Sejumlah pohon palem di Taman Poci ditebang dan menimpa gerobak pedagang. Penebangan, terkait penataan Stasiun Tegal. Foto: wing

TEGAL (Jatengdaily.com)- Sejumlah pedagang Taman Poci, Jalan Pancasila, Kota Tegal meradang, akibat gerobak salah satu pedagang ringsek tertimpa pohon palem raja yang ditebang Pemerintah Kota Tegal, Kamis (23/1/2020) siang.

Pepohonan ditumbangkan, menyusul ditandatanganinya MoU penataan kawasan Stasiun Tegal oleh PT KAI dan Pemkot setempat.

Pemilik gerobak, Durahman (57) mengaku kaget saat putranya memberi kabar jika gerobak yang biasa dipakai untuk menyimpan dagangan hancur tertimpa pohon. Mendapat kabar tersebut, warga Jalan KH Mukhlas Gang 3 ini sontak mendatangi lokasi.

Benar saja, didapatinya seluruh isi gerobak berupa pakaian baru berhamburan di tanah bersamaan dengan sebuah batang pohon palem raja. Dengan penuh kesabaran, pria yang telah berjualan selama tiga tahun ini memungut pakaian dan gerobak yang hancur.

“Isinya pakaian semua mas, yang hancur gerobak dan alumunium yang dipakai untuk memajang pakaian-pakaian. Kalau seperti ini saya harus bagaimana, karena tidak ada petugas yang melapor untuk bertanggung jawab,” keluhnya lirih.

Durahman mengaku meninggalkan gerobaknya di Taman Poci, lantaran kerap turun hujan saat berjualan. Atas inisiatifnya, gerobak berukuran kurang lebih satu setengah meter ditinggal agar tidak memakan biaya.

Tak hanya dirinya saja, pedagang lain pun melakukan hal yang serupa. Dimana gerobak serta tenda penutup pakaian ditinggalkan, acap kali turun hujan saat berjualan. Ihwal penertiban kawasan Taman Poci dan penebangan pohon, para pedagang mengaku belum mendapatkan pemberitahuan.

“Biasanya sih dibawa pulng. Tetapi karena sekarang ini sering hujan, jadi ditinggal. Paginya nanti baru diambil, sore ke sini lagi. Ini ada penebangan juga saya tidak tahu,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Organisasi Pedagang Taman Poci (Orpeta) Edi Kurniawan menyebut, tindakan yang dilakukan Pemkot telah mencederai rakyat kecil. Sebab, tanpa adanya pemberitahuan, sejumlah pohon yang berada di lokasi berjualan ditebang dan dibiarkan begitu saja.

Padahal, sambung Edi, ratusan pedagang yang sempat dipindahkan ke Lapangan PJKA pada 2009 hingga 2011 silam. Namun lantaran sesuatu hal, para pedagang kembali menempati Taman Poci. Bahkan, para pedagang juga dimintai restribusi sebesar Rp 2.000 hingga Rp 4.000.

“Kita tidak neko-neko. Tidak anti pembangunan juga. Disuruh pindah ya pindah, ada tarikan restribusi ya dibayar. Tetapi kita yang minta diakui hak-haknya sebagai layaknya manusia dan warga negara,” sesalnya.

Ditambahkan Wakil Ketua Orpeta, Romiko, belum lama ini pihaknya telah melayangkan surat audiensi kepada Pemerintah Kota Tegal dan DPRD setempat. Namun, dua surat yang dilayangkan tersebut belum juga dibalas dan ditindaklanjuti.

Para pedagang berharap, Pemkot dapat segera memberikan respon dan tindakan tegas. Ihwal penataan kawasan taman, pedagang berharap Pemkot bisa menyediakan tempat untuk direlokasi.

“Sudah dua kali kita kirim surat untuk audiensi. Tetapi sampai saat ini belum ada jawaban. Jika kita mau direlokasi ya siap, asal ada tempatnya. Tidak seperti ini, dioprak-oprak tanpa ada pemberitahuan dan dibiarkan begitu saja,” tandasnya. wing-she

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here