SEMARANG (Jatengdaily.com) – Samuel Wattimena, perancang busana terkemuka di negeri ini ikut berperan serta sebagai salah satu peserta yang akan memperagakan karya-karyanya. Dengan tema Fashion is Fun rencananya ia akan menggelar karya-karyanya sebanyak 48 set (24 perempuan dan 24 laki-laki). Kali ini ia akan menampilkan karya-karya dengan gaya yang muda, dinamis, seru, dan penuh dengan kegembiraan, Kamis malam (10/08) di Semarang.
Peragaan karya Samuel Wattimena kali ini menggandeng perancang lainnya dari Jakarta dan Semarang, Salatiga, dan Yogya. Mereka adalah Itang Yunasz, Danjyohiyoji, Yoyo Prasetyo, Dimas Mahendra, Philip Iswardono,Vici, Sudarna Suwarsa, Dhievine Batik, Tya Chandra, Indah Darry , Retno Srengenge, BAI OHM, Ichwan Thoha, Emmy Thee, Saparo, Ronkhead, Ant art 1994, Tumb stone, Roro Kenes, Asbag, DEW.
Pada Semarang Fashion Trend yang berlangsung dari 9 – 12 Agustus 2023, Samuel Wattimena melalui rancangan kali ini ia ingin menyampaikan pesan bahwa tampil modis atau tampil fashionable itu bisa seru dan tidak harus mengikuti peraturan-peraturan yang kaku. Padu-padan yang ia tampilkan melalui karya-karyanya kali ini diharapkan mampu menjadi isnpirasi para anak muda – terutama generasi milenial dan generasi Z – yang seringkali bereksperimen dengan penampilan mereka. Diharapkan para siapapun – terutama generasi muda – memilih elemen-elemen busana sesuai dengan selera mereka dan kemudian memadukannya sesuai dengan selera mereka. Perlu diingat busana keseharian seharusnya lebih lentur dibandingkan dengan kostum tradisional .
“Apalagi di jaman sekarang jarang orang yang berpenampilan – dari kepala hingga kaki – dengan satu merek busana. Topinya merek A, blusnya merek B, celana panjangnya merek C dan seterusnya. Melalui peragaannya kali ini pula Samuel pun ingin berpesan bahwa jangan takut untuk memadukan sesusatu elemen busana dengan unsur tradisi dengan elemn lainnya dengan karakter internasional.
“Bereksperimenlah karena tidak satu aturan pun yang melarang batik dipadukan dengan rajut, atau tenun ikat berpadu dengan jins, dan seterusnya, “jelasnya.
Akhir akhir ini istilah sustainable fashion semakin popular. Apa itu sustainable fashion? Mungkin secara harafiah bisa diterjemahkan menjadi fashion yang berkelanjutan. Namun makna lebih dalamnya adalah industri mode yang menciptakan busana-busana sesuai trend namun dengan memperhatikan dampak negatif terhadap lingkungan. Sederhananya adalah fashion yang dibuat secara etis dan ramah lingkungan.
Perlu diingat, dengan semakin cepatnya trend mode dunia, berarti semakin cepat pula perputaran karya-karya desainer dunia dan produk-produk garmen di dunia. Ini – oleh sebagian pakar – dianggap sebagai salah satu pemborosan dan dianggap sebagai salah satu penyebab kerusakan lingkungan. Salah satu caranya mendaur ulang sebagian produk-produk tadi menjadi sebuah karya baru yang modern dan trendi selaras dengan berjalan trend mode. Ini pula yang dilakukan oleh Samuel Wattimena dalam sebagian karya-karyanya.
Dalam peragaan Fashion is Fun ini Samuel pun ingin menitip pesan tentang sustainable fashion atau mode yang berkelanjutan. Contohnya, tidak semua karya-karya yang ditampilkan saat ini merupakan karya-karya baru. Ada sebagian yang merupakan karya-karya lampau yang dipadu-padankan dengan beberapa elemen dari karya perancang lain, dipadu-padankan sedemikian rupa sehingga gaya dan penampilannya terlihat sangat kekinian.
Samuel Wattimena, perancang busana yang memulai karirnya pada 1979 melalui Lomba Perancang Mode yang diadakan oleh Femina Group sudah lebih dari satu dasawarsa aktif bersentuhan dengan para pengusaha UMKM. Acapkali ia mengunjungi para pengrajin UMKM di daerah untuk memberi masukan-masukan yang berhubungan dengan standar dunia internasioal untuk menambah nilai produk-produk para pengusaha tersebut.
