in

Kemenangan Melawan Egoisme

Oleh:Dr. H. Multazam Ahmad, MA

Allahu Akbar 3 x Walillahil-hamdu

Kalimat takbîr, tahlîl, dan tahmîd kita kumandangkan sebagai bentuk ketaatan dan ungkapan rasa syukur kita kepada Allah SWT atas segala nikmat yang diberikan kepada kita semua. Baik nikmat Islam, nikmat Iman, serta nikmat Kesehatan.

Dengan nikmat sehat ini kita dapat menyempurnakan serangkaian ibadah puasa Ramadhan yang ditutup dengan zakat fitrah dan dilanjutkan dengan shalat Idul Fitri.

Pada hari raya ini, kita patut bergembira dan bersukacita. Gembira karena telah menyelesaikan kewajiban puasa dan berbagai ibadah lainnya di bulan Ramadhan.
Dengan begitu, kita bisa berharap meraih predikat hamba yang bertakwa, serta mendapatkan ampunan, pahala, ridha, dan surga-Nya.Amien.

Meskipun gembira dan sukacita, namun kegembiraan kita tidaklah sempurna manakala menyaksikan berbagai peristiwa menyedihkan menimpa saudara kita umat Islam di berbagai belahan dunia.

Bagaimana kita bisa bergembira, sementara saudara-saudara kita di GazaPalestina dibombardir dengan aneka senjata pemusnah oleh tentara -tentara Israel, di Suriah masih terjadi konflik yang tidak kunjung selesai.

Setiap tahun selalu terulang kembali ketika umat umat Islam melaksanakan ibadah puasa dan merayakan hari kemenangan.

Tidak sedikit yang menjadi korban, sampai hari ini kurang lebih ada 32.632 orang gugur menjadi syuhada. Masjid, pemukiman, rumah sakit, dan berbagai infrastruktur lainya pun hancur dan luluh lantak.

Betapa sedihnya hati ini, kita menyaksikan tubuh-tubuh bergelimpangan dengan penuh luka mengenaskan, mendengan tangisan bayi dan anak-anak yang memilukan, serta jeritan meminta pertolongan. Namun tak banyak yang bisa kita lakukan. Kita hanya mampu untuk berdoa kepada Allah swt.

Allahu Akbar 3 x Walillahil-hamdu
Selama Ramadhan kita di didik dan dilatih untuk menahan hawa nafsu kita, sebgai manifestasi manusia yang bertaqwa.Oleh karena itu puasa pada intinya adalah untuk membentuk manusia yang bertaqwa.

“ Hai orang -orang yang beriman di wajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana di wajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”. ( QS.Al Baqarah 183)
Dengan demikian puasa adalah proses perbaikan diri untuk dapat lahir kembali sebagai manusia suci yakni suci ucapan, suci tingkah laku, dan suci akhlaknya.

Pribadi pribadi taqwa tersebut tentu tidaklah mudah dalam perjalanan sebelas bulan ke depan. karena suasananya sudah berubah, terutama musuh utama manusia, yaitu syaitan dengan sekutunya yang selama Ramadhan tidak punya ruang untuk menggoda manusia sekarang sudah lepas kembali dan akan menggoda manusia. Inilah tantangan yang paling berat bagi kita. Iblis dan syaitan tidak akan rela bila pribadi-pribadi orang taqwa ini tetap dalam keadaan fitri.

Mereka akan segera bereaksi untuk memporak- porandakan hasil-hasil Ramadhan dengan segala upaya. Itulah tugas dan sumpah Syaitan yang akan menyesatkan seluruh umat manusia. Seperti diungkapkan dalam Alquran :

“Iblis menjawab : Karena engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalang-halangi manusia dari jalan yang lurus, kemudian akan saya datangi manusia dari arah muka, dari belakang, serta arah kanan dan kiri mereka. Dan engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur” QS.Al A‟raf 16-17 )

Allahu Akbar 3 x Walillahil-hamdu

Di dalam ber-Idul Fitri tahun 1444 H ini marilah kita fahami apa sesungguhnya makna hakiki dari Idul Fitri. „ Id artinya “ kembali” dan “Fitri” berarti “ agama yang benar” atau kesucian asal kejadian. Kalau kita memahami fitrah sebagai “agama yang benar “ maka hal tersebut menuntut adanya keserasian hubungan sebagai tanda keberagamaan yang benar.

