
Saat berdiskusi, Kepala Dinkop UKM Provinsi Jateng Ema Rachmawati menjelaskan bahwa Hetero Space yang ada di Kota Surakarta tidak meninggalkan budaya. Dalam pendiriannya, pihaknya menggandeng kerjasama dengan Institut Seni Indonesia Surakarta untuk menggelar event-event atau pagelaran kesenian di pendopo yang disediakan.
“Jadi intinya begini, ruang ini intinya untuk anak muda. Nah, ruang itu bisa untuk dijadikan UMKM start up (usaha rintisan) dan lain sebagainya. Mau berkegiatan dengan kaum disabilitas juga monggo karena disini sangat bersahabat dengan kaum penyandang disabilitas. Juga tersedia pendopo yang pemanfaatannya bisa dijadikan untuk pegelaran seni budaya,” jelas Ema.
Dikatakan pula, renovasi gedung yang menelan biaya pembuatan sekitar Rp 2,2 miliar. Dalam gedung itu ada fasilitas perkantoran, maker space, studio, event space, gaming area, dan lain sebagainya.
“Gedung itu bisa menjadi ruang belajar bagi pelaku UKM menuju atmosfer digital,” ucapnya.
Mendengarnya, Komisi A mengapresiasi pendirian hetero space tersebut. Wakil Ketua Komisi A, Fuad Hidayat, mengatakan pemanfaatan aset itu dibutuhkan feedback pendapatan materil yang diiringi dengan pelayanan publik dan kemanfaatannya bagi masyarakat dari aset yang sudah di renovasi.
“Yang jelas, kalau soal pemanfaatan aset ini, kami sangat bangga dan berbahagia. Kami datang di tempat dengan effort yang maksimal dengan anggaran yang sebetulnya sangat minimal dan ternyata menghasilkan suatu tempat yang sangat luar biasa bagi masyarakat Jateng, khususnya di Kota Surakarta ini. Dan, kami berharap apa yang sudah dicapai ini bisa menginspirasi munculnya tempat-tempat seperti Hetero Space,” kata Politikus PKB itu. st