SEMARANG (Jatengdaily.com) – Di sebuah ruangan sederhana di sudut kampus Universitas Semarang (USM), suara obeng, kabel, dan roda kecil beradu pelan. Di sanalah mimpi dua mahasiswa muda, Rafi Hana Prasetyo dan Veha Syafrizal Arya Putra, mulai dirakit.
Dari rangkaian sensor hingga baris-baris kode program, mereka merajut harapan yang kini membawa mereka menjejakkan kaki di Korea Selatan.
Perjalanan itu bukan datang tiba-tiba. Semuanya bermula dari keberhasilan mereka di FIRA Indonesia Open 2025 di Solo. Di ajang itu, mereka tak hanya menang, tetapi juga mencuri perhatian hingga mendapat tiket menuju FIRA International Open — panggung robotik dunia yang diikuti tim-tim tangguh dari Rusia, Uruguay, Iran, Malaysia, Taiwan, hingga Brasil.
Rafi, mahasiswa Sistem Informasi, dan Veha, mahasiswa Teknik Elektro, akan bertarung di kategori Autonomous Car Challenge. Sebuah lomba yang menuntut robot mobil bekerja cerdas tanpa campur tangan manusia.
“Ini kali pertama kami ikut lomba di tingkat dunia,” kata Rafi sambil tersenyum. “Jujur, kami belum banyak tahu kekuatan tim negara lain. Tapi kami akan berusaha sebaik mungkin. Apalagi, dari Indonesia saja, tim dari ITS sudah jadi lawan berat.”
Di balik semangat itu, ada cerita perjuangan yang jarang terlihat. Persiapan singkat, perbaikan robot yang kadang gagal di detik terakhir, hingga drama mengurus visa yang hampir membuat langkah mereka tersendat.
“Dukungan USM sangat besar. Pak Rektor dan tim Bidang Internasional bahkan ikut turun tangan. Semua pihak saling membantu, dan alhamdulillah kami bisa berangkat,“ ungkap La Ode Muhammad Idris, ST, MT, Pembina UKM Rocsu, yang setia mendampingi mereka sejak awal.
Kini, di tengah udara dingin Korea, Rafi dan Veha membawa bukan hanya robot ciptaan mereka, tapi juga harapan kampus, kota, dan negeri.
Mereka tahu, di arena nanti, kemenangan bukan sekadar soal podium, tapi juga tentang membuktikan bahwa mimpi dari sebuah bengkel kecil di Semarang bisa bersaing di mata dunia.st
