Vitalitas Karya Sastra; Energi Tak Terbatas bagi Perempuan Pengarang

Oleh: Nia Samsihono

Vitalitas adalah suatu konsep yang meliputi kekuatan, energi, dan keberlangsungan hidup yang optimal. Konsep ini tidak hanya mencakup aspek fisik, tetapi juga mental, emosional, dan spiritual individu. Dalam era modern ini, di tengah tekanan dan tuntutan kehidupan yang semakin kompleks, vitalitas menjadi semakin penting sebagai fondasi bagi kesejahteraan dan kebahagiaan seseorang.

Apa kaitannya vitalitas dengan karya sastra? Karya sastra, dengan segala keajaibannya, tidak hanya membingkai cerita, melainkan juga menciptakan dunia yang memikat di dalamnya. Inilah mengapa karya sastra memiliki peran yang sangat vital dalam kehidupan seorang penulis. Karya sastra memberikan jalan bagi penulis untuk menjelajahi dunia imajinasi yang disajikan dalam karya sastra.

Di dalam karya sastra telah dihidupkan karakter, diciptakan tempat, dan dibangun alur cerita yang menggugah imajinasi pembaca. Batas-batas realitas terlihat luas  dan seperti bebas dari keterbatasan dunia nyata. Pada karya sastra terdapat pesan dan nilai yang tersirat di dalamnya. Karya sastra menggambarkan penyampaian pemikiran, ide, dan pandangan dunia dengan cara yang kreatif dan mendalam.

Melalui cerita, karya sastra dapat menginspirasi, menghibur, atau memprovokasi pembaca untuk berpikir lebih dalam tentang berbagai isu yang diangkat. Bagi penulis, vitalitas karya sastra bukanlah sekadar pertanda keberhasilan, melainkan juga sebuah energi yang mengalir tak terbatas.

Karya sastra tidak hanya memengaruhi pembaca, tetapi juga menciptakan dampak yang mendalam pada penulisnya sendiri. Proses menulis karya sastra memperluas horison kreativitas penulis, memungkinkan mereka untuk terus bereksperimen dengan berbagai gaya, teknik, dan tema. Ini membantu penulis untuk terus berkembang dan menemukan suara mereka sendiri dalam dunia sastra.

Baca Juga: Pengendalian Banjir di Semarang, Pemkot Siap Libatkan Pakar dan Akademisi

Salah satu aspek paling penting dari vitalitas karya sastra adalah kemampuannya untuk membangun koneksi emosional antara penulis dan pembaca. Melalui kata-kata, penulis dapat mengungkapkan perasaan yang mendalam, membagikan pengalaman pribadi, dan menciptakan ikatan yang kuat dengan pembaca. Ini membuka jalan bagi pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri dan dunia di sekitar kita.

Ada apa dengan karya-karya NH. Dini? Siapakah Nh. Dini yang sepanjang hidupnya–82 tahun–setidaknya melahirkan 19 novel itu? Nurhayati Sri Hardini atau yang biasa dikenal sebagai Nh. Dini adalah sastrawan, novelis, dan feminis berkebangsaan Indonesia yang lahir pada tanggal 29 Februari 1936  dan meninggal pada 4 Desember 2018. Tanggal kelahirannya spesial karena hanya ada empat tahun sekali di bulan Februari.

Tanggal 29 Februari ditambahkan ke kalender untuk menjaga sinkronisasi kalender Gregorian dengan tahun-tahun astronomi, yang membutuhkan sekitar 365,24 hari untuk satu putaran penuh mengelilingi matahari. Dengan menambahkan hari ekstra setiap empat tahun, kita memastikan bahwa kalender kita tetap akurat dalam menyesuaikan siklus tahunan alamiah. Jadi, di tahun 2024 ini disebut sebagai tahun kabisat. Tanggal 29 Februari hanya muncul empat tahun sekali.

Nh Dini dilahirkan dari pasangan RM. Saljowidjojo, seorang pegawai Perusahaan Jawatan Kereta Api dan Kusaminah. Ia anak bungsu dari lima bersaudara (Heratih, Muhamad Nugroho, Siti Maryam, Teguh Asmar, dan Nurhayati Sri Hardini).  Nh. Dini meninggal dunia tanggal 4 Desember 2018 pada usia 82 tahun karena kecelakaan lalu lintas di jalan tol Tembalang, Semarang. Jenazahnya dikremasi di Ambarawa pada 5 Desember 2018.

