Gagasan Keislaman Buya Yunahar Ilyas

0
80

Oleh Prof Dr Masrukhi, MPd

Guru Besar PKn Unnes

Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang

Tepat di hari kedua, dalam suasana tahun baru 2020 Miladiyyah, kita dikejutkan dengan wafatnya sosok ulama, wakil ketua Majlis Ulama Indonesia dan juga wakil Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr KH Yunahar Ilyas Lc yang kerapkali dipanggil dengan Buya Yunahar. Beliau wafat pada hari Kamis 2 Januari 2020 jam 23.47 di RS Sarjito Yogyakarta. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

Kepergian beliau meninggalkan banyak kenangan tersendiri. Ceramahnya yang mudah dicerna, dengan gaya santai, terkadang diselingi canda, namun penuh makna. Pada beberapa youtube dapat kita jumpai gagasan pemikiran beliau tentang kehidupan keislaman di Indonesia. Beliau kerapkali menekankan kehidupan beragama yang bersifat wasathiyyah yang secara harfiyyah berarti “yang di tenngah”.

Maknanya adalah kehidupan yang terjalin dalam kebersamaan yang harmonis, saling menghorati dan saling menghargai, meskipun berbeda budaya, berbeda agama, berbeda suku, pun juga berbeda keyakinan atau paham. Islam rahmatan lil alamiin melingkupi kehidupan secara keseluruhan, terangnya dalam sebuah ceramahnya.

Buya Yunahar adalah sosok ulama yang sederhana gaya hidupnya, santun gaya bahasanya,  serta dekat dengan semua kalangan. Humor-humor kecil kerapkali muncul di sela-sela ceramahnya, sehingga membuat suasana segar dan tidak membosankan.

Tidak hanya dalam bentuk ceramah, gagasan dan pemikiran keislaman beliau pun banyak tertuang dalam buku-buku karyanya. Di antaranya adalah yang kerap saya baca Kuliah Aqidah Islam, Kesetaraan Jender dalam Alquran, Penggerak Ulama Pelindung Umat, Konstruksi Pemikiran Jender dalam Pemikiran Musafir.

Wafatnya seorang ulama berarti juga terhentinya produktivitas pemikiran keilmuannya. Kendati pun seorang ulama tersebut meninggalkan karya intelektual yang dapat diwarisi oleh ummat sesudahnya, akan tetapi ruang audiensi, silaturahmi, konsultasi, nasihat teduh yang langsung dapat diterima dari ulama tersebut sudah tidak bisa dijumpai lagi.

Kerapkali ketika kita menghadap dan bersilaturahmi dengan ulama, akan tercipta suasana sejuk, nyaman, tentram dan berkah, sudah tentu petuah-petuah pun dapat diperoleh. Hal ini tercipta oleh aura keikhlasan dari sang ulama untuk menjadi pencerah ummatnya, yang  sangat terasakan sekali. Beberapa kali penulis bertemu dan bersilaturahmi dengan Buya Yunahar, hal itulah yang terasakan. Demikian juga ketika kami bersilaturahmi dengan beberapa ulama lain.

Saya jadi teringat sebuah hadits rosulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhoni, pada hadits yang ke 78. Diriwayatkan hadits dari Hisyam bin ‘Urwat, dari Abdullah bin ‘Amru bin al-‘Ass (r.a) berkata: ‘Aku mendengar Rasulullah (s.a.w) bersabda: ‘Innallaha la yaqbidul-ilmi intiza’an yantazi’uhu minal ‘ibadi wa-lakin yaqbidul-ilma biqabdil- ‘ulamai, hatta iza lam yabqa ‘aliman at-takhazan-nasu ru-usan juhhalan fasuilu fa-aftau bighairi ‘ilmin fadallu wa-adallu 

Secara bebas, hadits itu berarti bahwa Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dengan mencabutnya begitu saja dari hambaNya, akan tetapi Allah akan mencabut ilmu itu dengan cara mematikan para ulama itu. Sehingga ketika tiada lagi orang yang berilmu, maka manusia akan mengangkat pimpinannya dari orang-orang yang jahil (tidak berilmu), sehingga ketika ditanyakan sesuatu masalah (untuk dimintakan fatwa), keluarlah fatwa dengan tanpa didasari oleh ilmu. Maka yang demikian itu akan sesat dan menyesatkan bagi masyarakatnya.

