Kelanjutusiaan, Booster Terciptanya Generasi Sandwich

Oleh: Septiana Tri Setiowati,SST.,M.Agb
Statistisi Muda di Badan Pusat Statistik Kabupaten Banyumas

LANJUT usia (lansia) didefinisikan sebagai mereka yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun ke atas (Undang Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia). Pembangunan kualitas juga kuantitas fasilitas dan layanan Kesehatan meningkatkan angka harapan hidup, dan menurunkan tingkat kematian.

Dengan demikian jumlah dan proporsi penduduk lanjut usia (lansia) terus mengalami peningkatan. Peningkatan jumlah penduduk lansia disatu sisi sebagai indikator meningkatnya layanan fasilitas Kesehatan, di sisi lain jumlah lanjut usia meningkat, menimbulkan konsekuensi yang kompleks. Salah satu nya adalah tercipatanya generasi sandwich.

Generasi sandwich adalah generasi yang menanggung beban finansial tiga generasi yang mencakup dirinya sendiri, orang tua, dan anaknya. Generasi sandwich adalah generasi yang penuh tekanan. Diibaratkan sebuah sandwich, isian daging dihimpit oleh dua buah roti. Roti atas ibarat orang tua atau usia non produktif tua, daging sandwich ibarat diri sendiri, dan roti bawah ibarat anak atau usia non produktif muda.

Profil Lanjut Usia Jateng
Penuaan penduduk (ageing population) menciptakan bonus demografi kedua. Hal tersebut dapat terjadi jika peningkatan populasi lansia yang masih produktif dapat memberikan sumbangan bagi perekonomian suatu wilayah (Heryanah, 2015). Kondisi seperti ini membutuhkan prasyarat tersedianya lansia yang sejahtera dan produktif dalam jumlah yang cukup.

Suatu wilayah dikatakan memasuki struktur penduduk tua jika persentase penduduk lanjut usia lebih besar dari sepuluh persen. Tahun 2021, menurut rilis data Badan Pusat Statistik (Publikasi Statistik Penduduk Lanjut Usia 2021, Desember 2021), terdapat delapan provinsi yang telah memasuki struktur penduduk tua, yaitu provinsi: DI Yogyakarta (15,52 persen), Jawa Timur (14,53 persen), Jawa Tengah (14,17 persen), Sulawesi Utara (12,74 persen), Bali (12,71 persen), Sulawesi Selatan (11,24 persen), Lampung (10,22 persen), dan Jawa Barat (10,18 persen).

Terdapat 14,17 persen penduduk lanjut usia di Provinsi Jawa Tengah, lansia yang tinggal di perdesaan (14,89 persen) lebih banyak dibandingkan dengan yang tinggal di perkotaan (13,51 persen). Menurut jenis kelamin, lansia perempuan (15,00 persen ) lebih banyak dibandingkan lansia laki-laki (13,44 persen).

Jika dilihat menurut kelompok umur, lansia di Jawa Tengah didominasi oleh lansia muda atau umur 60-69 tahun (60,44 persen), yang berpeluang menjadi lansia produktif dan mandiri secara finansial. Kelompok lansia madya yang berumur 70-79 tahun sebanyak 29,82 persen dan terdapat kelompok lansia tua yang berumur 80 tahun ke atas sebanyak 9,74 persen.

Lansia potensial adalah penduduk lanjut usia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan/atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang dan/atau jasa (UU Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia). Tahun 2021, di Jawa Tengah sekitar satu dari dua lansia masih aktif bekerja (51,44 persen). Lebih dari 50 persen penduduk lansia bekerja di lapangan usaha pertanian (54,66 persen), lapangan usaha jasa-jasa menyerap 28,52 persen lansia bekerja, dan yang bekerja di lapangan usaha manufaktur ada 16,82 peren penduduk lansia bekerja. Rata-rata penghasilan lansia bekerja di Jawa Tengah dalam sebulan sekitar Rp.1.016.000, sangat rendah jika dibanding UMP Jawa Tengah tahun 2021 sebesar Rp 1.798.979.