Bagaimana dan apakah yang menyebabkan karya-karyanya dapat membangun koneksi emosional antara penulis dan pembaca, khususnya perempuan pengarang Indonesia? Benar sekali bahwa karya-karya NH. Dini memengaruhi perempuan pengarang Indonesia. NH. Dini adalah salah satu perempuan pengarang dan penulis Indonesia yang memiliki pengaruh yang cukup besar dalam dunia sastra Indonesia.

Baca Juga: Indonesia dan Selandia Baru Terus Upayakan Pembebasan Pilot Philip Mark Mehrtens

Karya-karyanya tidak hanya memberikan inspirasi bagi perempuan pengarang, tetapi juga memiliki manfaat yang signifikan bagi perempuan secara umum. Karya-karya NH. Dini memberikan inspirasi kepada perempuan untuk mengekspresikan pemikiran dan pengalaman mereka melalui tulisan. Melalui karakter-karakter yang kuat dan cerita-cerita yang penuh dengan konflik, NH. Dini mendorong perempuan pengarang untuk percaya pada kemampuan mereka dalam menulis dan berbagi cerita mereka sendiri.

Karya-karya dari Nh. Dini yang dibukukan kebanyakan mengeksplorasi tema-tema tentang identitas perempuan, peran mereka dalam masyarakat, serta tantangan dan konflik yang mereka hadapi. Hal ini membantu perempuan pengarang untuk memahami lebih dalam tentang pengalaman kolektif perempuan dan merasa terhubung dengan cerita-cerita yang relevan dengan kehidupan sendiri. Karya NH. Dini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga dapat menjadi alat pemberdayaan bagi perempuan.

Melalui karakter-karakter yang menginspirasi dan cerita-cerita yang memotivasi, karya-karyanya mendorong perempuan untuk memperjuangkan hak-hak mereka, mengejar impian mereka, dan berani menghadapi rintangan yang menghadang dan menuliskannya sendiri sebagai sebuah karya yang dapat dibagikan kepada masyarakat sebagai karya perempuan.

Kita dapat melihat novel Nh. Dini, “Hati yang Damai”, diterbitkan pada tahun 1961 di Bukittinggi lalu mulai cetakan kedua pada tahun 1976 Jalan Kramat II No. 31A, Jakata Pusat. Pada tahun 60-an, NH. Dini sudah menerbitkan karya tentang kehidupan dengan bahasa dan pemikiran perempuan yang gamblang, terang benderang tentang rasa dan perilaku yang dialami perempuan.

Bukannya sekitar tahun itu perempuan dianggap masih berkutat di wilayah domestik menjadi bayang-bayang laki-laki atau salah satu hiasan yang dimiliki laki-laki. (konco wingking, nyonyahku, bojoku, dan lain sebagainya yang menggambarkan identitas “milik”). Dalam novel ini, NH. Dini juga menggambarkan berbagai aspek kehidupan masyarakat dan budaya Indonesia. Melalui konflik-konflik yang dihadapi oleh tokoh-tokohnya, ia menyelipkan kritik sosial terhadap berbagai isu seperti perbedaan kelas sosial, gender, dan politik.

Bagi laki-laki, seperti Jakob Sumardjo, novel Hati yang Damai (1961) menurutnya berkisah tentang penyelewengan seorang istri, latarnya penghidupan sebuah keluarga penerbang, gaya ceritanya naratif oleh orang pertama (aku). Imaginasinya kaya dalam bentuk realisme dengan catatan yang sudah dapat ditebak cerita seperti apa yang disuguhkan oleh Dini.

Biasanya seorang istri yang tidak setia selalu ditempatkan pada kondisi yang memungkinkannya, misalnya si istri ternyata bersuami seorang pelaut atau si suami sibuk mengurus pekerjaan atau si suami impoten. Suatu dasar yang dengan mudah dicerna logika.  Jakob Sumardjo menyatakan bahwa akhir cerita ternyata berbeda pemikiran, Nh. Dini mengisahkan bahwa seorang istri sadar bahwa ia tidak setia dan memperbaiki perilakunya. Ini di luar dugaan dan mengejutkan.