Hadits tersebut memberikan bahan renungan kepada kita bahwa manakala wafat seoranng ulama atau seorang intelektual, saat itu bukan hanya persitiwa kematian saja yang terjadi, akan tetapi Allah telah mencabut ilmu yang dimilikinya dari muka bumi ini.

Ulama adalah sosok panutan bagi ummatnya, karena keluasan ilmu keIslaman yang dikuasainya, ketaatan yang tidak berpenghalang kepada Allah swt,  ke”zuhud’an sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang digambarkan oleh  Ibnul Qayyim dalam kitabnya I’lan al-Muwaqi’in ‘an rabbal-‘aalamin, bahwa ulama itu adalah orang yang alim terhadap Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, serta perkataan para shahabat, maka menjadilah dia seoranng mujtahid (ahli ijtihad) dalam menjawab persoalan-persoalan nawazil, yaitu masalah kontemporer yang kompleks yang terjadi dalam kehidupan manusia.

Sepanjang tahun 2019, kita telah kehilangan ulama dan tokoh panutan ummat seperti KH Arifin Ilham, KH Maemun Zubeir, dan BJ Habibi. Semoga arwah para ulama diterima di sisi Allah swt, dan ditempatkan yang mulia di sisiNya.

Sekarang tinggal bagaimana generasi muda mempersiapkan diri, menempa dan belajar keilmuan dengan sebaiknya-baiknya, baik ilmu tentang keIslaman maupun ilmu umum. Sarana prasarana dan lembaga pendidikan keagamaan saat ini begitu memadai, seiring dengan perkembangan dinamika kehidupan manusia. Akan tetapi tantangan yang dihadapi pun semakin kompleks, terkait dengan posisi generasi muda saat ini yang berada di era milenial. Godaan untuk terus terlibat dalam kehidupan maya begitu tinggi, sehingga jika tidak mampu membawakan diri dengan baik, akan terjebak pada irama kehidupan dunia maya yang hari-harinya akan dikendalikan oleh internet tanpa mengenal batas waktu.

Kita bersyukur bahwa agama Islam memberikan penghargaan kepada para generasi penuntut ilmu, sebagai seorang mujahid, orang yang sedang berjuang di jalan Allah swt. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi, menegaskan Man Khoroja Fii Thoolabil Ilmi Fahua Fi Sabiilillahi Hatta Yarji’a, yang berartibarang siapa yang keluar rumah untuk mencari ilmu maka ia ada di jalan Allah hingga ia kembali.

Di dalam hadits lain, rosulullah swt juga memberikan motivasi kepada generasi muda pencari ilmu sebagai orang dimudahkan oleh Allah menuju syurga. Kata Nabi,  Man Salaka Thoriiqon Yaltamisu Fiihi Ilman Sahhalallahu Lahu Thoriiqon Ila Al Jannah. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, yang artinya ‘’Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga’’.

Masih banyak hadits lain yang berisikan tentang keutamaan mencari ilmu, baik ilmu keIslaman maupun ilmu umum. Akan tetapi dua hadits yang dinukilkan di atas sudah cukup representatif, untuk menunjukkan betapa kegiatan mencari ilmu, apakah di sekolah, di pesantren, di perguruan tinggi, di masyarakat, semuanya  adalah aktifitas yang mulia di sisi Allah swt. Oleh karena itu, luruskan niyat untuk mencari ilmu semata karena Allah swt. st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here