Konsumsi Rumah Tangga di Jawa Tengah saat Pandemi

Oleh : Hayu Wuranti
Statistisi Ahli Madya
BPS Provinsi Jawa Tengah

TERJADINYA pandemi corona sangat berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia sehingga berimbas pada perekonomian regional Jawa Tengah. Meskipun kasus Covid-19 pertama kali ditemukan di Jawa Tengah pada 11 Maret 2020, namun ternyata sangat berpengaruh terhadap perekonomian Jawa Tengah triwulan 1 2020.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah merilis angka pertumbuhan ekonomi Triwulan 1 2020 sebesar 2,60 persen, terpangkas nyaris separuh jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 5,13 persen. Melemahnya pertumbuhan ekonomi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain penyebaran COVID-19 yang bermula dari Wuhan, Tiongkok, pada akhir tahun 2019 keseluruh dunia; harga komoditas migas dan hasil tambang di pasar internasional secara umum mengalami penurunan serta ekonomi beberapa mitra dagang Indonesia terkontraksi sebagai akibat adanya pembatasan aktivitas dan lockdown untuk mengendalikan penyebaran COVID-19.

Sedangkan faktor dari regional Jawa Tengah dipengaruhi antara lain : dampak Corona telah dirasakan sektor industri pengolahan sudah terasa sejak Februari 2020, terutama pada tekstil dan pakaian; impor barang modal dari luar negeri mengalami kontraksi hingga 50 persen dibanding triwulan 1-2019, tingkat hunian hotel turun sejak akhir Februari 2020 hingga Maret 2020, kunjungan tamu hotel merosot 25-30 persen karena agenda meeting banyak yang dibatalkan ; ditutupnya objek wisata sebagai konsekuensi diterapkannya social distancing serta dibatalkan event kejuaraan nasional dan perayaan hari raya keagamaan.

Dari sisi sektoral, melambatnya pertumbuhan ekonomi dialami hampir seluruh sektor ekonomi, kecuali sektor informasi dan komunikasi; sektor jasa keuangan dan asuransi serta sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial. Sementara dari sisi pengeluaran, seluruh komponen mengalami pelemahan, bahkan komponen Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) mengalami kontraksi (pertumbuhan negatif).

Perubahan Pola Konsumsi
Konsumsi rumah tangga pada saat pandemi mengalami pola perubahan. Physical Distancing atau pembatasan kegiatan masyarakat yang diterapkan pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mengurangi dampak virus Covid-19 mempengaruhi perubahan pola konsumsi masyarakat ini. Kegiatan masyarakat yang lebih banyak dilakukan di rumah saja, menyebabkan masyarakat mengurangi beberapa porsi konsumsi rumah tangganya.

Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PKRT) merupakan komponen utama dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). PKRT mampu menyumbang lebih dari separuh (62,30 persen) terhadap PDRB Jawa Tengah. Dalam rilis BPS Provinsi Jawa Tengah, komponen PKRT melemah dibanding triwulan yang sama tahun sebelumnya. PKRT mengalami pertumbuhan sebesar 3,46 persen, sedangkan pada triwulan 1 2019 pertumbuhannya mencapai 4,79 persen.

Porsi PKRT yang demikian besar terhadap PDRB sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, sehingga ketika PKRT melemah, maka pertumbuhan ekonomi juga turut melemah. Melemahnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga perlu diwaspadai, sebab berpengaruh terhadap perlambatan daya beli. Diperlukan upaya untuk menjaga daya beli guna mempertahankan kesejahteraan penduduk di tengah dinamika ekonomi yang terjadi saat ini.

Terjadinya pandemi menyebabkan fokus pengeluaran masyarakat pada bahan kebutuhan pokok yaitu jasa kesehatan, karena masyarakat saat pandemi sangat konsen terhadap kesehatan. Pola kebiasaan masyarakat berubah menjadi lebih suka memasak sendiri bahan makanan dibandingkan harus membeli di warung. Di samping menghindari kerumunan juga diyakini lebih sehat.

Bekerja dan belajar dengan sistem daring menyebabkan kenaikan konsumsi terhadap informasi dan komunikasi, akibat meningkatnya penggunaan trafic data yang digunakan untuk bekerja dan belajar. Adanya pembatasan interaksi akibat pandemi Covid-19 juga menyebabkan konsumsi terhadap transportasi mengalami penurunan. Selain itu konsumsi makan di luar rumah serta pariwisata juga mengalami penurunan karena masyarakat mengurangi frekuensi ke luar rumah.

Bagi masyarakat ekonomi menengah ke atas, perubahan pola konsumsi saat pandemi tidak begitu terasa. Namun bagi masyarakat ekonomi bawah, pembatasan interaksi akibat pandemi Covid-19 serta perubahan pola konsumsi saat pandemi berpengaruh secara ekonomi. Physical distancing selama pandemi, menyebabkan berkurangnya pendapatan masyarakat ekonomi bawah, sehingga mengalami kesulitan dalam pemenuhan konsumsi rumah tangganya.

Untuk mengantisipasi dampak virus corona, pemerintah telah mengambil langkah seperti percepatan pencairan dana bantuan sosial, pengalihan anggaran untuk program-program yang berkaitan langsung dengan konsumsi atau peningkatan daya beli masyarakat serta percepatan implementasi program kartu pra kerja sebagai bentuk respon pemerintah dalam menghadapi dampak virus corona (Covid-19). Program-program yang telah dilaksanakan pemerintah diharapkan mampu mengurangi dampak ekonomi masyarakat ekonomi bawah akibat pademi Covid-19. Jatengdaily.com/yds

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here