Better Late Than Never

Oleh: Irma Nur Afifah, SST, MSi
Statistisi Muda BPS Kabupaten Kendal

PEMBERLAKUAN Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa-Bali selama dua pekan mulai berlaku pada 3-20 Juli 2021, hal ini diterapkan mengingat lonjakan angka konfirmasi covid-19 yang semakin tajam dan menjadi kondisi gawat darurat nasional, karena angka kematian yang terus bertambah. Data yang diupdate melalui web covid-19.go.id menunjukkan jumlah kasus positif menembus 2.615.529, dengan tingkat kematian sebesar 2,6 persen, dengan tren melonjak tajam, dibanding awal tahun, seperti grafik yang di download dari link https://ourworldindata.org/grapher/.

Selain itu penerapan PPKM darurat juga dipicu kondisi rumah sakit yang overload, karena keterbatasan tenaga kesehatan, ruang dan peralatan medis, hingga mendirikan tenda di halaman guna menangani pasien covid19 dan non covid19 yang terus bertambah, serta kondisi rawan lainnya yang semakin mengkhawatirkan. Kondisi emergency yang tak terbayangkan dan terpredeksi sebelumnya ini harus segera diantisipasi secepatnya.

Meskipun PPKM darurat ini menurut sekretaris umum PP Muhammadiyah (Abdul Mukti) terbilang lambat diterapkan, karena fakta di lapangan menunjukkan angka kematian akibat covid19 yang tinggi selama 2 minggu terakhir pra PPKM darurat, namun hal ini jauh lebih baik daripada tidak. Pasalnya jumlah angka kematian terus bertambah seiring keterbatasan fasilitas dan pelayanan kesehatan. PPKM darurat ini bisa dibilang lebih baik terlambat diterapkan daripada tidak sama sekali, atau dengan kata lain better late than never. Dalam arti bahwa PPKM darurat atau lockdown harus diambil, agar kondisi bisa segera terkendali. Beliau juga menyebutkan bahwa tidak berlebihan apabila tahun ini dengan tingginya jumlah angka kematian disebut sebagai tahun dukacita bagi Indonesia.

Sinergi Bersama
Persoalan pandemi ini merupakan problem bersama yang harus diatasi bersama mulai dari hulu hingga hilir. Kondisi semakin genting, grafik angka konfirmasi covid19 tak kunjung turun tapi makin naik, satu hari turun hari berikutnya melonjak dua kali lipat, berita kematian setiap hari terdengar dalam pekan terakhir ini. Upaya pencegahan penyebaran covid19 sejatinya memang harus melibatkan semua elemen, bukan unsur pemerintah saja atau masyarakat saja, namun semua stakeholder harus terlibat dan bersinergi bersama.

Sinergi artinya bekerja bersama-sama, hal ini terbentuk dari suatu proses atau interaksi yang menghasilkan suatu keseimbangan yang harmonis. Syarat utama penciptaan sinergi adalah kepercayaan, komunikasi yang efektif, feedback yang cepat dan kreativitas. Mengapa sinergi penting? Sinergi sangat penting karena pemimpin yang hebat tidak akan berhasil mencapai tujuan organisasi apabila tidak mendapat bantuan dari seluruh pegawai di institusi tersebut. Intisari sinergi adalah menghargai dan menghormati perbedaan, membangun kekuatan, dan mengimbangi kelemahan. Menghargai dan menghormati perbedaan dapat dilakukan dengan membangun komunikasi sinergi yang baik.

Salah satu poin penting dalam sinergi diantaranya adalah komunikasi. Sejauh ini komunikasi publik di lapangan masih belum optimal, pasalnya masyarakat beranggapan bahwa menjadi hal yang menakutkan terkait PPKM atau lockdown. Lockdown seringkali diartikan sebagai kondisi mencekam dengan adanya petugas yang berpatroli setiap waktu. Namun sesungguhnya tujuan utamanya adalah demi meredam penyebaran virus covid19. Itulah mengapa pemahaman awam perlu diluruskan supaya tidak salah dalam memaknai PPKM atau lockdown ini. Segenap eleman mestinya juga saling percaya, saling menghargai, bersatu membangun kekuatan dan bersabar hingga situasi benar-benar terkendali.

Disiplin Prokes
Penerapan protokol kesehatan (prokes) tak henti-henti terus dikampanyekan, namun di beberapa wilayah rawan, seperti pasar dan pusat keramaian faktanya masih banyak ditemukan ketidakdisiplinan dan mengabaikan prokes dengan berbagai alasan, yang menyedihkan lagi manakala ada yang masih tidak percaya akan adanya virus covid-19.

Kondisi yang tidak normal ini solusinya adalah kekompakan semua pihak dalam menerapkan prokes dengan ketat. Seperti memakai masker kesehatan atau double masker di area publik yang ramai, menjaga jarak, hal ini juga ada kecenderungan abai, terlebih ketika bertemu dalam suatu ruang kemudian mengobrol, selain tidak menjaga jarak terkadang masker pun dilepas.

Mencuci tangan sejatinya juga sebuah kebiasaan yang baik, karena tangan merupakan sumber penghubung dari berbagai polutan benda yang dipegang maupun tersentuh tanpa disadari. Sehingga mencuci tangan agar disiplin dilakukan dengan intens, setiap selesai aktivitas memegang handphone, memegang keyboard, handle pintu, lift dsb yang darinya rawan menempel virus dan bakteri.

Selain itu penyediaan hand sanitiser juga penting, manakala kesulitan dalam mencuci tangan saat bepergian. Akhirnya sebelum terlambat dan menyesal kemudian, mari bersama menjaga diri, menjaga keluarga dan menjaga lingkungan sekitar kita, disiplin dalam prokes, turut berkontribusi mencegah penyebaran covid19, tidak mengapa, karena better late than never. Jatengdaily-st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here