Home Sorot Tausiyah Hijrah dan Menumbuhkan Kesadaran Baru

Hijrah dan Menumbuhkan Kesadaran Baru

Prof Dr KH Ahmad Rofiq MA

Oleh Ahmad Rofiq
HARI INI 10 Agustus 2021, kita memasuki 1 Muharram 1443 H. Artinya, kita tutup buku tahun 1442 H dan mengawali 1443 H. Sebagai umat Nabi Muhammad Rasulullah saw, kita perlu melakukan muhasabah dan introsepksi diri, untuk dapat meneladani Rasulullah saw, agar menjadi hamba-hamba Allah yang berprestasi dan beramal shalih yang terbaik (QS. Al-Mulk (67): 2).
Tahun baru 1443 H. adalah “penggal waktu” yang perlu kita jadikan momentum untuk membangun dan menumbuhkan kesadaran baru akan makna hijrah.

Jka dulu hijrah secara fisik dari Makkah ke Yatsrib yang diganti menjadi Madinah, karena beliau ingin mengubah tradisi dan nilai-nilai lokalitas Yatsrib menjadi sunnah hasanah dan nilai-nilai universalitas Islam, yang spiritnya adalah rahmatan lil ‘alamin.

Rasulullah saw bersabda: “Al-Muslimu man salima l-muslimūn min lisânihi wa yadihi. Wa l-muhâjiru man hajara mimmâ nahâ Allâh ‘anhu” artinya “orang Islam – yang benar adalah – orang yang Islam lainnya merasa selamat (nyaman) dari tutur kata lisannya dan tangan – atau kekuasaan-nya, dan orang yang hijrah adalah orang yang pindah dari hal-hal yang dilarang oleh Allah” (Riwayat al-Bukhârî).

Kita sebagai hamba Allah, diciptakan dan diberi hidup di muka bumi ini, adalah untuk beribadah dan mengabdi kepada-Nya. Selain ibadah mahdlah atau ibadah ritual-vertikal kepada Allah, juga harus dibuktikan dengan ibadah sosial-horizontal.

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia,dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi tanpa alas an yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka derhaka dan melampaui batas” (QS. Ali ‘Imran (3): 112).

Spirit hijrah adalah strategi untuk hidup berprestasi. Jika Rasulullah saw berjuang selama 12 tahun di Mekah, mendapatkan pengikut sebanyak kurang lebih 200 orang, maka setelah hijrah ke Madinah beliau meraih sukses. Melalui berbagai langkah, di antaranya pada tahun ke-2 H, beliau membuat konstitusi yang sering disebut

Piagam/Risâlah/Mitsâq Madînah, perjanjian Hudaibiyah tahun ke-6 H, dan masih banyak strategi lainnya, warga Makkah berbondong-bondong semenanjung Arabia, dan semenanjung Arabia mengikuti ajaran Islam.

Bermanfaat bagi Masyarakat

“Khairu n-nâs anfa’uhum li n-nâs” artinya “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat pada orang lain” (Riwayat Ath-Thabrani). Karena itu, untuk menjadi manusia yang bermanfaat, perlu pemahaman yang memadai terhadap ajaran agama, baik dalam hal tata cara beribadah, atau bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai dan value ibadah itu, dalam kehidupan sehari-hari.

Ini membutuhkan pemahaman dan pengamalan agama yang moderat (tawasuth), seimbang (tawazun), menjunjung tinggi keadilan (ta’adul), dan toleran di dalam menghormati dan menghargai perbedaan (tasamuh), apakah itu dalam urusan pilihan agama, adat istiadat, etnis, dan budaya, menjadi sangat urgen atau penting.

Lebih dari itu, Rasulullah saw memberi bekal: “Barangsiapa membebaskan seorang mukmin dari suatu kesulitan dunia, maka Allah akan membebaskannya dari suatu kesulitan pada hari kiamat. Barangsiapa memberi kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan di dunia dan akhirat.Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya sesama muslim.

Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya. Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca al-Qur’an, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya.

Barangsiapa yang ketinggalan amalnya, maka nasabnya tidak juga meninggikannya.” (Hadits Riwayat Muslim, Shahîh Muslim, juz VIII, hal. 71, hadits no. 7028, dari Abu Hurairah r.a.).

Mengakhiri renungan ini, mari kita simak sabda Rasulullah saw: “Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia tergolong orang yang beruntung, barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka dia tergolong orang yang merugi dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang terlaknat atau tertipu (maghbūn).” (HR. Al Hakim).

Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1443 H, semoga Allah senantiasa menolong dan memberkahi hidup kita, dan Anda semua senantiasa dalam kebaikan dan keberkahan dari Allah, sehingga kita mampu mengisi torehan tinta mas prestasi dan amal shalih dalam buku kita di tahun 1443 H. Hasbunâ Allâh wa ni’ma l-wakîl ni’ma l-maulâ wa ni’ma n-nashîr. Allah a’lam bi sh-shawâb.

Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA., Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum dan Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) Rumah Sakit Islam Sultan Agung (RSI-SA) Semarang.Jatengdaily.com-st

Exit mobile version