Permintaan Sapi Kurban di Jateng Dibanjiri dari Kalteng, Jabodetabek dan Istana Presiden

Ilustrasi. Foto: dok

SEMARANG (Jatengdaily.com)- Jawa Tengah selama ini menjadi pusat penghasil sapi di Indonesia. Untuk kebutuhan perayaan Idul Adha 2023, permintaan sapi kurban paling banyak datang dari Jabodetabek dan Kalteng.

“Jadi wilayah kita masih ada kelebihan atau surplus 20 ribu ekor. Karena Jateng merupakan area surplus penghasil sapi, makanya untuk Idul Adha besok, banyak pesanan dari luar provinsi,” kata Kepala Disnak Keswan Jateng, Agus Wariyanto, Rabu (28/6/203).

Tercatat untuk sentra penghasil sapi di Kabupaten Blora punya populasi sapi sebanyak 240 ribu ekor, di Kabupaten Grobogan punya populasi sapi 210 ribu ekor, di Kabupaten Wonogiri 170 ribu ekor, Kabupaten Rembang punya populasi 150 ribu ekor sapi serta Kabupaten Pati punya populasi sapi 110 ribu. Pihaknya mulai sepekan ini telah mengirimkan sapi jenis PO, sapi Brebes dan sapi limosin untuk memenuhi kebutuhan wilayah Jabodetabek dan Kalteng.

“Kalau warga Kalteng sering pesan ke Jateng jenis sapi PO, sapi Brebes sama limosin. Wilayah kita memang banyak diserbu propinsi lain karena harga sapinya murah kisaran Rp55 juta sampai Rp70 juta. Dan juga pasokannya melimpah. Permintaannya mulai meningkat H-7,” ungkapnya.

Pihak Istana Kepresidenan juga memesan 10 sapi kurban dari Jawa Tengah. Sapi kurban yang dipesan rata-rata seberat 1 ton.

“Kita juga layani pesana dari istana kepresidenan ada 10 ekor sapi untuk keperluan kurban. Beratnya rata-rata 1 ton,” jelasnya.

Guna memastikan kesehatan pada hewan kurban, pihaknya telah memerintahkan tim medis untuk perketat pengawasan pada lalu lintas pengiriman sapi di perbatasan Jatim dan Jabar. Mulai H-7 telah diterjunkan petugas untuk memeriksa anti mortem.

“Kita perketat pengawasan di 10 pos pemantau perbatasan dengan rutin mengecek SKKH dari daerah asal hewan kurban. Hewan kurban yang masuk ke Jateng mayoritas jenisnya sapi Madura,” ujarnya.

Untuk menjaga kesehatan, warga sebaiknya harus berhati-hati ketika mengonsumsi daging sapi yang terkena LSD. Sebelum dikonsumsi, jeroan sapi perlu direbus supaya tidak gampang membusuk sekaligus memudahkan saat proses pembagian kepada warga kurang mampu.

Bila ada sapi kurban yang terkena virus LSD tetap diizinkan disembelih asalkan kondisi penyakitnya tidak parah.

“Kalau ada ternak sapi yang dikurbankan terus dia kena penyakit LSD, itu masih sah dipotong. Jadi kalau hanya sepintas saja sakitnya ya tetap sah-sah saja. Gak apa-apa kok. Yang boleh dipotong yaitu sapi yang kena gejala LSD ringan atau yang belum borokan dan tidak bopeng,” tutupnya. adri-she

Share This Article
Exit mobile version