung seluruh Mayapada, untuk memberantas korupsi dan menegakkan keadilan bagi semua makhluk baik manusia dan lelembut tanpa memandang golongan dan partainya.
Itulah sepenggal klimaks cerita dari pertunjukan wayang kulit yang digelar pegiat antikorupsi Jateng, Minggu (22/9/2019) malam hingga Senin (23/9/2019) dinihari di Alun-alun Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati dengan dalang Ki Seno Nugroho. Lakon pertunjukan tersebut ‘Wahyu Purboningrat Calon Jaksa Agung Negeri Amarta’

Koordinator kegiatan Boyamin Saiman mengatakan, pentas wayang kulit semalam suntuk ini untuk memberikan edukasi kepada masyarakat dan menyesuaikan dengan situasi perilaku tindak korupsi saat ini yang masih marak.
Dalam cerita tersebut, Arjuna bersedia mengorbankan dirinya kena panah Dewa Srani demi melindungi Punokawan. Ketulusan hati Arjuna berkorban demi punokawan/rakyatnya akan dikenang sepanjang masa.
Sedangkan gending Sendon Tlutur Ayak Ayak Mijil Layu Layu, saat mengiringi kematian Arjuna akibat panah Dewa Srani menimbulkan nostalgia dengan dalang Ki Narto Sabdo, yang setiap adegan kematian/gugur wayang diiringi gending ini. Membuat penonton larut ikut bersedih dan menangis.
“Wayang mampu menjawab dan solusi masalah kekinian. Wahyu Purboningrat perwujudan lelaki sejati yang akan menegakkan keadilan dan memberantas korupsi (Jaksa Agung), sebagai bentuk wayang kulit mampu menjadi kritik dan solusi keadaan yang terjadi saat ini. Di mana saat ini banyak pejabat yang korupsi dan mementingkan kelompok dan partainya,” ungkap Boyamin. yds