in

Apa Itu Makna Bahagia?

Oleh : Nur Khoirin YD

JIKA kita ditanya, apa tujuan hidup kita ini?. Jawabannya adalah, menjadi orang yang bermanfaat, berguna. Menjadi orang yang bejo, berutung, falakh. Belajar, bekerja, mencari rizki agar semua kebutuhan tercukupi. Beragama, beribadah, beramal soleh. Tujuan akhirnya adalah mendapatkan kebahagiaan lahir batin. Bahkan yang berbuat dosa, meminum khamr, mengkonsumsi narkoba, mencuri, berzina, membunuh, ngapusi, korupsi, kalau ditanya tujuannya adalah agar mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan (meskipun dengan jalan yang salah).

Makna bahagia.
Apa itu bahagia? Bahagia adalah ketika kita merasa senang, puas, tenang, tentram. Bahasa arabnya sa’idun atau sa’adah. Menurut Plato, kebahagiaan seseorang terletak di dalam kemampuannya untuk mewujudkan apa yang ia inginkan, apapun bentuknya. Manusia bisa hidup bahagia, jika ia dapat memenuhi semua keinginan dan hasratnya seumur hidupnya. Bahagia disini identik dengan kesenangan. Kita senang jika semua keinginan kita tercapai. Kita ingin makan sate, lalu terwujud makan sate diwarung langganan, maka kita senang dan puas. Kita ingin rekreasi ke Bali di malam tahun baru, tercapai, maka kita senang. Kita ingin memiliki mobil baru, tercapai, kita senang. Kita ingin memiliki rumah baru, peralatan baru, lalu terwujud, maka kita merasa senang dan puas.

Tetapi kesenangan yang diperoleh karena terpenuhinya keinginan dan hasrat jasmani ini, tidak akan pernah berhenti. Kebutuhan manusia mengkonsumsi barang dan jasa tidak terbatas, terus merasa kurang. Maka kesenangan karena terpenuhi kebutuhan jasmani, tidak memberi jaminan akan sampai kepada kebahagiaan yang hakiki. Dalam kenyataannya, banyak orang yang berlimpah harta, tetapi justru hidup menderita. Banyak orang memiliki kuasa, tetapi justru keluarganya panas bak api neraka. Banyak orang terkenal, dan dielu-elukan penggemar, tetapi hatinya merasa sepi dan bahkan mati bunuh diri.

Maka dimanakah kebahagiaan itu? Secara filosofis, bahagia menurut Imam Al Ghazali adalah :
السَّعَادَةُ كُلُّهَا فِي أَنْ يَمْلِكَ الرَّجُلُ نَفْسَهُ وَالشَّــقَــاوَةُ فِي أَنْ تَمْـلِـكَـــهُ نَفْـسُــــهُ
“Kebahagiaan adalah ketika seseorang mampu menguasai nafsunya. Dan kesengsaraan adalah saat seseorang dikuiasai nafsunya.”

Menurut Hujjatul Islam ini, puncak kebahagiaan manusia adalah jika ia berhasil mencapai tahap makrifat, telah mengenal Allah SWT. Ketahuilah, katanya, kebahagiaan datang bila kita merasakan nikmat dan kesenangan. Kesenangan itu menurut tabiat kejadiannya masing-masing. Kesenangan mata ialah melihat rupa yang indah. Kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu. Kenikmatan lidah ketika memakan makanan yang lezat. Demikian pula semua anggota tubuh yang lain dari tubuh manusia. Adapun kenikmatan hati ialah teguh bermakrifat kepada Allah. Hati itu dijadikan untuk mengingat Allah swt.

Penggemar musik dangdut sangat gembira ketika berjumpa dengan idolanya. Rakyat biasa akan sangat gembira kalau ia dapat berkenalan dan berfoto dengan walikotanya. Kegembiraan itu naik berlipat ganda kalau ia dapat berkenalan pula dengan gubernur dan bahkan presidennya. Tentu saja berkenalan dengan Allah swt merupakan puncak dari segala macam kegembiraan dan kebahagiaan. Bahkan melibihi dari apa yang pernah dibayangkan oleh pikiran manusia. Menurut Al Ghazali, tidak ada makrifat yang lebih nikmat daripada ma’rifatullah. Kita merasa dekat dan melihat Allah swt.

Cara mendapatkan kebahagiaan.
Bagaimana cara mendapatkan kebahagiaan? Allah swt Maha Adil. Semua manusia diberikan potensi yang sama untuk mendapatkan kebahagian. Caranya dan bentuknya, mungkin yang berbeda, tetapi rasanya sama. Semua orang bisa mendapatkan kebahagiaan dengan caranya sendiri. Mungkin orang kaya bisa bahagia dengan hartanya, tetapi pengemis juga bisa bahagia dengan kesabarannya. Mungkin penguasa bisa bahagia dengan keadilannya, tetapi masyarakat biasa juga bahagia dengan ketaatannya. Mungkin seorang ilmuan bisa bahagia dengan ilmunya yang bermanfaat, tetapi orang awam juga bisa merasakan bahagia dengan mendengarkan tausiah dan mauidhahnya.

