SEMARANG (Jatengdaily.com) – Pengurus Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) berkunjung ke Tiongkok atas undangan Pemerintah Tiongkok melalui Konjen Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Surabaya pada 18 hingga 24 Mei 2024. Kunjungan balasan PP MAJT ini setelah pada bulan Maret 2024 lalu, MAJT menawarkan kerja sama dengan pemerintah China pada saat Konsul Jenderal China Xu Yong berkunjung ke MAJT yang diterima oleh penasihat MAJT, KH Ali Mufiz.
Selama enam hari pengurus MAJT berkesempatan mengunjungi sejumlah wilayah di Tiongkok, di antaranya Kebun Binatang Panda (Chengdu), Provinsi Sichuan serta Masjid Baida yang menjadi masjid tertua di Kota Urumqi, Provinsi Xinjiang, dan sejumlah wi;ayah lainnya.
Delegasi MAJT tersebut meliputi Ketua PP MAJT Prof Dr KH Noor Achmad, MA, Sekretaris MAJT KH Muhyiddin, Ketua Bidang Ketakmiran MAJT KH Hanief Ismail, dan Sekretaris bidang hubungan antarlembaga/direktur pesantren MAJT, Dr M Syaifudin, MA.
Ketua PP MAJT Prof Dr KH Noor Achmad, MA mengatakan kunjungan di kebun binatang panda untuk melihat penataan kawasan wisata. Sementara kunjungan di Masjid Baida, Kota Urumqi, Provinsi Xinjiang terkait perkembangan Islam di sana dengan pengurus masjid.
Selain itu, pengurus MAJT juga berkunjung ke Sekolah Seni Xinjiang melihat percampuran seni Timur Tengah dan Tiongkok. “Di Urumqi, Provinsi Xianjiang ada 300 masjid, sementara di seluruh Propinsi Xinjiang ada 10 ribu lebih masjid serta puluhan pesantren di sana,” kata Prof Noor Achmad di MAJT, Minggu (2/6/2024).
Prof Noor menambahkan, rombongan pengurus MAJT juga berkesempatan mengunjungi Museum Muqam Xinjiang untuk melihat salah satu alat musik tertua. Selanjutnya rombongan berkunjung ke miniatur Smart Village untuk melihat kehidupan masyarakat biasa Xinjiang yang dikelola secara modern.

“Metode yang digunakan ialah memanfaatkan potensi dan kebutuhan masyarakat sendiri sekaligus penataan manajemen pengelolaannya,” katanya.
Kemudian berkunjung ke bazar internasional Urumqi yang menjajakan segala hasil karya produktif masyarakat. Di sana para pengurus MAJT ini juga mengunjungi Perguruan Tinggi Agama Islam, dan perusahaan produksi pakan ternak.
“Kami segenap pengelola MAJT, khususnya rombongan menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya atas undangan kerja sama yang sudah terjalin selama ini di antara kedua belah pihak,” terangnya.
Menurut Prof Noor, Pemerintah Tiongkok melindungi setiap warganya baik yang beragama maupun yang tidak beragama, sesuai dengan konstitusi negara.Selain itu negara memperhatikan bahkan membiayai kebutuhan umat Islam seperti dana operasional masjid Baida. Negara memperhatikan dengan sangat baik peninggalan budaya Islam, seperti kesenian Muqam.
“Hal ini terbukti dengan diraihnya pengakuan dari UNESCO. Kegiatan keagamaan (Islam) berjalan dengan baik di Xinjiang. Puluhan ribu masjid berdiri di sana,” terangnya.
Prof Noor menilai Pemerintah Tiongkok juga memperhatikan pendidikan keagamaan Islam. Terbukti, salah satu perguruan tinggi di Xinjiang (Institut Islam Xinjiang) yang rombongan kunjungi berupa bangunan yang megah, luas, bersih dan rapi yang berdiri di areal seluas 10 Hektar.
“Ini merupakan kampus baru dengan biaya pembangunan 279 juta Yuan. Kurikulum, pengajaran di Institut Islam Xinjiang sama persis yang ada di Indonesia, bahkan di belahan bumi lainnya yang mengikuti ajaran ahlussunah wal jamaah,” ujarnya.
Beberapa disiplin ilmu yang dipelajari, seperti fiqih, tafsir, hadis, gramatika Arab (nahwu – shorof), tarikh, ekonomi dan hukum.Prof Noor mengatakan, Rektor IIX Syekh Abdul Raqieb Tumniyaz merupakan alumni universitas Al-Azhar Kairo Mesir yang dalam pemaparannya menegaskan bahwa Islam yang diajarkan di kampus ialah moderat dan inklusif.
Selain itu fasilitas yang ada di IIX sangat bagus, baik di kampusnya maupun pesantrennya. “Perpustakaan cukup lengkap. Kebanyakan berupa buku-buku yang ditulis oleh ulama setempat juga ada buku-buku berbahasa Arab,” imbuhnya.
Penasihat MAJT, KH Ali Mufiz menambahkan, MAJT selama ini menjadi satu-satunya masjid di Indonesia yang menjalin kerja sama dengan China. “Rektor Institut Islam Xinjiang Syekh Abdul Raqieb Tumniyaz merupakan alumnus Al Azhar Kairo, yang dalam pemaparannya menegaskan Islam moderat dan inklusif,” katanya.
Komunitas muslim Xinjiang juga mengutarakan keinginan kerja sama di bidang sosial dan budaya, antara lain, belajar bagaimana MAJT bisa berperan dalam menjaga kerukunan umat beragama. St