BLORA (Jatengdaily.com) – Bandara Ngloram, di Kabupaten Blora, Jawa Tengah bakal segera dibangun dan direncanakan rampung pada tahun 2021. Disiapkan anggaran sekitar Rp 72 miliar untuk pembangunan bandara tersebut.
Bandara Ngloram pada Sabtu (11/1/2020) untuk pertama kalinya didarati pesawat setelah bandara ini mangkrak sejak tahun 1980-an. Pendaratan pesawat bermesin turboprop jenis Kinga Air 200GT tersebut merupakan uji penerbangan yang dilalukan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.
Bandara tersebut dibangun sejak 1980-an namun mangkrak tak terselesaikan. Bahkan bandara sempat beralih fungsi karena dimanfaatkan warga untuk menjemur padi dan lainnya. Pembangunan baru dilanjutkan 2018.
“Ngloram itu lebih progresif, karena untuk tanahnya sudah selesai semuanya. Oleh karenanya kita telah menyediakan anggaran untuk lakukan pembangunan,” ujar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi Sabtu (11/1/2020).
Anggaran tersebut disiapkan untuk mengcover dua hal yaitu perpanjangan runway dan pembangunan terminal Bandara Ngloram. Target pembangunannya sendiri diharapkan sudah selesai dan beroperasi secara komersil pada Tahun 2021.
Menhub Budi mengatakan menugaskan Dirjen Perhubungan Udara Polana B. Pramesti dan Direktur Bandar Udara Praminto Hadi untuk melakukan test flight terlebih dahulu hari ini.
“Jadi sekarang ini penerbangan perdana oleh saya itu baru boleh dilakukan kalau ada test flight terlebih dahulu. Sekarang sedang dilakukan oleh Bu Dirjen dan Pak Direktur Bandara, kalau bagus mungkin bulan depan saya ke saya mau ajak Pak Gubernur nanti,” jelas Menhub.
Sementara itu, setelah melakukan pendaratan di Bandara Ngloram, Dirjen Perhubungan Udara Polana B. Pramesti menyampaikan bahwa pendaratan dapat dilakukan dengan baik pada runway sepanjang 1.200 meter tersebut. Diharapkan, Bandara Ngloram segera dapat beroperasi secara komersil, agar dapat menghubungkan masyarakat setempat dengan daerah-daerah di sekitarnya.
“Alhamdulillah kalau dari hasil pendaratan secara visual bagus, tapi landasan nanti akan dicek secara teknis, hari ini sudah mulai di tes. Bandar udara ini mulai dibangun di tahun 2019, sekarang panjang landasannya 1.200 m. Mudah-mudahan bisa segera dioperasikan untuk pesawat sejenis ATR 72 (secara) terbatas. Saya berharap dengan keberadaan bandar udara ini bisa membantu masyarakat di sini untuk dapat terhubung lebih cepat dengan tempat-tempat lain di sekitar sini,” jelasnya.
Saat ini Bandara Ngloram memiliki runway sepanjang 1.200 m x 30 m dan belum memiliki terminal penumpang. Kedepannya, akan dilakukan 4 tahap pengembangan Bandara Ngloram.
Tahap pertama runway akan diperluas menjadi 1.400 m x 30 m, apron 84 m x 60 m, serta pembangunan terminal penumpang seluas 240 m² dengan kapasitas <50.000 penumpang/tahun. Tahap ini ditargetkan selesai pada akhir tahun 2020, agar dapat segera dioperasikan menjadi bandara komersil.
Pada tahap kedua dilakukan pengembangan runway menjadi 1.600 x 30 m, apron menjadi 127 m x 90 m, terminal penumpang menjadi 2.013 m² dengan kapasitas 138.562 penumpang/tahun.
Tahap ketiga, runway diperluas menjadi 1.850 m x 45 m, apron menjadi 168 m x 90 m, dan terminal penumpang menjadi 3.726 m² dengan kapasitas 237.390 penumpang/tahun.
Tahap terakhir direncanakan runway akan memiliki panjang 2.000 m x 45 m, apron seluas 168 m x 90 m akan di fasilitasi untuk dapat menampung 4 pesawat ATR 72-600 serta 2 pesawat Boeing 737-600, serta terminal penumpang yang luasnya 5.216 m² dengan kapasitas 420.551 penumpang/tahun.
Bandara Ngloram di Kabupaten Blora, Cepu, Jawa Tengah juga tengah dikembangkan Kemenhub untuk menjadi bandara komersial. Harapannya, jika bandara ini sudah dapat beroperasi akan dapat memudahkan investor untuk berinvestasi di daerah Cepu, Blora dan Bojonegoro yang merupakan pusat kegiatan minyak. yds
