Etika Berbicara dalam Islam

Oleh : H. Nur Khoirin YD

Ketua BP4 Propinsi Jawa Tengah, DR. H. Nur Khoirin YD., MAg, Jumat siang ini akan menyampaikan khutbah Jumat 2 Rajab 1443H/4 Pebruari 2022 di Masjid Al Muqarrabin Permata Puri Ngaliyan. Berikut isi khutbahnya:

1. Ajakan bersyukur dan meningkatkan taqwallah. Meningkatkan taqwa yang hanya sebatas seremonial dan formalitas, yang tidak membekas, menjadi taqwa yang sebenarnya.

2. Akhir-akhir ini kita mendengar atau membaca diberbagai media masa, banyak orang dari berbagai kalangan, tokoh agama, pejabat, politisi, wartawan, aktivis, dan orang awam sekalipun, dilaporkan kemudian ditangkap dan dipenjara gara-gara omongannya atau tulisannya. Omongan atau tulisan yang menodai agama, yang menghina dan merendahkan suku, kelompok atau organisasi tertentu, kritik yang cenderung fitnah, mencemarkan nama baik dan kehormatan.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini, apa saja yang kita lakukan dan omongan kita bisa direkam vidio, atau tulisan kita melalui wa, yang kita klik ke group wa, maka bisa terkirim kemana saja, bahkan keseluruh dunia, semua orang bisa melihat dan membaca, tanpa kita bisa menyetop atau mengendalikannya. Oleh karena itu agama kita Islam mengajarkan adab atau etika berbicara, agar kita selamat dari lisan kita. Nabi saw bersabda : salmatul insan fi khifdhil lisan (keselamatan manusia tergantung dalam menjaga lisannya). Pepatan jawa juga mengatakan, ajining diri gumantung soko lati (kehormatan seseorang terhanting ucapannya).

3. Ada beberapa etika yang harus ditegakkan ketika seseorang orang berbicara, baik secara langsung tatap muka, vis to vis, dimuka umum, maupun melalui telpon atau pesan tulisan, agar tidak lisan tetap terjaga :

Pertama, berbicaralah yang benar dan dengan cara baik. Substansi atau isi pembicaraan kita adalah benar. Sesuai dengan fakta atau kejadian yang ada. Tidak ditambah dan dikurangi. Jauhkan komentar atau menyimpulkan dini yang subyektif. Banyak sekali doktrin ajaran Islam tentang ini.

Dalam QS. 33/Al Ahzab 70, Allah swt berfirman : Yaayyuhal ladzina amanu ittaqullaha waquulu qaulan syadida (Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar). Nabi saw bersabda : qulil haqqa walau kana murran (katakan yang hak meskipun pait resikonya). Sabda yang lain : man kana yu’minu billahi wal yaumil akhiri falyaqul khiran au liyasmut (barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik, atau jika tidak bisa lebih baik diam).
QS. Baqarah ayat 263, Allah swt berfirman:

قَوْلٌ مَّعْرُوْفٌ وَّمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّنْ صَدَقَةٍ يَّتْبَعُهَآ اَذًى ۗ وَاللّٰهُ غَنِيٌّ حَلِيْمٌ
Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Mahakaya, Maha Penyantun.
Tidah hanya berkata yang benar, tetapi juga harus dengan cara yang baik. Kebenaran harus disampaikan dengan cara yang santun, dengan pilihan bahasa yang baik yang mudahj dipahami oleh lawan bicara, dengan intonasi yang sesuai, dalam kondisi yang kondusif. Sebab ada kebenaran yang tidak bisa disampaikan dengan vulgar, baik melalui kata-kata atau visual. Ada orang korban kecelakan meninggal di jalan misalnya, potonya tidak boleh disebar secara vulgar. Oleh karena itu harus diperhatikan etika-etika komunikasi yang baik, dengan mempertimbangkan tingkat pengetahuan, pengalaman, dan kondisi psikologis orang yang diajak bicara.