Sementara, Arwan Tuti Artha dalam artikelnya “Ketelitian Bertutur dan Seleksi yang Ketat” menyatakan bahwa kelebihan Dini adalah ketelitian dalam bertutur dan mencoba selalu tidak lepas dari tema percintaan, kehidupan rumah tangga, dan pembentukan ‘organ’ keluarga. Perkawinan atas dasar cinta sepihak dapatkah membawa kebahagiaan dan kerukunan? Ternyata bisa. Mungkin ini klise “Tresna jalaran saka Kulina”. (Tokoh: Dati, Sidik, Nardi, Wija).

Demikian juga pada novel-novelnya yang lain, seperti Pada Sebuah Kapal  (1972) bercerita tentang bagaimana perempuan menggerakkan hati dan dirinya sendiri sebagai sosok manusia ciptaan Tuhan yang sama dengan ciptaan yang lain (feminis). Gaya penulisannya realis tanpa unsur sensasi. Hingga Sapardi Djoko Damono yang berkomentar tentangnya dalam Indonesia Abad XXI di Tengah Kepungan Perubahan Global, “Dini telah menggoyang-goyang perahu yang berlayar tenang, yang selama ini kita naiki.

Ia telah mengajak kita untuk memahami, bahkan menghayati, hakikat keperempuanan yang dalam novel-novel sebelumnya banyak ditampilkan sebagai konsep. Dalam novel Pada Sebuah Kapal dan beberapa cerita pendeknya, Dini telah menciptakan perempuan yang sama sekali tidak mau menoleh ke belakang, tidak hendak diikat oleh aturan yang mengekang kebebasan individu, yang menyadari kualitasnya sendiri dan dengan itu memandang ke depan.” (Tokoh: Sri, Saputro, Carl, Charles, Michel).

Novel berikutnya, yaitu  La Barka (1975) mengisahkan beberapa perempuan yang mengungkapkan perasaan-perasaan wanita dari sudut pandang wanita. Bagi Nh. Dini tidak ada rahasia antara lelaki dan perempuan. Keduanya diciptakan Tuhan untuk saling melengkapi. Satu dan lainnya diciptakan untuk menjadi teman masing-masing. Latarnya di Prancis Selatan di sebuah rumah itu bernama La Barka dekat dusun Trans-en-Provence.

Novel La Barka mengisahkan beberapa kehidupan perkawinan yang hancur dan mengharapkan penyembuhan trauma perkawinan. Subagio Sastrowardoyo (1989) dalam bukunya yang berjudul Pengarang Modern sebagai Manusia Perbatasan berpendapat bahwa novel La Barka lahir dari kesukaan serta kecakapan bergunjing. Corak realisme khas yang hendak dicapai Dini adalah dengan mempergunakan alur cerita yang tidak terarah kepada tujuan atau simpulan pikiran yang pokok, seperti hidup yang nyata, yang mengalir dari berbagai kejadian pada masa lalu dan berkembang ke hari depan yang tidak kita ketahui bagaimana kesudahannya.

Novel Keberangkatan (1977) mengisahkan gadis Indo bernama Elisabeth yang jatuh cinta pada tanah air dan bangsa Indonesia. Dengan demikian, ketika terjadi aksi anti Belanda dan antibarat dalam masa pemerintahan Sukarno, Elisabeth Frissart tidak mau ikut keluarganya pindah ke negeri Belanda. Ia telah menjalin cinta dengan Sukoharjito, seorang pemuda dari Pulau Jawa, dan ingin setia kepadanya.

Elisabeth benar-benar mendambakan dan menggantungkan dirinya kepada pemuda itu. Namun, usahanya itu sia-sia. Ia menjadi putus asa ketika mengetahui kekasihnya harus bertanggung jawab menikahi wanita yang dihamilinya. Selain itu, keberadaan Elisabeth yang tidak jelas orang tuanya pun menghambat hubungan cintanya dengan Sukoharjito yang masih memperhitungkan bibit, bebet, dan bobot untuk mencari jodohnya.

