Oleh: Willa Morini Amiruddin
Mahasiswi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Unnes
GAYA hidup konsumtif terasa seperti menjadi tren baru di internet. Adanya platform e-commerce belakangan ini semakin mempermudah proses berbelanja secara online, ditambah lagi sekarang banyak content creator yang terafiliasi dengan sebuah platform kemudian narasi “barang barang yang wajib dibeli” mulai semakin marak di media sosial, ditambah lagi barang-barang murah dengan kualitas yang juga tidak kalah saing mulai menguasai pasar.
Tanpa disadari harga-harga murah dan mudah dijangkau itulah yang membuat kita semakin kehilangan kontrol atas berbelanja dan menaikkan frekuensi membeli secara terus menerus kemudian ini menjadi lingkaran setan untuk membangun kebiasaan berbelanja yang impulsif.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan Indonesia per April 2025 mencapai 1,95%, ini merupakan angka tertinggi dalam delapan bulan terakhir. Di lapangan, harga bahan-bahan pokok naik secara perlahan, menekan pengeluaran harian masyarakat. Namun kenaikan harga bahan pokok tidak sejalan dengan kenaikan pendapatan masyarakat.
Fenomena ini berdampak daya beli sebagian masyarakat Indonesia melemah karena mereka harus menghemat demi bertahan hidup. Ironisnya masih banyak masyarakat Indonesia yang tetap mempertahankan gaya konsumtifnya karena ego atau sebatas ingin mengikuti tren saja, dan tanpa melihat kebutuhan yang benar-benar harus terpenuhi. Seolah-olah kondisi ekonomi di Indonesia baik-baik saja.
Selain itu, gaya hidup konsumtif semakin didorong oleh kemudahan akses utang seperti paylater dan pinjaman online (pinjol) yang seringkali dipakai tanpa perhitungan matang. Akibatnya, tak sedikit yang akhirnya terjebak dalam lingkaran utang, menggunakan paylater seenaknya atau menjadikan pinjol sebagai solusi darurat untuk memenuhi gaya hidup yang tidak produktif.
Gaya hidup konsumtif bukan hanya berdampak buruk pada sebagian kelompok masyarakat yang memiliki pendapatan di bawah rata-rata, tetapi juga pada kestabilan harga, kekuatan daya beli masyarakat, dan kesehatan sistem keuangan nasional. Sekecil apa pun keputusan ekonomi yang kita ambil adalah bagian dari sistem yang lebih luas. Di tengah ekonomi yang semakin hari semakin tidak pasti, pengendalian diri dalam konsumsi bukan lagi pilihan, tetapi keharusan.Jatengdaily.com-st