Kelanjutusiaan vs Generasi Sandwich
Seiring pembangunan fasilitas kesehatan, jumlah lansia akan terus meningkat dan tidak dapat dihindari, terjadi peralihan penduduk dari usia produktif menjadi usia non produktif (tua). Kondisi lansia di masa mendatang ditentukan oleh bagaimana keputusan yang diambil di masa usia produktif agar nantinya dapat mandiri secara finansial.

Kelanjutusiaan menjadi booster terciptanya generasi sandwich. Lansia yang produktif dan mandiri secara finansial akan menurunkan jumlah generasi sandwich, sebaliknya pertumbuhan penduduk lanjut usia tanpa didukung kemandirian finansial akan meningkatkan populasi generasi sandwich yang dapat digambarkan sebagai generasi penuh tekanan.

Generasi sandwich lebih rentan stres karena multiperan dan banyaknya tekanan, antara lain masalah keuangan dan tanggungjawab sosial di antara kebutuhan anak, diri sendiri dan orang tua yang harus mereka tanggung. Terciptanya generasi sandwich tidak semata-mata karena ketidakmampuan finansial penduduk lanjut usia, namun bisa dipicu karena kebudayaan yang umum di Indonesia, peran generasi sandwich seolah menjadi wajib sebagai wujud bakti anak kepada orangtua.

Fakta di Jawa Tengah di tahun 2021 satu dari dua orang lansia (56,43) adalah kepala rumahtangga yang bertanggung jawab secara sosial ekonomi terhadap keluarga tersebut. Artinya ada satu dari dua lansia yang menjadi tanggungan anggota keluarga lainnya baik secara ekonomi maupun sosial.

Penambahan penduduk lansia berpengaruh pada angka rasio ketergantungan, yang merupakan perbandingan antara penduduk usia produktif dengan penduduk usia tidak produktif. Rasio ketergantungan lansia adalah perbandingan antara penduduk usia produktif (umur 15-59 tahun) dibandingkan dengan penduduk lanjut usia (umur 60 tahun ke atas), yang mencerminkan besaran beban yang harus ditanggung oleh penduduk usia produktif untuk membiayai penduduk lanjut usia.

Rasio ketergantungan lansia digunakan sebagai indikator tingkat kemandirian penduduk lanjut usia dan beban ekonomi penduduk usia produktif terhadap lansia. Rasio ketergantungan lansia di Jawa Tengah tahun 2021 sebesar 22,31 yang artinya bahwa setiap 100 orang penduduk usia produktif (usia 15-59 tahun) harus menanggung setidaknya 23 orang penduduk lanjut usia. Jika dibandingkan dengan rata-rata Indonesia maka rasio ketergantungan lansia Jawa Tengah berada diatas rata-rata Indonesia yang sebesar 16,76. Atau tepatnya rasio ketergantungan lansia di Jawa Tengah berada di posisi ketiga tertinggi setelah provinsi DI Yogyakarta dan Jawa Timur.

Generasi Sandwich, Putus atau Terus
Generasi sandwich dalam dua dilema antara beban dan bakti, generasi sandwich harus menanggung beban yang lebih untuk bertanggungjawab secara finansial dan sosial terhadap kehidupan orangtua, dilain sisi generasi sandwich sebagai tanda bakti seorang anak terhadap orantuanya.

Yang terpenting disini adalah bagaimana kita bisa berperan sebagai generasi sandwich yang tidak menciptakan generasi sandwich selanjutnya. Membuat perencanaan yang matang sejak di usia produktif untuk menyambut masa lansia baik rencana menabung ataupun investasi. Untuk menghindari stress yang rentan dialami generasi sandwich maka luangkan waktu untuk diri rendiri, temukan waktu untuk beristirahat agar kemudian kita sebagai generasi sandwich dapat menjalankan peran kita dengan baik.

Menjadi generasi sandwich bukanlah sesuatu yang buruk, jadikan sebagai peluang, sebagai penyemangat untuk meningkatkan produktivitas bekerja agar dikemudian hari anak anak kita tidak menjadi generasi sandwich berikutnya. Jatengdaily.com-st

 

Share This Article
Exit mobile version