Perlu diketahui, sejak pertama berkarya, ia merupakan sedikit perancang yang menampilkan karya-karya berinsipirasi dari unsur tradisi yang kemudian di “twist” sehingga citra keseluruhan karya- karyanya terlihat berselera internasional. Dalam artian, siapa saja (di dunia ini) bisa menggunakan karya- karyanya tanpa harus merasa kikuk. Keahlian inilah yang ia bagikan kepada seluruh pengusaha UMKM
yang selama ini ia temui. “Fashion tidak harus selalu berhubungan dengan busana; saat ini produk apapun yang beredar selalu berhubungan dengan fashion, baik dari segi bentuk, kemasan, penampilan, dan masih banyak lagi,” jelasnya.
“Mungkin awalnya perpaduan yang dihasilkan tidak berhasil sesuai harapan, tapi ekspreimen itu harus tetap dilanjutkan. Tidak harus berkecil hati jika ada yang mengritik karena dalam hidup ini tidak semua orang bisa memiliki jalan pikiran dan selera yang sama. Yang penting tetap bereksperimen dan jadikanlah penampilan seseru mungkin, karena pada intinya, fashion is fun,” katanya.
Kolaborasi
Dalam berbusana keseharian saat ini masyarakat terlihat sudah lebih bebas dalam menentukan elemen elemen busana yang akan digunakan dalam berpenampilan. Hal ini menunjukkan bahwa berpenampilan itu merupakan gabungan dari berbagai elemen, dari berbagai merek, dan dari berbagai busana berbeda karakter. Ini juga yang ingin disampaikan oleh Samuel Wattimena melaluk karya- karyanya yang diperagakan di Semarang pada awal Agustus ini. Apa yang ditampilkan saat ini tidak melulu karya-karya yang direka oleh Samuel Wattimena sendiri.
Ia mengajak 18 desainer lain yang berasal dari Jakarta dan Semarang untuk bergabung melalui peragaan ini. Dalam artian, elemen-elemen busana para perancang tersebut dipadu dengan elemen busana yang direka oleh Samuel Wattimena. Dan jadilah satu look berbeda yang sebenarnya menggambarkan kenyataan dalam berbusana.
Pada prosesnya penggabungan busana ini Samuel Wattimena dibantu oleh seorang fashion stylist handal Michael Pondaag. Jadilah sebuah rancangan “baru” yang merupakan kolaborasi (gabungangan) antara karya Samuel Wattimena dan karya 18 perancang tadi. Gabungan antara perancang dari berbagai daerah, gabungan antara elemen tradisi dan modern, gabungan antar aneka warna, gabungan antar karakter bahan, dan gabungan antar beberapa gaya.
Di sini Samuel ingin menyampaikan lagi bahwa sudah saatnya agar siapapun di dunia ini harus lepas dari aturan berbusana yang selama ini terasa mengikat. Untuk berpenampilan, seseorang tidak harus mengenakan satu karya desainer dari kepala hingga ujung kaki. Siapapun bebas menentukan elemen busana dari perancang mana pun dan dari merek apa pun untuk berpenampilan.
Tampil dengan kain tradisional tidak harus tampil dengan gaya etnik. Ini merupakan pesan lainnya yang ingin disampaikan Samuel pada peragaannya kali ini. Banyak karya-karyanya yang menggunakan elemen tradisiional seperti kain tenun ikat, tenun songket, batik, dan lain sebagainya tetapi penampilan keseluruhannya tetap terlihat modern.
Di sini ia pun ingin mengatakan bahwa sudah saatnya siapapun – terutama generasi muda – melirik aneka produk-produk tradisional sebagai salah satu pelengkap dalam berpenampilan. Baik itu sebagai pelengkap utama – sarung, rok, blus, jas – maupun pelengkap sampingan – selendeang, ikat kepala, scarf. Penggunaan produk-produk ini membuat penampilan seseorang menjadi lebih khas, menjadi sangat Indonesia. Selain itu hal ini secara jangka panjang membantu para pengrajin daerah meningkatkan produksi karena produk-produk tadi tidak hanya digunakan sebagai busana pada acara tradisional saja tetapi juga digunakan pada penampilan keseharian.
Selain itu, unsur tradisi ini menciptakan karakter khas secara berpenampilan; menjadi sangat Indonesia karena tidak ada satu daerah di dunia ini yang memiliki kekayaan wastra sekaya Indonesia. Secara jangka panjang usaha ini pun bermanfaat menjadi sebagai salah satu kiat untuk menangkal kepunahan kain tradisional Indonesia di waktu mendatang. Dan ini semua ada pada peragaan karya Samuel Wattimena kali ini.St


