Awal Ramadan dan Idul Fitri Diperkirakan Tidak Serentak

Ketua Umum Asosiasi Ahli Falak Asia Tenggara Prof Dr KH Ahmad Izzuddin MAg, Ketua Umum MUI sekaligus Ketua PCNU Kabupaten Brebes KH Sholahuddin Masruri dan para narasumber foto bersama dengan peserta Pelatihan Digitalisasi Ilmu Falak Berbasis AI dan WhatsApp Bot di Ponpes AlHikmah2,Benda, Sirampog, Brebes (28/9). Foto:dok

BREBES (Jatengdaily.com) – Awal Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha 2026 diperkirakan akan berlangsung tidak serentak.

Hal itu disampaikan Wakil Sekretaris Lembaga Falak Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (FPBNU), Kiai Ma’rufin Sudibyo, saat membuka Pelatihan Digitalisasi Ilmu Falak Berbasis WhatsApp Bot di Pondok Pesantren Al-Hikmah 2, Benda, Sirampog, Kabupaten Brebes, Minggu (28/9).

Acara pembukaan dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Ketua PCNU Kabupaten Brebes sekaligus Pengasuh Ponpes Al-Hikmah 2 KH Sholahuddin Masruri, Ketua Umum Asosiasi Ahli Falak Asia Tenggara Prof Dr KH Ahmad Izzuddin MAg, Ketua Lembaga Falakiyah PWNU Jateng Dr KH M Basthoni, Bendahara MUI Brebes Dr Abdul Haris, serta Kabag Kesra Brebes Faiq Nur Fuadi.

Kiai Ma’rufin mengungkapkan saat ini jumlah ahli falak di lingkungan NU sangat terbatas.

“Faktanya, ahli falak adalah spesies langka di NU, dengan jumlah kurang dari seribu orang dari total 140 juta warga Nahdliyin,” ujarnya.

Ia menekankan, perbedaan penetapan awal Ramadan maupun hari raya sebaiknya disikapi dengan arif.

“Perbedaan adalah rahmat, namun perlu penjelasan agar masyarakat, khususnya warga NU, dapat menyikapinya secara bijak,” imbuhnya.

Pelatihan yang digelar PWNU Jateng bersama PCNU Brebes pada 27–28 September 2025 itu diikuti 150 peserta dari berbagai pesantren dan kalangan ahli falak.

Pengasuh Ponpes Al-Hikmah 2, KH Sholahuddin Masruri, menegaskan pentingnya kaderisasi ahli falak di kalangan santri.

“Ilmu falak, faraid (ilmu waris), maupun arudh (ilmu sastra Arab) mulai langka. Pesantren harus menjaga tradisi keilmuan ini agar tetap hidup,” katanya.

Ketua Umum Asosiasi Astronomi Islam Asia Tenggara, Prof Dr KH Ahmad Izzuddin, menambahkan, sains harus menjadi penopang ibadah, bukan sebaliknya. Ia juga menyoroti gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang dinilainya bertentangan dengan prinsip ibadah.

“Konsep KHGT mengabaikan dimensi ruang dan waktu yang nyata. Kalender itu tidak sejalan dengan esensi ibadah umat Islam,” ujarnya.

Guru besar ilmu falak pertama di Indonesia itu juga mengingatkan peran pesantren dalam sejarah pengembangan ilmu falak.

Ia menyinggung kiprah KH Masruri Abdul Mugni dari Ponpes Al-Hikmah 2 Brebes yang menjadi pelopor pemanfaatan alat falak modern sekaligus penggerak lahirnya program studi Ilmu Falak di UIN Walisongo Semarang.

Ketua Lembaga Falakiyah PWNU Jateng, Dr KH Muhammad Basthoni, menekankan bahwa pelatihan ini adalah upaya menghidupkan kembali semangat ilmu falak di pesantren.

Menurutnya, penggunaan tema digitalisasi berbasis AI dan WhatsApp bot dipilih karena generasi kini lebih akrab mencari informasi melalui teknologi ketimbang kitab.

“AI saat ini belum sempurna. Ia harus diajari para pakar agar mampu memberi jawaban yang akurat sesuai kaidah,” jelasnya. St

Share This Article
Exit mobile version