Santri Jadi Langganan Wisudawan Terbaik di UIN Walisongo

Muizzatus Saadah (22) sebagai wisudawan terbaik periode Agustus 2019 UIN Walisongo. Foto: Ody

SEMARANG (Jatengdaily.com)– Dari tahun ke tahun, para wisudawan terbaik di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang rata-rata adalah seorang mahasiswa yang tidak hanya belajar di kampus saja melainkan, mereka juga belajar dan tinggal di sebuah pesantren.

Salah satunya yang terbaru, wisudawan terbaik UIN Walisongo periode Agustus 2019 disandang oleh Muizzatus Saadah (22).

Mahasiswi Kelahiran Jombang, 5 Februari 1997 ini lulus sebagai Sarjana (S1) meraih nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,94 dengan menempuh waktu delapan semester atau empat tahun.

Menjadi mahasiswi Fakultas Ushuludin Jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir, ia ternyata juga diberi tanggungjawab sebagai pengurus di Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Ngaliyan Semarang.

“Berawal tinggal di pesantren inilah, semangat belajar terus dimotivasi baik itu sebagai mahasiswa maupun sebagai santri selain orang tua juga oleh pengasuh,” ujar Izza panggilan akrabnya, Kamis (29/8/2019).

Kebetulan, kata Izza pengasuh pesantren Besongo adalah Abah Imam Taufiq rektor baru UIN Walisongo dan Umi Arikhah yang juga sebagai dosen yang selalu memberikan motivasi belajar.

“Satu kalimat yang terus saya ingat dari kata umi (ibu pengasuh) adalah long life education yakni pendidikan sepanjang hayat atau hidup itu harus belajar. Motivasi inilah yang terus diterapkan para santri Besongo,” ungkapnya.

Jadi, prestasi ini menurutnya tidak disangka. Ia mengaku sama halnya mahasiswa lain yakni belajar dan mencari penggalaman di kampus.

“Mungkin ini adalah salah satu rezeki yang diberikan Allah untuk saya dengan jalan yang tidak disangka. Dan hasil ini bukan semata-mata murni dari saya, memainkan buah dari doa ibu, keluarga, abah dan umi pengasuh serta dia guru-guru dan teman-teman saya,” katanya.

Menurutnya, peran pesantren sebagai penopang belajar di sebuah perguruan tinggi sangat penting. Karena, pesantren sebagai sarana tempat wujud pembentukan karakter dan kemandirian seseorang setelah perguruan tinggi.

“Jadi pesantren benar-benar membantu menguatkan pembentukan karakter santri menemukan jatidirinya. Karena, nilai-nilai ketawadu’an, kemandirian, kebiasaan, diajarakan di pesantren. Inilah yang membuat santri gigih berporses dalam mencari ilmu,” ujarnya Izza yang sejak semester tiga mendapatkan beasiswa prestasi di kampus.

Hal ini sebagai mana terobosan yang akan dilakukan oleh Rektor baru UIN Walisongo Prof Imam Taufiq. Dia mengatakan, akan membuat progam mewajibkan seluruh mahasiswa baru untuk tinggal di pesantren minimal satu tahun dengan bekerjasama dengan pondok pesantren yang berada di sekitar kampus.

Peran pesantren juga membantu Izza, mahasiswi yang pernah menjadi lurah pondok saat mengambil skripsi berjudul “Kearifan Lokal dalam Tafsir Al Azhar Studi Surat Al-Baqarah” karya ulama asal Sumatera Barat Buya Hamka.

“Saya tertarik meneliti kearifan lokal dalam buku tafsir Alquran karya Buya Hamka karena mempunyai dimensi kenusantaraan dan keindonesiaan,” terangnya.

Sementara itu Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan Dr Mukhsin Jamil menyampaikan, bahwa untuk periode Agustus 2019 UIN Walisongo meluluskan 1.131 orang wisudawan, terdiri dari 16 Doktor (S3), 68 orang Magister (S2), 955 orang Darjana (S1) dan 92 orang Ahli Madia (D3).

“Dengan demikian, sejak berdirinya pada tahun 1970, UIN Walisongo Semarang telah meluluskan 252 Doktor, 1.552 Magister, 34.773 Sarjana, 1.193 Ahli Madia dan 105 Ahli Muda,” jelasnya. Ody-she

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version