Pengungsi Merapi 4 Kabupaten Tersebar di 15 Titik

Posko pengungsian Merapi di Kabupaten Magelang Foto: dok.bnpb

MAGELANG (Jatengdaily.com) – Pusdalops BNPB melaporkan sebanyak 15 titik pos pengungsian menampung para warga lereng Gunung Merapi. Sebagian besar dari mereka merupakan kelompok rentan, lanjut usia, balita, anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui dan disabilitas.

Data Pusat Pengendali Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Pusdalops BNPB) per 23 November 2020, pukul 22.00 WIB, mencatat lebih dari 2.000 warga tersebar di 15 titik pengungsian. Sebaran titik pos penampungan terbanyak berada di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, dengan 9 titik, sedangkan Kabupaten Boyolali 3 titik, Klaten 2 dan Sleman 1.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Dr. Raditya Jati mengatakan, warga yang diungsikan di Kabupaten Magelang berjumlah 815 jiwa. Mereka terdiri dari lansia 167 jiwa, balita 151, anak-anak, 118, ibu menyusui 33, disabilitas 19, ibu hamil 13, dan sakit 9. Sedangkan kelompok dewasa sebagai pendamping berjumlah 305 jiwa.

Dijelaskan, mereka yang mengungsi sementara waktu ini ditampung di desa persaudaraan atau sister village. Nilai saling membantu antar desa ini menjadi refleksi kebersamaan warga dalam menghadapi ancaman bencana. Desa-desa di lereng Gunung Merapi ini telah menjalin kerja sama sehingga pada saat harus mengungsi, warga suatu desa akan segera menuju desa yang telah ditentukan. Mekanisme ini akan menjamin kenyamanan dan keamanan warga desa, baik mereka yang mengungsi atau pun yang menerima kedatangan warga desa tetangga.

“Di tengah pandemi COVID-19, pihak pemerintah desa penerima menerapkan protokol kesehatan di tempat pengungsian atau pos penampungan. Kantor Desa Banyurojo di Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, menyiapkan rambu-rambu maupun fasilitas cuci tangan dengan sabun. Aparat desa juga selalu mengimbau warga di pos penampungan untuk menerapkan protokol kesehatan.”

Pusdalops BNPB juga melaporkan pelayanan kesehatan dilakukan rutin kepada warga di pos penampungan. Puskesmas bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Semarang melakukan pengecekan kesehatan warga.

Di samping itu, kegiatan-kegiatan lain diselenggarakan untuk warga lereng Merapi. Kegiatan seperti siraman rohani, senam sehat, trauma healing, latihan rebana dilakukan para sukarelawan untuk para warga. Contoh lain, di Pos Penampungan Desa Deyangan, para petugas, relawan dan warga pengungsi melakukan kerja bakti untuk membersihkan lingkungan.

Dalam menghadapi potensi ancaman letusan Gunung Merapi, Pemerintah Kabupaten Magelang telah menetapkan status tanggap darurat yang berlaku pada 6 hingga 30 November 2020. Selain Kabupaten Magelang, dua kabupaten lain di Provinsi Jawa Tengah yakni Boyolali dan Klaten yang menetapkan status keadaan darurat dengan periode waktu yang berbeda.

Sementara itu, BNPB terus memberikan pendampingan kepada pemerintah daerah di 4 kabupaten. Pendampingan tersebut lebih difokuskan pada pengorganisasian pos komando yang diaktifkan pada masa darurat. Beberapa waktu lalu, BNPB juga memberikan bantuan dana siap pakai Rp1 miliar untuk setiap kabupaten, serta dukungan logistik lain seperti 1 unit mesin antigen, 15.000 catridge antigen, 200.000 masker kain dan 250 jerigen hand sanitizer. yds

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here