Silaturrahmi Mendekatkan Hati

Oleh : Nur Khoirin YD

Hari-hari ini kita masih dalam suasana idul fitri. Orang Indonesia menyebut bodo atau lebaran. Bodo atau bakdo, artinya selesai. Maksudnya, selesai menjalankan puasa satu bulan Ramadan, menahan lapar dan dahaga. Ramadan adalah latihan, training, madrasah, menempa diri agar menjadi lebih baik, latihan menahan nafsu, latihan merasa diawasi meskipun tidak ada mata yang melihat. Tujuannya, agar kita menjadi muttaqin, menjadi orang yang mampu memenuhi perintah Allah swt dan menjauhi larangan-Nya, sekaligus menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain (khoirinnasi anfa’uhum linnas).

Buah Puasa dan Idul Fitri :
Buah Idul fitri adalah lebaran. Artinya lebar atau selesai, yaitu selesai menjalankan puasa, selesai berjihad melawan hawa nafsu. Kata lebaran juga dekat dengan kata lebur, labur, luber, lebar, dan libur. Leburan, artinya hancur lebur atau dihapus semua dosa dengan berpuasa. Sebagaimana sabda Nabi saw, “Man shama ramadhana imanan wahtisaban ghufiro lahu ma taqaddama min dzanbihi wama taakhkhar” (barangsiapa puasa Ramadan dengan penuh keimanan dan hanya mengharap ridla Allah swt, maka diampuni (dilebur) seluruh dosanya, yang akan datang maupun yang sudah berlalu). Tidak hanya dilebur dosanya, tetapi kita juga dijamin merdeka dari siksa neraka (itqu minannar).

Laburan, artinya dihias, dicat agar cantik. Pada hari raya, kita mengenakan pakaian baru, baju yang terbaik, bau minyak wangi. Setelah puasa diri kita menjadi lebih cantik lahir batin karena dihiasi dengan perilaku terpuji, mengenakan baju taqwa (libasuttaqwa), serta menghias diri dengan akhlaqul karimah. Luberan, artinya melimpah, nyiprat ke orang lain. Idul Fitri semua orang menyiapkan berbagai menu untuk menjamu para tamu. Kita keluarkan zakat, infaq, shadaqah, kita santuni anak yatim dan faqiriskin. Semangat luber ini harus terus ditumbuhkan.

Buah puasa yang lain adalah Lebar. Artinya, luas pandangan ke depan, jembar manah, lapang dada, dan pemaaf. Jangan pesempit hidup ini dengan perasaan iri dengki, dendam dan cemburu. Lebarkan hati kita dg pandangan khusnudhdhan, pikiran yang positif. Insyaallah kita bisa hudup berdampingan dengan siapa saja. Perluas pergaulan dengan siapa. Kita punya prinsip, seribu kawan kurang banyak, tetapi satu musuh kurang sedikit. Setelah puasa kita juga harus libur. Artinya, prei dan berhenti. Setelah idul fitri kita stop berbuat dosa dan maksiat. Stop berbuat salah, stop menyakiti. Jangan melakukan salah dua kali. Berbuatlah baik berkali kali.

Hidangan khas lebaran seperti ayam opor, kupat, lepet, dan lontong, juga penuh dengan makna filosofi untuk menata diri dalam pergaulan sehari-hari. Opor ayam (I am), artinya aku opo rak rumongso (apa saya tidak merasa?). Orang harus selalu mawas diri, instrospeksi dan muhasabah, agar hari ini lebh baik dari hari-hari kemaren. Kupat, ngaku lepat (mengakui kesalahan).

Orang harus selalu merasa banyak kesalahan dan kelembahan, agar tumbuh semangat memperbaiki diri. Jangan justru sebaliknya, merasa paling benar, paling baik, paling berjasa, paling hebat, sehingga memandang rendah orang lain. Lepet, lepas cepet-cepet (jika ada rasa iri hati, dendam, segera lepas, segera meminta maaf atau memberi maaf). Lontong, alon-alon montong (pelan-pelan tetapi berbuah, memberi manfaat kepada orang lain). Diharapkan orang yang menyantap hidangan lebaran ini akan mendapatkan kebaikan yang meningkat.