Syari’at Islam diturunkan adalah untuk menuntun manusia agar memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Saadah fiddunya wal akhiroh. Islam memberikan kunci-kunci dan jalan-jalan untuk meraih kebehagiaan. Kunci untuk mendapatkan kebahagiaan antara lain adalah :

Selalu bersyukur atas nikmat-nikmat Allah yang tidak jumlah dan nilainya tidak terukur. Insyaallah akan ditambahkan dengan nikmat-nikmat yang lebih banyak.
Bersabar atas ujian dan musibah. Iman kita ini tidak dibiarkan begitu saja. Tetai selalu diuji, baik dengan kesenangan maupun dengan kesusahan.
Bekerja keras dan kemudian diakhiri dengan berdoa dan bertawakkal. Akal kita terbatas. Apa yang kita tuju belum tentu terwujud. Tetapi apa yang kita hindari terkadang justru terjadi. Apa yang kita cintai menurut akal kita belum tentu menjadi kebaikan, dan apa yang kita benci bisa jadi kebaikan yang tersembunyi.

Selalu qana’ah, merasa cukup dengan apa yang ada. Nabi saw memberi kiat agar kita menjadi qana’ah :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ »

”Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Lihatlah pada orang yang berada di bawahmu, dan janganlah perhatikan orang yang berada di atasmu. Dengan demikian kamu tidak meremahkan nikmat yang telah Allah anugerahkan kepadamu” (HR. Ibnu Majah no. 4138, shahih kata Syaikh Al Albani).
Selalu bersikap khusnudhdhan, berbaik sangka, baik kepada Allah maupun kepada manusia.
Selalu ikhlas dan ridla,

وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا۟ مَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَقَالُوا۟ حَسْبُنَا ٱللَّهُ سَيُؤْتِينَا ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ وَرَسُولُهُۥٓ إِنَّآ إِلَى ٱللَّهِ رَٰغِبُونَ
”Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya, mereka berkata hasbunallah (cukuplah Allah bagi kami). Maka Allah dan Rasul-Nya akan memberikan sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah.” ( Q.S. At Taubah: 59)

Selalu berusaha menata hati (moco qur’an, shalat malam, dzikir malam yang lama, puasa sunnah, kumpul dengan orang saleh, .

Sulit dirumuskan kata-kata.
Apa itu bahagia? Bahagia, sulit dirumuskan dengan kata-kata. Tiap orang mendapatkannya dengan cara berbeda, harganya berbeda, bentuknya bebeda, Tetapi rasanya sama, semua orang diberikan oleh Allah potensi yang sama untuk mendapat bahagia dengan caranya.

Bahagia itu;
Ternyata bukan harta yang melimpah, karena sering justru menjadi fitnah.
Ternyata bukan kekuasaan yang luas, karena sering justru menjadikan tambah buas.
Ternyata bukan popularitas, karena ternyata justru menjadikan hati keras.
Ternyata bukan karena intlektualitas yang tinggi, karena justru menjadikan lupa diri.
Ternyata bukan karena wajah ganteng atau ayu, karena akan segera layu.

Bahagia adalah ketika hati merasa cukup dengan apa yang ada, meskipun sedikit.
Bahagia adalah ketika hati merasa tenang, meskipun dalam keadaan sulit.
Bahagia adalah ketika hati merasa senang, meskipun sedang sakit.
Bahagia adalah ketika hati merasa aman, meskipun banyak orang jahat.
Bahagia adalah ketika hati merasa puas, ketika terlaksana amanat.
Bahagia adalah ketika hati merasa syukur atas semua nikmat.
Bahagia adalah ketika hati merasa ikhlas atas ujian-ujian dan musibat.
Bahagia adalah ketika kita bermanfaat.
Bahagia adalah ketika kita berhasil menjauhi dosa dan maksiat.
Bahagia adalah ketika kita dicintai oleh keluarga, anak cucu dan kerabat.
Bahagia adalah ketika kita selamat dunia akhirat.

Semoga Allah swt ridla terhadap semua amaliyah, melimpahkan nikmat sehat wal afiah, rizqi yg mudah dan barokah, ilmu manfaah, ketabat dan tetangga ramah, anak cucu dan menantu thoah, segala urusan mudah, diberikan kekuatan Istiqomah dalam ibadah dan dakwah, bersyukur nikmah, sabar dalam musibah, diberikan kebahagiaan, kesejahteraan di dunia dan diakhirat masuk jannah. Amiin.

Disampaikan pada Khutbah Jum’ah di Masjid Bank Jateng Jln Pemuda Semarang, 16 September 2022.

DR. H. Nur Khoirin YD, MAg, Ketua BP4 Propinsi Jawa Tengah/Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo/Advokat Syari’ah/Mediator/Arbiter Basyarnas, Tinggal di Il. Tugulapangan H.40 Tambakaji Ngaliyan Kota Semarang. Jatengdaily.com-st

Written by Jatengdaily.com

Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan, DPRD dan BPK Dorong Penguatan Kerja Sama

Sajikan Data Secara Digital, Kecamatan Semarang Barat Launching Aplikasi Tawa Bahagia PKK