Kedua, tataplah wajah lawan bicara. Salah satu bentuk etika atau sopan santun dalam berbicara adalah melihat wajah lawan bicara. Hal ini akan membuat lawan bicara merasa lebih dihargai dan dihormati. Menatap wajah lawan bicara dengan sewajarnya saja. Jangan justru membuat lawan bicara seolah-olah terganggu dengan cara kita melihat wajahnya. Tunjukkan tatapan yang bersahabat, bukan tatapan yang curika, apalagi memandang remeh.

Ketiga, tunjukkan sikap antusias. Tunjukkan sikap antusias, semanagat. Tunjukkan bahwa kita sangat senang berbicara dengan dia, siapapun dia. Ini juga sebagai bentuk menghargai apa yang mereka bicarakan. Meskipun apa yang mereka bicarakan adalah hal yang biasa, tidak hal yang baru, tidak hal yang penting. Tetapi kita menghargai orangnya. Agar tidak tersinggung.

Keempat, Tidak memotong pembicaraan orang lain. Inilah salah satu bentuk pengendalian diri. Orang dewasa adalah orang yang bisa mengendalikan diri. Tidak setiap keinginannya diucapkan dengan kata-kata. Dengarkan lawan bicara kita selesai bicara, baru kita menanggapi. Ini untuk menghindari kita salah paham atau salah persepsi. Ada orang yang gaya bicaranya muter-muter dan mbulet sehingga tidak lekas sampai pada intinya. Tetapi dengarkan saja. Ini menjunjukkan tingkat kematangan emosi dan intelktualitas seseorang.

Kelima, Hindari perdebatan. Dalam berbicara sering kali terjadi perdebatan yang kadang kala bisa memicu timbulnya rasa sakit hati dan saling tersinggung satu dengan yang lainnya. Ketika terjadi perbedaan pendapat, carilah titik temu dengan cara yang santun. Jika ternyata tidak ada titik temu, maka salinglah menghormati perbedaan, atau menghentikan pembicaraan, agar tidak masuk pada pertengkaran.

Menghindari berdebat selain untuk menjaga hubungan baik antar sesama, juga dijanjikan akan mendapatkan balasan yang baik di akhirat kelak. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya:

“Aku menjamin sebuah istana di sekitar surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan walaupun dia dalam keadaan benar. Dan dipertengahan surga bagi seorang yang meninggalkan kedustaan walau dalam bercanda dan di bagian surga tertinggi bagi yang terpuji akhlaknya.” (HR. Abu Dawud, dalam sunannya, no 4167)

Keenam, Hindari untuk berbuat ghibah. Terkadang tanpa kita sadari arah pembicaraan yang dilakukan mengarah pada perbuatan ghibah. Membicaraan kejelekan atau kekurangan seseorang. Ghibah adalah salah satu penyumbang dosa terbesar dari lisan kita, yang harus kita jahui. Dalam kitab Shahih Muslim hadis no. 2589 dijelaskan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw pernah bertanya kepada para sahabat.

“Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui. “Beliau berkata, “Ghibah ialah engkau menceritakan hal-hal tentang saudaramu yang tidak dia suka” Ada yang menyahut, “Bagaimana apabila yang saya bicarakan itu benar-benar ada padanya?” Beliau menjawab, “Bila demikian itu berarti kamu telah melakukan ghibah terhadapnya, sedangkan bila apa yang kamu katakan itu tidak ada padanya, berarti kamu telah berdusta atas dirinya”

Semoga Allah selalu memberikan kecerdasan akal kita, menjaga lisan kita agar selalu berkata yang benar, lisan yang selalu berdzikir mengucapkan kalimah-kalimah thayyibah, dan hati yang tenang, muthmainnah, melimpahkan rizqi yang halalan thayyiban mubarokan, dan menjadikan kita semua kehidupan yang sa’adah fiddunya wal akhiroh. Amin.

DR. H. Nur Khoirin YD., MAg, Ketua BP4 Propinsi Jawa Tengah/Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo/Advokat Syari’ah/Mediator/Arbiter Basyarnas, Tinggal di Jl. Tugulapangan H.40 Tambakaji Ngaliyan Kota Semarang, Telp. 08122843498. Jatengdaily.com-st

Share This Article
Exit mobile version