Silaturrahmi mendekatkan hati.
Problem kehidupan orang modern adalah sibuk, dikejar-kejar waktu, hidupnya nafsi-nafsi (individualis), tidak peduli, cuek, kerja berangkat pagi, pulang malam hari. Jarang ketemu kawan dan saudara. Pertemuan melalui online, telpon, sms, whatsApp, zoom, Gmeet.

Hubungan dengan orang hanya formalitas, basa-basi kalo ada kepentingan, bukan sepenuh hati. Akibatnya, orang mudah stress, capek, mudah tersinggung, marah, dan kesepian di tengah-tengah keramaian. Masyarakat juga mudah tersulut emosi, tawuran antar kampung, antar pelajar, antar mahasiswa, antar golongan agama, dan antar pendukung tokoh. Menyelesaikan masalah kecil dilakukan dengan demo besar yang anarkis dan cenderung memicu permusuhan.

Pemicu hubungan yang tidak harmonis adalah suudhdhan (berburuk sangka), miss komunikasi, salah persepsi, salah paham, iri dengki (hasud), dan berbagai penyakit hati yang lain. Islam menawarkan berbagai resep obat hati, yang jika dikonsumsi secara teratur hati akan sehat, tenang, dan dekat dengan hati-hati yang lain. Salah satu obatnya adalah khusnudhdhan, tabayun dan silaturrahmi.

Khusnudhdhan, artinya adalah berbaik sangka kepada orang lain, atau positive thinking. Menilai orang jangan dengan kacamata cinta buta atau benci buta. Cinta buta artinya, kalo sudah cinta kepeda seseorang, mata kita buta tidak melihat kekurangannya. Sebaliknya, kalo sudah benci kepada seseorang, mata kita buta tidak melihat kelebihannya.

Tapi memandang orang secara obyektif, mengakui kelebihannya dan sekaligus memaklumi kekurangannya. Kita menyadarai bahwa manusia bukan malaikat yang tidak punya kekurangan. Tetapi juga bukan syetan, yang tidak memiliki kelebihan. Fitrah manusia adalah memiliki kelebihan, tetapi juga memiliki kelemahan dan kekurangan. Tidak ada manusia yang sempurna.

Jika mendapatkan informasi yang tidak atau kurang jelas, kita tidak boleh langsung bereaksi atau bersikap, tetapi kita diperintahkan untuk melakukan tabayun atau meminta konfirmasi terlebih dahulu. Hal ini ditegaskan antara lain dalam QS. An-Nisa’ : 94 dan Al-Hujarat : 6. Dalam kedua ayat tersebut, tabayyun artinya adalah mencari kejelasan hakikat suatu atau kebenaran suatu fakta dengan teliti, seksama dan hati-hati, dan dilakukan dengan silaturrahmi.

Obat yang tidak kalah manjur untuk mendekatkan hati adalah sengan bersilaturrahmi, saling mengunjungi secara langsung, bertatap buka. Silaturrahmi, artinya nyambung paseduluran, persaudaraan, dan kekeluargaan. Silaturrahmi ini adalah prinsip penting yang diajarkan oleh Islam untuk membangun hubungan yang harmonis. Hadits Nabi mengatakan, “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim). Sebaiknya, orang yang rajin silaturrahmi akan diluaskan rizqi dan dipanjangkan umurnya.

Orang-orang yang sudah tua, ketika anak-anak sudah mandiri, kerja mencari uang sudah berhenti, harta sudah mandeg tetapi mencukupi, sehingga waktu luang banyak sekali, maka silaturrahmilah, insyaallah akan tetap sehat, hidup menjadi nikmat, karena memberi manfaat, tidak ada beban karena banyak kawan berbagi, dan pada saatnya dipanggil, kembali dengan mudah, indah, dan husnul khatimah. Tambakaji, 5 Syawal 1443H/6 Mei 2022M

Tausiyah ini akan disampaikan pada Khutbah Jumat di Masjid Al Muqarrabin Perum Permata Puri Ngaliyan, 5 Syawal 1443H/6 Mei 2022 M.

DR. H. Nur Khoirin YD., MAg, Ketua BP4 Propinsi Jawa Tengah/Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo/Advokat Syari’ah/Mediator/Arbiter Syari’ah, Tinggal di Jl. Tugulapangan H.40 Tambakaji Ngaliyan Kota Semarang, Telp. 08122843498. Jatengdaily.com-st

 

 

Share This Article
Exit mobile version