Stunting Berpotensi Muncul Pasca ASI Eksklusif

Bupati Demak dr Hj Eisti'anah SE saat mengukuhkan Kakak Asuh Anak Stunting, yang bertugas mendukung upaya percepatan penurunan stunting. Foto : sari jati

DEMAK (Jatengdaily.com) – Kasus stunting berpotensi terjadi pasca lepas dari ASI eksklusif. Yakni ketika ibu salah memilih bahan atau salah cara mengolah makanan pendamping ASI bagi bayinya.

Demikian disampaikan Kepala Perwakilan BKKBN Jateng Eka Sulistya Ediningsih, ada acara Rembug Stunting Tingkat Kabupaten Demak 2024, Kamis (07/03/2024). Maka itu dihimbaunya pendampingan melekat perlu dilakukan oleh tim pendamping keluarga terhadap ibu-ibu yang tengah memiliki bayi dan memberikan ASI eksklusif.

“Karena 1000 hari pertama anak adalah masa yang harus benar-benar dijaga keterpenuhan gizinya. Sehingga terhindar dari stunting,” ujarnya.

Melihat usaha keras tim konvergensi upaya percepatan penurunan stunting Kabupaten Demak, Eka optimis, hasil pengukuran angka stunting di Kota Wali tahun 2023 turun. Terlebih Demak seringkali menjadi kabupaten rujukan setelah Kota Semarang, terkait percepatan penurunan stunting.

“Berapapun angkanya (hasil penilaian) di tahun 2023, (upaya percepatan penurunan stunting) harus tetap jalan bahkan berlari. Karena waktunya lima bulan lagi tepatnya di bulan Agustus, angka stunting akan diukur lagi oleh SGI. Demak konvergensinya kuat, mestinya Demak angka stunting turun,” yakin Eka.

Di sisi lain, Bupati Demak dr Hj Eisti’anah SE menuturkan, stunting merupakan tantangan serius yang dihadapi masyarakat. Sebab tidak hanya terkendala pertumbuhan fisiknya, namun balita stunting berpotensi mengalami perkembangan otak dan keterlambatan prestasi belajar. Maka itu lah perlu penanganan berkelanjutan.

“Sebelumnya stunting di Demak memang ada tren naik. Namun berkat keterlibatan banyak pihak melalui konvergensi, tahun 2022 terjadi penurunan signifikan dari 25 persen menjadi 16 persen. Capaian luar biasa itu diharapkan berlanjut pada 2023, yang hingga kini belum keluar angka penilaiannya,” kata bupati.

Bahkan tak berhenti hingga di angka 16 persen, percepatan penurunan stunting terus dioptimalkan oleh tim di bawah koordinasi langsung Wabup Demak KH Ali Makhsun. Termasuk mengalokasikan Rp 27 miliar melalui dana desa (DD) untuk penanganan stunting, khsusunya desa-desa lokus stunting.

Hal sama disampaikan Wabup KH Ali Makhsun yang juga Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting Kabupaten Demak. Menurutnya sejak diterbitkan SK TPPS Kabupaten Demak harus langsung tancap gas laksanakan plan of action konvergensi. Sebab angka stunting hanya bisa diturunkan secara keroyokan atau konvergensi.

“Mudah-mudahan pemberian bantuan MPASI, PMT dan bantuan jamban sehat mampu dorong percepatan penurunan angka stunting. Mudah-mudahan berhasil meraih angka stunting 1 digit saja,” tandasnya.

Turut hadir jajaran Forkompimda Kabupaten Demak. Di samping juga Sekda H Akhmad Sugiharto ST MT berserta kepala OPD juga camat, khususnya yang terdapat desa lokus stunting. Serta Kepala Dinpermasdes P2KB Kabupaten Demak H Taufik Rifai, selalu leading sektor penyelenggara rembug stunting.  rie-St

 

 

Share This Article
Exit mobile version