SEMARANG (Jatengdaily.com) – Aksi begal yang beberapa kali terakhir ini terjadi dan meresahkan warga Kota Semarang, kini menjadi perhatian penuh Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang.
Assisten 1 Pemerintahan dan Pembangunan Kota Semarang, Trijoto Sardjoko mengatakan, Pemkot Semarang memiliki peran untuk melakukan usaha preventif agar tidak terjadi pembegalan.
Berbagai upaya pencegahan yang dilakukan Pemkot Semarang di antaranya menyiapkan penerangan jalan umum (PJU) di setiap jalan hingga sudut Kota Semarang. Lalu, pemasangan CCTV di setiap RT di seluruh Kota Semarang juga tengah dilakukan.
“PJU kami pasang hingga ke kampung-kampung agar suasana lebih terang sehingga mempersempit ruang gerak pembegal melakukan aksi. Kemudian, pemasangan CCTV, meskipun belum optimal karena baru satu setiap RT, setidaknya bisa mempersempit orang untuk melakukan tindak kejahatan,” papar Trijoto saat melakukan Diskusi Mengatasi Begal dan Jambret, di Gets Hotel, Rabu (27/11/2019).
Pemasangan CCTV, kata Trikoyo ada sebanyak 10.293 masih terus berjalan. Rencananya, Pemkot mengintegrasikan CCTV tersebut ke situation room Pemkot Semarang dan Polrestabes Semarang. Pengintegrasian CCTV sudah dianggarkan pada 2020.
Tidak hanya itu saja, Pemkot juga sudah membuat surat edaran yang disebar untuk setiap kelurahan agar kembali mengaktifkan kegiatan Siskamling.
“Paling tidak, kalau ada banyak orang ngobrol di pos Siskamling akan mengurangi ruang gerak orang yang akan berbuat jahat atau pembegal,” tambahnya.
Di sisi lain, pihaknya juga menyiapkan berbagai terobosan penanggulangan kemiskinan, berbagai pelatihan keterampilan, hingga kredit wibawa sebagai modal usaha. Masyarakat dapat mengikuti program-program tersebut. Sehingga diharapkan, faktor kemiskinan yang menjadi penyebab orang melakukan tindak kejahatan bisa diminimalisasi.
Ketua DPRD Kota Semarang, Kadarlusman menilai, maraknya aksi begal disebabkan oleh beberapa masalah. Satu di antaranya, keluarga yang kurang harmonis, sehingga menyebabkan pergaulan bebas di kalangan remaja.
“Mereka kumpul-kumpul dengan temannya, minum pil koplo, minum miras. Perkumpulan itu yang berpotensi menyebabkan mereka melakukan sebuah tindak kejahatan,” ujar Pilus, sapaan akrabnya.
Menurutnya, meminimalisasi aksi kejahatan bukan hanya tugas Kepolisian maupun pemerintah saja. Ia juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga keamanan lingkungannya untuk mempersempit aksi tindak kejahatan.
Ia pun akan mendukung berbagai program yang dilakukan pemkot untuk meminimalisasi aksi begal di Kota Semarang.
“Kalau memang harus ada program untuk meminimalisasi begal, kami akan support dari sisi anggaran,” ucapnya. Ugl–st