Nabi Muhammad Saw bersabda : “ Aldin al-muamalah artinya agama adalah pergaulan dengan sesama, atau “Al-din al Nasihah” artinya agama adalah nasihat.

Dengan demikian, setiap ber-idul fitri kita harus sadar bahwa setiap orang dapat melakukan kesalahan dan bersedia untuk memberi dan menerima maaf. Fitrah manusia adalah merupakan perjanjian primordial mananusia dengan Tuhanya ketika masih dalam arwah. Sebagaimana diterangkan dalam Al quran QS.Al A‟RAF :172 yang artinya:

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka serya berfirman: Bukankah aku ini Tuhanmu ? Mereka menjawab ; Betul engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi , kami lakukan yang demikian itu agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan ; Sesungguhnya kami Bani Adam adalah orang –orang yang lengah terhadap keesaan Tuhan.”

Allahu Akbar 3 x Walillahil-hamdu
Fitrah manusia akan terasa manakala kita dapat memberi kesempatan kepada nurani kita untuk berdialog dengan Sang Pencipta, dan tumbuh kesadaran akan betapa lemahnya manusia di hadapanya.

Sayangnya, karena berbagai kesibukan, kesalahan dan bahkan dosa-dosa yang kita lakukan, menyebabkan fitrah tersebut terkontaminasi dan terabaikan, sehingga manusia sering di kuasai dan diperbudak oleh hawa nafsunya.

Oleh karena itu melalui puasa nafsu manusia akan terkontrol, untuk menuju kebaikan yang pada giliranya manusia akan bertindak sesuai fitrahnya, yakni berbuat baik sesama manusia, salingmenyayangi, saling mengasihi, dermawan dan tanggung jawab.

Keberhasilan Puasa seseorang akan di lihat dari dua hal Yaitu :

1. Berpegang pada tali Allah SWT (hablum minallah) sebagaimana dalam al-quran
“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya dirinya mereka ingat Allaah SWT atau memohon ampun terhadap dosadosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dan selain dari pada Allah ? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejianya itu , sedang mereka mengetahui” (QS: Ali Imran:135).

2. Hubungan sesama manusia (Hablum minannas) sebagaimana dalam Al quran (QS Ali-Imran:134).

Artinya: “Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang.Allah menyukai orang-orang yang berhsil berbuat kebajikan.”

Dalam ayat ini memberi pengertian bahwa orang yang puasanya berhasil dapat meningkat derajatnya dan menjadi orang yang muttaqin apabila :

1. Ia suka membelanjakan hartanya untuk kemaslahatan umat.

2. Dapat menahan amarahnya sesama manusia, serta mudah memaafkan kesalahan orang lain dan mau mengakui kesalahanya apabila keliru dan mau mohon maaf.

3. Orang yang selalu berbuat kebajikan akan dikasihi oleh Allah. Oleh karena itu, agar puasa kita yang sudah kita laksanakan dapat bermanfaat harus memperhatikan ketiga hal tersebut. Melalui idul fitri ini jadikanlah momentum untuk membuka lembaran sejarah baru saling memaafkan di antara kita, rasa kasih sayang kita wujudkan dengan silaturrahmi.

Wallhu a’lamu bi Ash-Shawabi

Khutbah disampaikan oleh:
Dr. H. Multazam Ahmad, MA
Dosen Pascasarjana Unnes, Sekretaris Majlis Ulama Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Ketua Takmir Masjid Islamic Centre dan Masjid Raya Baiturrahman Jawa Tengah. Jatengdaily.com-St

Written by Jatengdaily.com

Arus Mudik Idul Fitri 2024, Konsumsi BBM Gasoline Tol Trans Jawa Ruas Jateng Naik 334%

Polres Demak Bagikan 2,9 Ton Beras Zakat Fitrah