Peristiwa itu tampak mengharukan ketika Elisabeth berusaha tabah dan datang pada upacara perkawinan kekasihnya dan menyerahkan cincin kepada kekasihnya. Elisabeth sedih dan kecewa akan kelemahan dirinya. Ibunya merupakan pezinah sehingga ia merasa risau menentukan siapa ayahnya. Ia berusaha mencari ayah kandungnya dan berkat petunjuk kakak perempuannya ia berhasil menemukan dan merawat ayahnya yang sakit hingga kesehatannya pulih kembali.

Namun, ayahnya yang pelukis miskin dan pemabuk itu tidak mau merengkuh anaknya dengan tulus. Laki-laki tua itu membiarkan Elisabeth yang meminta izin untuk kembali ke Belanda sehingga terpaksa gadis itu mengayunkan kakinya, “berangkat” ke negeri Belanda ke keluarga ibunya.

Nh Dini selalu memasukkan pikiran-pikirannya lewat pelaku novelnya, tingkah laku dan responsnya terhadap situasi atau reaksinya. Dini banyak menyatakan pikiran-pikiran mengenai hak wanita. Adapun sumber cerita yang diolah penulis adalah kehidupan yang disaksikan di sekitarnya sehingga menghadirkan kisah-kisah menarik dan akrab dengan dirinya. Nh. Dini menggarap latar cerita-ceritanya dengan suatu ketelitian yang mengagumkan.

Daya observasinya kuat. Teknik bercerita dikuasainya sehingga cerita itu mengalir dengan bahasa yang sederhana dan sangat mudah dicerna pembaca awam. Tokoh perempuan sebagai sentral dalam tulisan-tulisan Nh. Dini karena ia ingin agar nasib perempuan dan haknya setidak-tidaknya sama dengan lelaki. Nh. Dini merasa sedih melihat perlakuan laki-laki terhadap perempuan di Indonesia yang masyarakatnya didominasi oleh laki-laki.  Nh. Dini ingin agar kaum lelaki memahami apa yang bergolak dalam pikiran perempuan, misalnya mengenai emansipasi.

Pada novel Namaku Hiroko, Nh. Dini bercerita tentang kehidupan seorang gadis bernama Hiroko berasal dari desa Kyusu yang mencari nafkah di kota. Hiroko berteman dengan Suprapto yang sedang belajar di Jepang dan Hiroko sempat berkunjung ke Indonesia. Pada akhirnya Hiroko bertemu dengan laki-laki Jepang idamannya. Yoshida adalah suami sahabat Hiroko yang bernama Natsuko. Hiroko menjadi perempuan simpanan Yoshida.

Di mata Hiroko, Yoshida  merupakan sosok seorang lelaki yang di idaman-idamkan karena tampan, gagah, dan kaya. Seiring dengan berjalannya waktu hubungan Hiroko dengan Yoshida semakin seius tanpa menghiraukan nilai-nilai agama, moral, dan persahabatan antara Hiroko dengan Natsuko. Mereka menjalin hubungan layaknya suami-istri, bahkan sebagai wujud cintanya, Yoshida membelikan rumah untuk Hiroko. Kendati menyandang predikat perempuan simpanan, Hiroko tidak peduli karena mereka saling mencinta, saling membutuhkan. Mereka hidup bahagia dengan lahirnya seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki hasil buah cinta mereka.

Apa vitalitas karya sastra dari Nh. Dini itu? Apakah akan memberikan energi tak terbatas bagi para perempuan pengarang? Ketika membaca karya-karya Nh. Dini, ada benang merah yang menguatkan, membangkitkan energi, dan menjaga keberlangsungan hidup yang optimal. Perempuan dapat memperbaiki nasib dan menyuarakan haknya setidak-tidaknya sama dengan lelaki. Perlakuan laki-laki terhadap perempuan di Indonesia yang masyarakatnya didominasi oleh laki-laki belum ideal.

