Gus Mus: Tak Cukup Bercita-cita Hafal Qur’an, Namun Pahami dan Lakukan

KH Ahmad Mustofa Bisri saat memberikan mauidhoh hasanah pada Khotmil Quran dan Haul Masyayikh di Pondok Pesantren Alfattaah Demak. Foto: rie

DEMAK (Jatengdaily.com) – Kadar kesholihan setiap orang tidak bisa disamakan. Sebab seseorang disebut sholih, ketika mampu melaksanakan tanggung jawab sesuai tupoksinya, sehingga memberi manfaat bagi sesama.

Pada acara ‘Haflah Khotmil Quran dan Haul Masyayikh Pondok Pesantren Alfattaah Demak’ KH Ahmad Mustofa Bisri menyampaikan, sebutan sholih bagi setiap orang berbeda. Artinya seorang bupati yang sholih tidak harus bupati yang tekun mengaji dan hafal Al Qur’an, melainkan bupati yang mampu memimpin dengan adil dan bijaksana.

Begitu pun dengan sholihnya polisi. Menurut pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang itu, kalau kiai yang sholih itu tidak boleh su’udzon, sebaliknya jika polisi harus selalu su’udzon pada orang-orang yang dicurigai melanggar hukum.

“Sebab jika semua polisi itu selalu khusnudzon atau berbaik sangka, maka para koruptor atau pelaku kriminal lainnya akan santai saja melanggar hukum. Maka itu lah, sholihnya bupati beda dengan sholihnya polisi ataupun kiai. Sebab sholih berhubungan dengan kepatutan (tanggungjawab) seseorang,” ungkap Gus Mus, demikian KH Ahmad Mustofa Bisri biasa disapa.

Jadi, lanjutnya, bupati menjadi kurang pas jika setiap harinya khataman Qur’an. Karena ada tugas yang lebih penting yakni memimpin dengan sikap adil. Polisi pun demikian utamakan menjalankan tugas mengamankan negara, dan tidak perlu terus-menerus wiridan. Artinya bekerjalah sesuai fungsi dan tanggungjawabnya, sehingga memberi manfaat pada sesama.

Demikian pula dengan santri, sholihnya mereka yang ngaji hingga khatam Qur’an. Namun menurut Gus Mus, tak cukup bercita-cita hapal Qur’an saja, harus dipahami pula artinya dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Maka itu lah sering kali Khotmil Qur’an dibarengkan dengan Haul Masyayikh. Alasannya, karena kiai setiap hari berkutat dengan Al-Qur’an. Begitu pun kesehariannya berpedoman pada Al-Qur’an. Sebagaimana Rasulullah SAW, saat menerima wahyu Al-Qur’an dari Malaikat Jibril.

“Beliau (Rasulullah) tidak langsung menyampaikannya pada para sahabat, namun memahaminya dahulu dan menerapkannya pada kehidupan sehari-hari. Sehingga umat Rasulullah saat itu yang belum mengetahui apalagi hapal Qur’an, bisa memahami dari contoh sikap Nabi Muhammad SAW,” urainya.

Hingga diibaratkan Rasulullah itu Al-Qur’an berjalan. Karena isi Al-Qur’an dilaksanakan Rasulullah SAW dalam kehidupan sosial sehari-harinya bersama keluarga, sahabat dan umatnya.

Hadir pada acara yang digelar rutin tahunan Pondok Pesantren Alfattaah asuhan KHA Arief Cholil itu Bupati Demak dr Hj Eisti’anah, Wabup KH Ali Makhsun, serta mantan Wabup Demak di KH Muhammad Asyiq. Di samping pula sejumlah ulama, di antaranya KH Zaenal Arifin Ma’soem, pengasuh Pondok Pesantren Fathul Huda Karanggawang Sayung. rie-yds

Share This Article
Exit mobile version