Beralih dari Takdir

Prof Dr Masrukhi MPd

Oleh Prof Dr Masrukhi MPd

Guru Besar PKn Unnes

Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang

Judul tulisan ini adalah pernyataan khalifah Umar bin Khottob, sebagai jawaban atas saran seorang sahabat untuk meneruskan perjalanan dari Madinah menuju wilayah Syam, sebuah daerah yang sedang terserang wabah tho’un.

Suatu hari khalifah Umar bin Khotthob yang terkenal tegas dan bijak ingin meninjau rakyatnya di wilayah Syam sekali gus ingin menemui gubernurnya yang bernama Abu Ubaidah bin Al Jarrah.

Maka berjalanlah sang khalifah bersama rombongannya dengan menaiki unta menuju ke daerah tersebut, dengan membawa berbagai bantuan makanan untuk dibagikan.

Ketika rombongan sampai di perbatasan, datanglah sang gubernur menemuinya, untuk memberikan kabar kepada khalifah bahwa daerahnya sedang terjangkit wabah tho’un, sebagian besar penduduk bahkan sudah kepayahan terkena wabah tersebut. Sang gubernur itu khawatir, wabah tho’un itu menyerang khalifah beserta rombongan, jika tetap berkunjung ke wilayah Syam.

Diceriterakan oleh Syaikh Ali Ash Shalabi, pengarang buku tentang Khalifah Umar bin Khotthob, tho’un adalah wabah penyakit menular berupa benjolan di seluruh tubuh yang akhirnya pecah dan mengakibatkan pendarahan.

Maka berhentilah sang khalifah, dan dimintakan pendapatnya dari para sahabatnya yang turut serta perjalanan. Terjadilan perdebatan, antara para sahabat yang menginginkan tetap masuk wilayah Syam, dengan para sahabat yang menyarankan untuk mengurungkan perjalanan dan kembali ke Madinah.

Mempertimbangkan berbagai hal, akhirnya sang Khalifah memutuskan untuk mengurungkan niatnya dan hendak kembali ke Madinah. Salah seorang sahabat yang tidak puas dengan keputusan itu, dengan suara tinggi menegur Umar, bukankah Engkau sudah berniat meninjau penduduk Syam ?, Allah akan melindungimu dari wabah tersebut, apakah engkau hendak mengalihkan takdir Allah?.

Saat itulah dengan tegas khalifah Umar berkata ”kita beralih dari satu takdir ke takdir lain yang lebih baik. Jika kamu punya kambing dan ada dua lahan yang subur dan yang kering, ke mana akan engkau arahkan kambingmu? Jika ke lahan kering itu adalah takdir Allah, dan jika ke lahan subur itu juga takdir Allah”

Perdebatan itu mereda, setelah sahabat Abdurrahman bin Auf mengucapkan hadist Rasulullah SAW.”Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada didaerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya” (HR. Bukhari Muslim).

Peristiwa di masa khalifah Umar ini sangat kontekstual dengan kondisi masyarakat kita yang sedang terkena wabah cofid 19. Wabah virus corona yang begitu cepat menular di kalangan masyarakat, menjadikan pemerintah, ahli kesehatan, akademisi, tokoh agama bersatu padu melakukan gerakan upaya pencegahan penularan virus tersebut.

Berbagai media pun dengan gencar melakukan edukasi pada masyarakat untuk terhindar dari penularan virus corona. Pola hidup sehat, makan bergizi, kebersihan diri dan lingkungan, sering2 mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, berjemur sinar matahari, dan sebagainya.

Tempat ibadah pun dibersihkan, segala karpet digulung, lantai dipel dengan desinfektan, imbauan untuk membawa sajadah sendiri-sendiri dari rumah, mukena dan sarung juga menyiapkan sendiri, disiapkan hand sanitizer di berbagai tempat strategis, dan sebagainya.

Pendek kata berbagai upaya dilakukan untuk mencegah penularan wabah virus corona. Bahkan dari fatwa MUI menyarankan karena kondisi darurat wabah penyakit, mesjid-masjid diimbau untuk tidak menyelenggarakan salat jumat di masjid, diganti dengan salat dhuhur di rumah masing-masing. Beberapa organisasi Islam pun menyerukan hal yang sama.

Kembali kita layangkan angan kita ke zaman Khalifah Umar bin Khattab itu. Akibat wabah tho’un, terjadi kematian di wilayah Syam mencapai 20 ribu orang wafat, hampir separuh penduduk Syam ketika itu. Sang gubernur pun akhirnya harus mati bersama rakyatnya terkena wabah tersebut.

Diceriterakan dalam sejarah, wabah tho’un itu berakhir ketika daerah Syam dipimpin oleh sahabat Amr bin Ash. Dengan kecerdasannya, dia memerintahkan penduduk yang tinggal separuhnya itu untuk berpencar dan menempati gunung-gunung. Kata Amr bin Ash, “Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Jaga jaraklah dan berpencarlah kalian dengan menempatkan diri di gunung-gunung.”.

Seluruh penduduk yang tersisa itu kemudian menaati sepenuhnya perintah sang pemimpin, sehingga kemudian wabah tho’un pun berhenti, seperti kobaran api yang mati karena tidak bisa lagi menemukan bahan yang dibakar.

Nabi sendiri mengajarkan kepada umatnya, akan isolasi diri ketika terjadi wabah penyakit menular. “Maka, tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah lalu ia menetap di kampungnya dengan penuh kesabaran dan mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang Allah SWT tetapkan, baginya pahala orang yang mati syahid” (HR.Bukhari dan Ahmad).

Taat kepada pemimpin negara untuk menghindarkan diri dari wabah covid-19 saat ini, adalah sebuah keniscayaan. Berperilaku pola hidup bersih, mencuci tangan, menjaga kesehatan tubuh, membatasi kerumunan manusia, membatasi kontak fisik, isolasi diri bagi yang terdapat gejala tertular, bahkan dalam menjalankan ibadah agama, karena keadaan darurat, untuk melaksanakannya di rumah, dan sebagainya, merupakan sesuatu yang harus dilakukan kita bersama.

Kemudian saling membantu antar sesamanya, saling bersinergi antar berbagai elemen masyarakat untuk bersama-sama memberantas penyebaran covid-19 merupakan sebuah keniscayaan juga. Artinya janganlah sampai terjadi pertengkaran, perpecahan, saling menyalahkan, dan sebagainya, yang hanya akan memperparah kondisi psikhis masyarakat.

Optimisme dan banyak mendekatkan diri pada Allah swt pun harus menjadi sikap hidup kita, bahwa suatu saat penularan wabah ini akan berhenti, dan kehidupan menjadi normal kembali. Kata Nabi saw, “Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit kecuali dia juga yang menurunkan penawarnya”  (HR. Bukhari). Jangan panik, jangan mudik, jangan piknik, tetap optimistis menghadapi wabah Covid-19. st

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version