Baca Juga: BPJS Kesehatan Jadi Syarat Pembuatan SKCK Dimulai 1 Maret 2024, Polda Jateng Salah Satu Tempat Uji Coba

Bagi pengarang perempuan hal mengenai nasib dan hak biarlah berjalan mengalir begitu saja. Banyak yang dapat dijadikan energi positif dari karya-karya Nh. Dini. Lihatlah kosakata yang digunakan oleh Nh. Dini sangat menarik untuk direvitalisasi. Dini menggunakan kosakata lokal, tentang makanan, tentang alam, tentang aktivitas lingkungan dituliskan dalam novelnya. Lihatlah kata: dingklik, sunggaran, ndhuk, dhugdher, keeling, warak, tenggok, bengkung, sayur bobor, digeblegi, ditebaskan, genthong, keba, kenceng, kendhit, kerikan, mata erok, mendangir dan banyak kata lainnya yang jika kata-kata yang ada sekarang kita tulis menjadi cerita akan menjadi semacam rekaman Sejarah kehidupan kelak.

Nh. Dini, lahir pada tanggal 29 Februari 1936 di Semarang. Setamat SMA bagian Sastra (1965), ia mengikuti Kursus Pramugari Darat GIA Jakarta (1956), dan terakhir mengikuti kursus B-I Jurusan Sejarah (1957). Tahun 1957-1960, ia nekerja di GIA Kemayoran, Jakarta. Setelah menikah dengan Yves Coffin, berturut-turut ia bermukim di Jepang, Perancis, Amerika Serikat, dan sejak 1980 ia menetap di Jakarta dan Semarang.

Karyanya: Dua Dunia (1956), Hati yang Damai (1961), La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977), Keberangkatan (1977), Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1979), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979), Sekayu (1981), Amir Hamzah Pangeran dari Seberang (1981), Kuncup Berseri (1982), Tueleries (1982), Segi dan Garis (1983), dan Orang-Orang Tran (1984), terjemahanny: Sampar (Karya Albert Camus, La Peste; 1985)

Sepanjang kariernya, N.H. Dini mendapat beberapa penghargaan di antaranya Hadiah Seni untuk Sastra dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1989), Bhakti Upapradana Bidang Sastra dari Pemerintah daerah Jawa Tengah (1991), SEA Write Award di bidang sastra dari Pemerintah Thailand (2003), Hadiah Francophonie (2008), Achmad Bakrie Award (2011), dan Lifetime Achievement Award dari Ubud Writers and Readers Festival 2017.

Sumber: https://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Hati_yang_Damai | Ensiklopedia Sastra Indonesia – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

*Perempuan pengarang dan pengarang perempuan adalah dua istilah yang sering kali digunakan secara bergantian, tetapi sebenarnya memiliki perbedaan yang penting dalam konteks penulisan dan representasi perempuan dalam dunia sastra.

1.Perempuan Pengarang: Istilah ini merujuk kepada perempuan yang menulis, menciptakan, atau menghasilkan karya-karya sastra, tanpa penekanan khusus pada gender mereka. Dalam penggunaan yang lebih umum, “pengarang” sering kali dianggap netral secara gender, dan bisa merujuk kepada siapa saja yang menulis karya-karya tertentu, baik pria maupun perempuan.

2.Pengarang Perempuan: Istilah ini lebih menekankan pada gender penulis, yaitu perempuan yang menulis atau menciptakan karya sastra. Penggunaan istilah ini cenderung menyadari dan menekankan pentingnya representasi perempuan dalam dunia sastra, serta keunikan perspektif dan pengalaman yang mungkin dibawa oleh penulis perempuan.

Perbedaan utama antara keduanya adalah dalam penekanan pada gender penulis. “Perempuan pengarang” lebih netral dan dapat merujuk kepada siapa saja tanpa mempertimbangkan gender, sementara “pengarang perempuan” menyoroti spesifik bahwa penulis tersebut adalah perempuan dan kadang-kadang menekankan pentingnya perspektif gender dalam karya sastra.

Penting untuk diingat bahwa keduanya memainkan peran yang signifikan dalam memperkaya dan memperluas keragaman dalam sastra. Pengakuan terhadap karya-karya yang dihasilkan oleh perempuan pengarang maupun pengarang perempuan merupakan langkah penting dalam upaya memperluas wawasan, merayakan keragaman, dan mendorong inklusi dalam dunia sastra.

Nia Samsihono adalah Ketua Umum Satupena DKI Jakarta. Jatengdaily.com-st

Share This Article
Exit mobile version