Oleh Gus Anies Maftuhin
PADA bulan Ramadan seperti ini semangat (ghirah) ibadah ummat Islam tampak di mana mana, baik secara individu maupun bersama sama. Berbagai kegiatan syiar agama digelar untuk menyemarakkan bulan mulia nan penuh berkah ini.
Seiring perjalanan sejarah berkembangnya Islam di Indonesia, banyak pula tradisi dan budaya keagamaan yang tumbuh dan melekat dalam kehidupan masyarakat kita setiap bulan Ramadan tiba. Salah satunya adalah tadarusan Al Qur’an di surau surau dan masjid masjid usai shalat tarawih purna.
Secara bahasa, tadarusan ini berasal dari kata tadaarosa- yatadarosu- tadarusan yang berarti saling membacakan atau saling menyimakkan bacaan untuk tujuan belajar atau saling koreksi mengoreksi. Kegiatan seperti ini juga pernah dilakukan para sahabat Nabi dahulu kala.
Disebutkan dalam beberapa riwayat, setiap bulan Ramadan para sahabat juga berkumpul di emperan(shuffah) masjid Nabawi di Madinah. Mereka saling menyimakkan bacaan Al-Qur’an guna saling mengecek ketepatan hafalan mereka satu sama lain.
Seiring berkembangnya ajaran Islam di berbagai penjuru dunia, tradisi tadarusan di masjid masjid itu pun juga ditemukan di beberapa negara hingga saat ini. Misal di Mesir, Turki, Pakistan, India dan juga di negara kita Indonesia, terutama di malam malam bulan suci Ramadhan.
Dalam kontek ibadah, membaca dan saling menyimak Alquran ini pun termasuk salah satu ibadah Sunnah yang dianjurkan. “Siapa mendengar ayat dari kitabullah (Alquran) maka baginya pahala kebajikan berlipat. Siapa membaca satu ayat Alquran, maka ayat itu pada hari kiamat kelak akan menjadi cahaya baginya,” kata Rasulullah dalam satu riwayat.
Pada satu waktu seseorang bertanya kepada penulis soal faedah membaca Al Qur’an tanpa mengetahui maknanya. Kata orang itu, bukankah Al Qur’an itu kitab petunjuk bagi ummat Islam? Lantas, bagaimana si pembaca akan mendapatkan petunjuk bila tak paham maknanya?
Sebelum bicara dalil, penulis pernah membaca kisah seperti ini: ada seorang anak kecil bertanya seperti itu kepada kakeknya. Lalu si kakek itu meminta cucunya untuk mengambil ember yang berlubang di bagian bawahnya dan sangat penuh dengan kotoran. “Tuangkan air ke ember itu, kalau perlu sebanyak banyaknya,” kata si kakek. Si cucu pun menurutinya.
Setelah beberapa kali siraman, si kakek berkata: “Lihatlah, kotoran yang menempel di ember itu berkurang karena terkena siraman air. Demikian halnya, ayat ayat Al Qur’an yang kamu baca itu sesungguhya untuk menyirami hatimu agar bersih dari kotoran kotoran penyakit hati yang berbahaya.”
Itulah faedah yang hanya bisa dirasakan dan diraih oleh orang yang mengimani berkah besar dari tadarusan Al Qur’an.
Soal dalil manfaat membaca Al Qur’an meski tak paham artinya, ada firman Allah dan sabda Rasulullah yang menegaskan bila membaca Al-Qur’an tanpa memahami arti pun bisa mendatangkan pahala.
“Bacalah apa yang mudah dari Al-Qur’an.” (QS. Al-Muzzammil: 20). Inilah salah satu dalil akan adanya pahala membaca Al Qur’an meski tak paham maknanya. Sebab, membaca sendiri adalah bentuk ketaatan, dan ketaatan adalah ibadah.
Pahalanya pun tak sedikit. Dalam beberapa ayat dijelaskan bila pahala membaca Al-Qur’an itu dihitung perhuruf dan setiap huruf akan dikalikan sepuluh kebajikan. Dan di bulan Ramadhan, pahala itu pun masih dilipatgandakan lagi dikarenakan kemuliaan bulan suci Ramadhan.
Meski demikian, tentu yang lebih baik dan lebih afdhol adalah bisa membaca sekaligus memahami artinya. Yakni, sebagaimana dinasehatkan oleh syair lagu tombo ati : salah satunya membaca Alquran beserta maknanya.
Dalil keafdhalan dan lebih besarnya pahala bagi yang membaca dan paham maknanya juga tak sedikit. Beberapa bahkan menegaskan pahalanya justeru lebih berkah, lebih banyak dan lebih besar jika kita mengerti dan paham makna bacaan ayat yang kita baca.
Nah, untuk menambah kualitas dan prestasi kita di bulan suci tahun ini, alangkah baiknya kita rajin mengikuti kegiatan tadarusan di masjid masjid, atau dengan keluarga di rumah. Dan lebih baik lagi bila kita menjadikan momentum bulan ramadhan tahun ini untuk menambah pengetahuan dan pemahaman tentang makna makna dan kandungan Al Qur’an. Selamat berpuasa dan mengumpulkan banyak pahala.!
*Gus Anies Maftuhin, Ponpes Wakaf Literasi Islam Indonesia (WALI), Salatiga. Jatengdaily.com-st
