KENDAL (Jatengdaily.com) – Terletak di jalan Boja Singorojo, Sekolah yang didirikan tahun 2004, telah berumur 16 tahun. Terbilang sekolah baru di wilayah Kendal. Dengan lokasi geografis di daerah atas Selatan Kendal, memiliki curah hujan cukup tinggi, sekolah ini terasa sejuk dan nyaman. Namun tidaklah demikian dengan prestasi yang di raih. Mencoba menggeliat dan bergerak itulah salah satu modal yang dimliki oleh SMA Negeri 1 Singorojo.
Tercatat sebagai salah satu sekolah penggerak (tahap 1) di Kendal (dari total 3 sekolah, dan 24 sekolah terpilih sejateng, dan 382 se- Indonseia,) setelah melewati rangkaian seleksi demi seleksi tentunya. Kehadiran sekolah penggerak ini bertujuan untuk mensukseskan visi Pendidikan Indonesia secara umum, dan mendukung visi SMA N 1 singorojo secara khusus, yaitu berprestasi dalam ilmu, berbudi dalam prilaku dan berwawasan lingkungan.
“Kami siap mencetak generasi muda andal yang sesuai kebutuhan zaman dengan memperhatikan bakat dan minat peserta didik”, demikian Dian Milasari, M.Pd, Kepala Sekolah, membuka pembicaraan.

Dengan jumlah 38 guru dan karyawan, serta 524 siswa, maka sudah terbilang cukup untuk menggerakkkan ekosistem sekolah. Menillik maknanya disebutkan bahwa sekolah penggerak adalah sekolah yang berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik dengan mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang mencakup kompetensi dan karakter yang diawali dengan SDM yang unggul (kepala sekolah dan guru).
Selanjutnya, beliau menambahkan bahwa sekolah penggerak memiliki ciri khas diantaranya, yaitu memiliki kepala sekolah yang mengerti proses pembelajaran siswa dan mampu mengembangkan guru, mengatur operasional suatu sekolah, dan menjadi mentor untuk guru-guru di sekolah. Selain itu, sekolah penggerak juga memiliki guru yang mengerti bahwa setiap anak berbeda dan memiliki cara pengajaran yang berbeda, sehingga ia mengajar pada level yang tepat untuk peserta didik,
“Intinya kami di sini berpihak pada peserta didik,” ujar Ahmad jamhuri, MPd, wakil kepala sekolah bidang kurikulum menambahkan.
Seiring dengan hal tersebut, sekolah juga diharapkan mampu menghasilkan profil pelajar Pancasila yaitu; siswa yang berakhlak mulia, independen dan mandiri, punya kemampuan bernalar kritis, kreatif, gotong royong, dan punya rasa kebhinekaan dalam bernegera dan secara global. Namun semua itu juga membutuhkan dukungan dari orang tua dan masyarakat.
Dari perjalanan prestasi sebelumnya, SMANSI, begitu nama singkat sekolah ini, juga dikenal sebagai salah satu dari 3 pilot project GSM, yaitu; Gerakan Sekolah Menyenangkan (red; sekolah ini pernah mendapat sidak pejabat no 1 Jateng, Ganjar Pranowo). Terdapat dalam beberapa program tersebut, adanya benang merah dari yang sebelumnya telah berajalan. Hal ini dikuatkan melalui berbagai kegiatan di sekolah penggerak, sebagai bentuk dari komunitas praktisi ataupun praktik baik.
Lebih jauh, Milasari melanjutkan, diantara program tersebut, diantaranya adalah pembelajaran kontekstual, atau disebut juga project based learning. Ini adalah perwujudan dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, yaitu melalui pembelajaran lintas disiplin ilmu peserta didik mengamati dan memikirkan solusi terhadap permasalahan di lingkungan sekitar melalui projek, selain itu juga memberikan kesempatan untuk belajar dalam situasi tidak formal, fleksibel, interaktif, dan juga terlibat langsung dengan lingkungan sekitar untuk menguatkan berbagai kompetensi.
Pembelajaran ini didesain agar peserta didik dapat melakukan investigasi, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Siswa berkarya, dalam periode waktu yang telah dijadwalkan, untuk menghasilkan produk dan/atau aksi. “saya senang mendapatkan materi pelajaran seperti ini, kreatif dan tidak membosankan. Serta bermanfaat langsung, tutur Helmanisa Prima Dirgantari, Ketua OSIS SMANSI.
Dari kesiswaan terdapat pelatihan bagi siswa yaitu; ROOTS/ anti perundungan, dimana puspeka (pusat penguatan karakter) memberikan perhatian kepada sekolah penggerak untuk menerapkan program ini. Sehingga diharapkan tidak terjadi perundungan/ bullying di sekolah dan di lingkungan siswa tinggal ataupun di masyarakat. Setelah kegiatan ini, akan lahir agen perubahan anti perundungan/ anti kekerasan. “Tidak sepenuhnya baru, tetapi didapatkan dengan cara berbeda, jadi asyik,” kata Ida Kholisa, perwakilan peserta.
Berbagai macam praktik baik lainnya masih tetap berjalan, seperti halnya pembentukan lingkungan positif (dengan berbagai zona), pengembangan karakter ( melalui pagi berbagi, bintang kebaikan, dll) serta yang tidak kalah penting adalah program parents teaching. Ini sebagai bentuk dukungan dari orang tua/ masyarakat untuk meningkatkan kualitas belajar peserta didik. “Inovasi pembelajaran senantiasa diharapkan lahir secara berkelanjutan, untuk keberhasilan dunia pendidikan,” tandas Milasari.st